GenPI.co - Air yang terdapat pada fenomena sinkhole atau lubang runtuhan tanah mengandung bakteri dan sejumlah logam berat.
Hal ini ditegaskan Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Adrin Tohari.
Penjelasan ini menyusul adanya fenomena sinkhole di Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatra Barat, yang belakangan menyedot perhatian.
Adrin menjelaskan air tersebut umumnya berasal dari air hujan dan air bawah permukaan.
Maka dari itu, kelayakan air untuk dikonsumsi tidak bisa langsung disimpulkan.
"Air harus melalui analisis kimia terlebih dahulu, meliputi kejernihan, warna, bau, rasa, pH, kandungan bakteri berbahaya seperti Ecoli, serta logam berat, sesuai standar kesehatan yang diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan," kata dia, Jumat (16/1).
Adrin mewanti-wanti kawasan permukiman yang berada di atas lapisan batu gamping (limestone) mempunyai risiko lebih tinggi mengalami sinkhole.
"Jika aliran air mendadak menghilang, bisa jadi air masuk ke rongga bawah tanah. Kondisi ini perlu segera diinvestigasi karena berpotensi memicu runtuhan," beber dia.
Dia menegaskan pentingnya pendekatan berbasis sains untuk memahami dan mengantisipasi fenomena sinkhole.
Dia mengungkapkan ada metode rekayasa geoteknik untuk mencegah pembentukan sinkhole di daerah batugamping.
Metode ini adalah cement grouting, yakni menginjeksi semen, mortar atau bahan kimia tertentu untuk mengisi rongga di lapisan batu gamping bawah permukaan.
Dia berharap masyarakat dan pemerintah daerah di kawasan rawan lebih waspada serta memanfaatkan kajian geologi dan survei geofisika.
Ini sebagai dasar perencanaan tata ruang dan mitigasi risiko bencana geologi.
Seperti diketahui, banyak warga memanfaatkan air yang terdapat pada lubang atau sinkhole tersebut.
Bahkan beberapa orang yang mengaitkan air tersebut sebagai air untuk menyembuhkan kesehatan.(ant)
Kalian wajib tonton video yang satu ini:




