Jakarta, CNBC Indonesia - Pengembangan Artificial Intelligence (AI) tidak hanya menyebabkan banyaknya PHK, tetapi juga memperlambat perekrutan tenaga kerja baru.
Kondisi tingkat perekrutan yang rendah dan PHK diperkirakan bakal terus berlanjut di pasar tenaga kerja. Sehingga kesempatan mendapatkan pekerjaan baru kian sulit bagi para pengangguran.
Kendati demikian, dampak perlambatan perekrutan karyawan baru dikatakan tidak terlalu terlihat pada perusahaan kecil.
- Pengusaha-Serikat Pekerja Respons Rencana Bangun BUMN Tekstil Rp100 T
- Raksasa Teknologi Siap PHK 1.600 Karyawan, Ini Alasannya
"AI benar-benar berdampak ke perusahaan besar," ungkap Presiden Federal Reserve Minneapolis Neel Kashkari, dikutip dari CNBC Internasional, Sabtu (17/1/2026).
Penggunaan AI dimulai sejak ChatGPT milik OpenAI pada 2022 yang langsung booming sesaat setelah diluncurkan. Banyak perusahaan yang mengadopsi teknologi itu untuk operasional dan karyawannya.
Namun ini juga menimbulkan banyak kekhwatiran sejalan dengan pengembangan AI yang masif. Dari tenaga kerja yang terancam, penggunaan untuk produktivitas hingga investasi yang keliru untuk teknologi tersebut.
Namun Kashkari mengatakan sejumlah bisnis mulai melihat keuntungan dari investasi yang mereka kucurkan. Bahkan ini diakui oleh perusahana yang awalnya skeptis soal AI.
"Tidak diragukan lagi sejumlah investasi salah atau keliru yang terjadi. Namun ada banyak anekdot soal bisnis yang menggunakan ini dan melihat peningkatan produktivitas yang nyata," jelasnya.
Ia mengatakan, bisnis yang diajak bicara, yang dua tahun lalu skeptik, kini mengatakan benar-benar sudah menggunakan AI.
(fab/fab)

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475625/original/060214700_1768633541-1000346514.jpg)

