PEMALANG, iNews.id – Cerita mistis mewarnai proses pencarian Syafiq Ridha Ali Razan (18), pendaki remaja asal Magelang yang hilang di Gunung Slamet.
Di balik keberhasilan evakuasi, terselip cerita menyentuh sekaligus misterius dari seorang relawan lokal yang berhasil menemukan posisi jasad korban.
Maun, warga Desa Clekataan, Kecamatan Pulosari, Pemalang, merupakan salah satu relawan yang tak kenal lelah menyisir medan ekstrem Gunung Slamet. Bersama tim kecil beranggotakan tiga orang, Maun melakukan pencarian mandiri dengan membawa serta Himawan, rekan korban yang selamat untuk menunjukkan titik terakhir mereka berpisah.
Malam sebelum jasad Syafiq ditemukan, Maun mengaku mengalami kejadian yang sulit dinalar saat bermalam di puncak gunung. Di tengah kesunyian malam yang ekstrem, telinganya terusik oleh suara aneh yang berulang kali muncul.
"Saya mendengar suara seperti benda keras atau seng yang digesekkan ke dinding. Suaranya terus-menerus dan sangat mengganggu waktu istirahat kami," tutur Maun, Jumat (16/1/2026).
Seolah menjadi firasat, keesokan paginya Maun bersama dua rekannya, Sukri dan Basir, memutuskan untuk mengambil jalur yang tidak biasa. Mereka berinisiatif menyusuri jalur ke arah bawah, keluar dari rute pendakian utama.
Keputusan untuk menyimpang dari jalur utama membuahkan hasil. Dari kejauhan sekitar 300 hingga 500 meter, mata tajam Maun menangkap benda berwarna hitam yang mencurigakan di tengah vegetasi gunung. "Setelah kami dekati, ternyata benda itu adalah jasad Syafiq," ucapnya.
Penemuan tersebut segera dilaporkan ke posko utama. Proses evakuasi pun berlangsung dramatis selama 27 jam karena medan yang terjal dan cuaca yang tidak menentu.
Tim SAR gabungan dari Basarnas, BPBD, Wanadri, Mapala, hingga warga setempat bahu-membahu membawa jasad korban turun ke kaki gunung.
Dedikasi Maun dan timnya menjadi bukti nyata sisi kemanusiaan para relawan lokal. Tanpa pamrih, mereka menembus hutan rimba dan menghadapi suhu dingin yang membekukan demi memberikan kepastian bagi keluarga korban.
Jenazah Syafiq Ridha Ali Razan telah dimakamkan di kampung halamannya di Kota Magelang, Kamis (15/1/2026) malam. Kisah suara "seng bergesek" di puncak Slamet ini kini menjadi kenangan bagi Maun, sebuah isyarat alam yang menuntunnya mengakhiri pencarian panjang selama 17 hari tersebut.
Original Article




