Di zaman ketika mesin mampu menjawab soal dalam hitungan detik, menulis esai tanpa lelah, dan menghitung angka tanpa salah, muncul sebuah pertanyaan yang jarang diajukan: apakah manusia masih benar-benar belajar, atau sekadar menyalin kecerdasan?
Kita hidup di era yang memuja kecepatan. Nilai diukur dari seberapa cepat tugas selesai, bukan seberapa dalam ia dipahami. Di ruang-ruang kelas, diskusi semakin singkat, sementara pencarian instan menjadi raja. Ironisnya, ketika teknologi menawarkan kemudahan, justru di situlah tantangan terbesar pendidikan muncul: hilangnya proses berpikir.
Belajar sejatinya bukan soal menemukan jawaban, melainkan soal berjuang memahami pertanyaan. Namun kini, banyak peserta didik terjebak pada ilusi pintar merasa tahu karena bisa mengakses informasi, padahal belum tentu mampu mengolahnya. Mesin memberi jawaban, tetapi tidak memberi kebijaksanaan. Teknologi menyediakan data, tetapi tidak otomatis menumbuhkan makna.
Dalam konteks ini, pendidikan berada di persimpangan jalan. Jika institusi pendidikan hanya berfungsi sebagai tempat distribusi informasi, maka ia akan kalah cepat dari algoritma. Namun jika pendidikan berani kembali pada hakikatnya menjadi ruang pembentukan nalar, etika, dan kesadaran maka teknologi justru bisa menjadi sekutu, bukan ancaman.
Masalahnya, sistem pembelajaran hari ini masih terlalu sibuk mengejar target administratif. Kurikulum padat, penilaian kuantitatif, dan standar seragam sering kali mengabaikan realitas manusiawi peserta didik. Mahasiswa dinilai dari angka, bukan dari cara berpikir. Dosen dinilai dari laporan, bukan dari pengaruh intelektualnya. Akhirnya, pendidikan berjalan rapi di atas kertas, tetapi kosong di dalam kepala.
Lebih berbahaya lagi, muncul normalisasi ketergantungan. Ketika setiap kesulitan bisa “diserahkan” pada teknologi, daya tahan intelektual melemah. Padahal, dunia nyata tidak selalu menyediakan jawaban instan. Kehidupan menuntut penalaran, pertimbangan moral, dan kemampuan mengambil keputusan dalam ketidakpastian hal-hal yang tidak bisa digantikan oleh kecerdasan buatan.
Opini ini bukan seruan anti-teknologi. Justru sebaliknya, ini adalah ajakan untuk mengembalikan kendali pada manusia. Teknologi seharusnya memperluas kemampuan berpikir, bukan menggantikannya. Pendidikan harus mengajarkan cara bertanya yang benar, bukan sekadar cara menemukan jawaban tercepat.
Di tengah dunia yang semakin pintar secara teknis, kita membutuhkan manusia yang semakin bijak secara intelektual. Sebab tanpa kebijaksanaan, kecerdasan hanya akan menjadi alat tanpa arah dan tanpa nilai.
Mungkin sudah saatnya kita berhenti bertanya, “Seberapa canggih teknologi kita?”
Dan mulai bertanya, “Seberapa dalam kita masih mau belajar?”




