Donald Trump Ancam Kenakan Tarif bagi Negara yang Menolak Aneksasi Greenland

mediaindonesia.com
10 jam lalu
Cover Berita

PRESIDEN Amerika Serikat (AS), Donald Trump, meningkatkan tekanan diplomatik terkait ambisinya mencaplok Greenland. Dalam sebuah pertemuan di Gedung Putih, Jumat (16/1), Trump mengancam akan memberlakukan tarif impor terhadap negara-negara yang menghalangi upayanya menguasai wilayah otonom milik Denmark tersebut.

"Saya mungkin akan mengenakan tarif pada negara-negara jika mereka tidak setuju dengan Greenland, karena kita membutuhkan Greenland untuk keamanan nasional," ujar Trump. 

Meski tidak merinci negara mana yang akan menjadi sasaran atau dasar hukum yang akan digunakan, ancaman ini menandai babak baru dalam ketegangan transatlantik.

Baca juga : Trump Ingin Rebut Greenland, Rusia: Picu Perang Dunia III Nuklir

Ketegangan Militer dan Reaksi NATO

Trump menegaskan bahwa posisi Greenland sangat krusial untuk melindungi AS dari potensi serangan Rusia atau Tiongkok. 

Ia bahkan melontarkan peringatan keras bahwa Washington akan mendapatkan wilayah tersebut melalui "cara yang mudah" atau "cara yang sulit"—pernyataan yang ditafsirkan banyak pihak sebagai sinyal penggunaan kekuatan militer.

Menanggapi hal tersebut, Denmark memperingatkan bahwa aksi militer apa pun akan mengehentikan keberlangsungan NATO. 

Baca juga : Rusia Sebut Narasi Ancaman NATO terhadap Greenland sebagai Mitos

Sebagai bentuk solidaritas, sejumlah sekutu Eropa termasuk Prancis, Jerman, Inggris, dan Belanda telah mengirimkan personel militer dalam misi pengintaian ke Greenland guna memperkuat keamanan wilayah tersebut.

Upaya Diplomasi Parlemen

Di saat yang sama, sebuah delegasi lintas partai (bipartisan) dari Kongres AS yang beranggotakan 11 orang justru berkunjung ke Greenland untuk menunjukkan dukungan terhadap kedaulatan wilayah itu. 

Dipimpin oleh Senator Demokrat Chris Coons, delegasi ini menyertakan politisi Republik seperti Lisa Murkowski dan Thom Tillis yang skeptis terhadap rencana presiden mereka.

"Tujuan perjalanan kami adalah untuk mendengarkan warga setempat dan membawa pandangan mereka kembali ke Washington untuk menurunkan ketegangan," kata Coons.

Anggota parlemen Greenland, Aaja Chemnitz, mengaku merasa "optimistis" setelah bertemu delegasi Kongres AS. 

Menurutnya, tekanan dari AS bukanlah hal baru, namun dukungan internasional sangat dibutuhkan saat ini. 

"Ini adalah maraton, bukan sprint pendek. Tekanan dari pihak AS sudah kami lihat sejak 2019," ungkapnya.

Posisi Gedung Putih

Meski ada penolakan luas, utusan Trump untuk Greenland, Jeff Landry, tetap optimistis bahwa kesepakatan akan tercapai. Ia menyatakan bahwa Presiden sangat serius dan telah menugaskan Wakil Presiden JD Vance serta Menteri Luar Negeri Marco Rubio untuk memproses negosiasi ini.

Seorang pejabat Denmark mengungkapkan bahwa dalam pertemuan tertutup baru-baru ini, JD Vance sempat mengusulkan "jalan tengah" untuk memuaskan semua pihak. 

Walaupun isu pengambilalihan militer tidak secara resmi dibahas dalam pertemuan itu, pihak Denmark menyatakan tetap waspada. 

"Hipotesis kerja kami adalah, dalam masalah ini, apa yang dia (Trump) katakan adalah apa yang dia maksud," tegas pejabat tersebut. (bbc/Z-1)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Lelah Langganan Banjir, Warga Pandeglang Usul Normalisasi-Restorasi Sungai
• 1 jam laludetik.com
thumb
Inovasi STV di Bintan Tingkatkan Layanan Identitas Warga Pulau
• 16 jam lalurepublika.co.id
thumb
Banjir Kudus: Terminal Induk Jati Lumpuh Total dengan Genangan hingga 50 Sentimeter
• 2 jam lalukompas.tv
thumb
Jember Makin Terkoneksi, Pertamina Suplai Avtur Perdana di Bandara Notohadinegoro
• 23 jam lalumedcom.id
thumb
Bansos PKH dan BPNT Januari 2026 Cair, Ini Cara Cek Penerima secara Online
• 3 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.