Mengapa Perempuan Korban Child Grooming Sulit untuk Melawan?

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Isu child grooming saat ini ramai diperbincangkan, usai aktris Aurelie Moeremans membagikan pengalamannya kala remaja. Kisah yang diungkapkan lewat memoar bertajuk Broken Strings ini membuka mata masyarakat soal manipulasi dan eksploitasi orang dewasa terhadap anak di bawah umur.

Dukungan demi dukungan untuk Aurelie mengalir deras, dari netizen di berbagai platform media sosial hingga para selebriti ternama. Meski begitu, ada pula sejumlah netizen melontarkan pertanyaan yang cenderung menyalahkan Aurelie sebagai korban child grooming.

Salah satu pertanyaan yang sering dilemparkan—termasuk dalam kasus kekerasan seksual lainnya—adalah “Kenapa tidak melawan?” Menurut dua psikolog, jawabannya tidak sederhana.

Child Grooming didefinisikan sebagai tindak manipulasi psikologis yang dilakukan orang dewasa atau orang yang memiliki kuasa atas anak di bawah umur. Tindak manipulasi ini dilakukan dengan tujuan mengeksploitasi korban, terlebih eksploitasi dalam ranah seksual.

Menurut psikolog klinis Cinta Retsa Ferdiana, M.Psi., child grooming bukanlah tindakan yang terjadi satu kali, tetapi merupakan sebuah proses bertahap.

Manipulasi psikologis yang dilakukan pelaku kepada korban meliputi menciptakan rasa nyaman, menghujani korban dengan perhatian, menimbulkan rasa percaya terhadap pelaku, hingga membuat korban merasa istimewa. Dalam prosesnya, pelaku mengeksploitasi korban yang masih di bawah umur.

Lantas, mengapa korban cenderung “tidak bisa melawan” ketika dihadapkan dengan situasi itu? Psikolog anak dan remaja Anastasia Satriyo, M.Psi., menjelaskan, ini disebabkan oleh satu bagian otak korban yang belum berkembang.

“Otak remaja belum matang untuk melindungi diri secara strategis. Di usia 15–18 tahun, prefrontal cortex atau bagian otak untuk menilai risiko, membuat keputusan jangka panjang, dan berkata “tidak”, belum matang,” tulis Anastasia dalam unggahan di platform Threads. kumparanWOMAN telah mendapatkan izin untuk mengutip.

“Bahasa gampangnya, bagian otak untuk menilai bahaya dan berkata “tidak” belum matang. Emosi besar, tapi kemampuan melindungi diri belum kuat,” imbuh Anastasia.

Lebih lanjut, menurut Cinta, tindak manipulasi dan eksploitasi berulang bisa menyebabkan korban mengalami confusion attachment. Korban yang mengalami confusion attachment merasa kebingungan dalam menghadapi situasi bersama pelaku. Pelaku menanamkan rasa bersalah dalam diri korban, sehingga korban cenderung menyalahkan diri sendiri ketika menyadari perlakuan buruk pelaku.

“Sebenarnya pelaku secara tidak langsung membangun kelekatan yang palsu. Lalu, terjadilah confusion attachment, Jadi, sebenarnya tidak serta-merta sebenarnya dia itu merasa, ‘Oh, ini baik.’ Padahal, sebenarnya beberapa korban yang merasa, ‘Hubungan ini salah, tapi, kok, dia baik, ya, sama aku?” jelas Cinta.

Jadi, bisa disimpulkan bahwa korban—yang merupakan anak di bawah umur—cenderung kesulitan untuk “melawan” karena belum berkembangnya bagian prefrontal cortex di otak, serta rasa kebingungan dan bersalah (confusion attachment) yang disebabkan oleh manipulasi pelaku.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Libur Isra Miraj, Arus Lalu Lintas Tol Jakarta-Cikampek Ramai Lancar
• 2 jam laluviva.co.id
thumb
Foto Pramugari Gadungan Viral Masuk Garuda Indonesia Ternyata Rekayasa AI
• 13 jam lalukompas.com
thumb
BWS Perluas Akses Installment Bisnis ke Nasabah Perusahaan
• 17 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Lagi, Pandji Pragiwaksono bakal Dilaporkan ke Polisi Buntut Bahas Salat di Mens Rea
• 17 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Enam Hari Berlalu, Banjir di Pandeglang Tak Kunjung Surut
• 23 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.