Rupiah Bertahan di Rp16.800-an, BI Cermati Tekanan Modal Asing

republika.co.id
3 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Nilai tukar rupiah bertahan di kisaran Rp16.800 per dolar AS di tengah dinamika pasar global dan pergerakan modal asing. Bank Indonesia mencatat rupiah ditutup di level Rp16.855 per dolar AS pada Rabu (14/1/2026), sementara tekanan masih terlihat di pasar obligasi. Berdasarkan data Bank Indonesia, rupiah pada akhir perdagangan Rabu (14/1/2026) ditutup pada level (bid) Rp16.855 per dolar AS. Pada Kamis (15/1/2026) pagi, rupiah dibuka menguat tipis ke level Rp16.840 per dolar AS.

Di pasar keuangan domestik, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik ke level 6,21 persen pada Rabu dan kembali meningkat menjadi 6,23 persen pada Kamis pagi. Kenaikan yield mencerminkan kehati-hatian investor, seiring pergerakan modal asing di pasar keuangan.

Baca Juga
  • Suram, Rupiah Diprediksi Merosot ke Rp17 Ribu pada Pekan Depan, Kenapa Ya?
  • Tekanan Global Dorong Rupiah Melemah, Ini Respons Pemerintah
  • Rupiah Dekati Rp 17.000, BI Sebut Tekanan Pasar Keuangan Global Meningkat

Dari sisi global, tekanan eksternal relatif mereda. Indeks dolar AS (DXY) melemah ke level 99,06, sementara imbal hasil US Treasury Note tenor 10 tahun turun ke 4,132 persen. Kondisi ini memberikan ruang bagi stabilisasi nilai tukar rupiah. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso mengatakan bank sentral terus menjaga stabilitas rupiah melalui koordinasi kebijakan.

“Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait serta mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk mendukung ketahanan eksternal ekonomi Indonesia,” ujar Ramdan dalam keterangannya dikutip Jumat (16/1/2026).

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Namun, aliran modal asing masih menunjukkan tekanan. Premi credit default swap (CDS) Indonesia tenor 5 tahun per 14 Januari 2026 tercatat sebesar 71,43 basis poin, naik dibandingkan 9 Januari 2026 sebesar 69,31 basis poin.

Berdasarkan data transaksi 12–14 Januari 2026, investor nonresiden mencatatkan jual neto sebesar Rp7,71 triliun. Jual neto tersebut berasal dari pasar SBN sebesar Rp8,15 triliun dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebesar Rp2,64 triliun, di tengah beli neto Rp3,08 triliun di pasar saham.

Secara kumulatif sepanjang 2026 hingga 14 Januari, nonresiden membukukan beli neto Rp5,33 triliun di SRBI dan Rp6,16 triliun di pasar saham, sementara jual neto di pasar SBN mencapai Rp9,91 triliun.

.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;}
Advertisement

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Wamen HAM: Sekolah Rakyat Wujud Nyata Kehadiran Negara
• 10 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Kisah Uut, Ibu 3 Anak yang Jadi Fotografer Jalanan di Depan KBS Surabaya
• 17 jam lalukumparan.com
thumb
Mula Kasus Perselingkuhan Pendiri Animasi Nussa Rara yang Viral di Medsos
• 9 jam laluinsertlive.com
thumb
Pertamina Tambah 813.800 Tabung LPG 3 Kg Selama Libur Isra Miraj di Jawa Timur
• 9 jam lalupantau.com
thumb
DPR Ungkap Nilai Aset yang Dapat Dirampas Menurut RUU Perampasan Aset: Minimal Rp1 Miliar
• 19 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.