REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA—Bendahara Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) yang juga Ketua Umum Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Dr Serian Wijatno mengingatkan agar eksistensi Masjid Al Ikhlas yang baru saja diresmikan Menteri Agama RI Prof KH Nasaruddin Umar di wilayah Pantai Indah Kapuk (PIK) harus memainkan peran sebagai pusat kegiatan keagamaan dan spiritual di wilayah tersebut.
"Karena masjid bukan hanya tempat ibadah, melainkan juga simbol persatuan dan kesatuan umat Islam," katanya menjawab pertanyaan wartawan di Jakarta, Jumat (16/1/2026).
- Hari Ini Malam 27 Rajab Versi NU, Baca Doa Berikut Agar Hajat-Hajat Duniawi Terpenuhi
- Pakar Inggris Sebut Trump akan Menyesal Selamanya Jika Serang Iran
- Iran: Kami Siap Perang dengan Amerika Serikat, Lebih Siap Dibandingkan Perang Sebelumnya
Hal ini, lanjutnya, sesuai dengan semangat peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW yang menempatkan masjid sebagai tempat untuk memperdalam spiritualitas dan meningkatkan kesadaran akan nilai-nilai Islam dengan kegiatan seperti ceramah, pengajian, dan shalat berjamaah sebagai agenda utama.
"Selain tentunya bisa mempererat toleransi dan silaturahmi. Sehingga semangat moderasi beragama harus tercermin dari cara jemaah berinteraksi dengan lingkungan sekitar yang majemuk" tuturnya.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Dia mengatakan karenanya, peresmian masjid yang dilakukan bertepatan dengan peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW, juga sarat makna persatuan umat.
Karena dalam Isra Miraj, masjid dalam hal ini Masjidil Haram dan Masjid Al-Aqsa melambangkan persatuan umat Islam, kesinambungan risalah nabi-nabi, tempat suci, dan fondasi ibadah utama yakni alat lima waktu, menunjukkan bahwa Islam adalah kelanjutan ajaran para nabi terdahulu dan perintah salat langsung dari Allah SWT saat perjalanan itu, menjadikannya penghubung hamba dengan Tuhannya.
Sebagai pimpinan DMI, ia mendorong agar Masjid Al-Ikhlas dikelola secara profesional untuk kemaslahatan umat yang lebih luas.
"Jadikan Masjid di PIK ini bukan hanya sekadar tempat ibadah atau bangunan fisik saja. Tapi harus menjadi pusat peradaban, tempat diskusi yang membangun, serta sarana memperkuat ikatan sosial masyarakat," tuturnya.
Artinya, Masjid ini juga harus menjadi pusat kegiatan yang mempromosikan nilai-nilai Islam rahmatan lil alamin, sehingga umat Islam dapat menjadi contoh bagi masyarakat dengan mempererat tali silaturahim dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya persatuan dan kesatuan.
Dengan demikian, kata dia, masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tapi juga simbol spiritual dan persatuan. Dengan kata lain masjid ini harus menjadi pusat kegiatan sosial dan keagamaan yang mempromosikan nilai-nilai Islam rahmatan lil alamin" katanya.



