Bisnis.com, JAKARTA — Bank terbesar di Amerika Serikat, JPMorgan Chase & Co., memperkirakan transisi energi global akan berlangsung lebih volatil dan memakan waktu lebih panjang dibandingkan ekspektasi sebagian investor.
Co-Head Global Natural Resources JPMorgan, James Janoskey, menilai terdapat “reset” dalam perjalanan transisi energi bersih. Menurut dia, transisi tetap akan terjadi, namun lajunya tidak seragam dan diwarnai fluktuasi yang lebih tinggi, dengan sejumlah subsektor bergerak lebih cepat dibanding yang lain.
“Kami melihat ada semacam penyesuaian. Transisi energi bersih tetap akan berlangsung, tetapi lebih memanjang dari yang sebelumnya kami perkirakan, dengan volatilitas yang lebih tinggi dan dengan beberapa subsektor bergerak lebih cepat dibandingkan yang lain,” ujar Janoskey dalam wawancara dengan Bloomberg.
Meski demikian, JPMorgan menegaskan tidak akan menarik diri dari pembiayaan sektor transisi energi. Bank tersebut bahkan berencana menggelar pertemuan puncak pada Maret mendatang untuk membantu perusahaan teknologi bersih menghimpun modal ekuitas guna mendorong pertumbuhan.
Di sisi lain, Janoskey mengakui bahwa konteks geopolitik, bisnis, dan ekonomi global membuat bahan bakar fosil tetap menarik bagi investor. Salah satu pendorongnya adalah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan kebutuhan pusat data yang sangat besar terhadap pasokan energi.
“Masih ada pertumbuhan alokasi modal ke ekonomi rendah karbon,” kata Janoskey, yang membawahi sektor energi global, kelistrikan, energi terbarukan, dan pertambangan di unit investment banking JPMorgan. Namun, dia menilai proyeksi lama yang memperlihatkan penurunan energi fosil secara bertahap dan peningkatan tajam energi rendah karbon belum terwujud.
Baca Juga
- NWP Property bersama Xurya Meresmikan 4 PLTS di Pusat Perbelanjaan
- Daftar 4 Negara Asia yang Sukses Ubah Sampah Jadi Listrik, Bisa Ditiru Indonesia?
- Adopsi EBT Indonesia Jalan di Tempat, Bauran Kalah dari Vietnam dan Filipina
“Minyak dan gas akan tetap menjadi bagian penting dari bauran energi untuk masa yang dapat diperkirakan. Jadi, saat ini kita tidak benar-benar berbicara tentang penggantian, melainkan penambahan untuk memenuhi permintaan yang terus tumbuh,” ujarnya.
Prospek peralihan dari teknologi beremisi tinggi menuju energi yang lebih bersih makin kompleks akibat kombinasi penolakan politik di Amerika Serikat, kekhawatiran daya saing di Eropa, serta lonjakan kebutuhan energi global seiring berkembangnya AI.
Di satu sisi, investasi energi bersih mencetak rekor, saham-saham hijau menunjukkan kinerja relatif kuat, dan energi terbarukan secara umum menjadi sumber listrik termurah. Namun, di sisi lain, pemerintahan Donald Trump justru berseberangan dengan sektor angin dan surya, sembari mendorong peningkatan produksi minyak, gas, bahkan batu bara.
Janoskey menilai peluang transaksi di sektor transisi energi masih terbuka, meski dengan fokus yang berbeda dibandingkan sebelumnya. “Hari ini, percakapan tidak hanya soal transisi energi, tetapi juga keamanan energi, dominasi energi, dan keterjangkauan,” katanya.
JPMorgan juga melihat peluang pembiayaan di sektor tenaga nuklir, termasuk pengembangan reaktor modular kecil (small modular reactors/SMR). Selain itu, bank tersebut tertarik mendanai modernisasi jaringan listrik serta pengembangan penyimpanan energi berbasis baterai.
Berdasarkan data BloombergNEF (BNEF), JPMorgan merupakan bank terbesar dalam pembiayaan transaksi energi secara keseluruhan. Untuk setiap satu dolar yang dialokasikan JPMorgan ke industri bahan bakar fosil, baik melalui pinjaman langsung maupun penjaminan utang dan ekuitas, bank tersebut menyalurkan sekitar 69 sen ke proyek-proyek hijau, menurut laporan BNEF per September 2024.
BNEF menilai upaya global menuju masa depan rendah karbon masih dihadapkan pada fragmentasi. Meski mitigasi perubahan iklim tidak lagi menjadi prioritas bersama seperti sebelumnya, dan di tengah dinamika politik yang tidak kondusif, transisi energi tetap berjalan.
Namun, agar peluang membatasi pemanasan global pada ambang kritis 1,5 derajat Celsius tetap terbuka, alokasi modal ke proyek hijau perlu mencapai empat kali lipat dari investasi di sektor bahan bakar fosil.
Janoskey menegaskan JPMorgan tetap berupaya aktif membiayai bisnis rendah karbon dan meningkatkan skalanya. Kendati demikian, ia mengakui realisasi pembiayaan belum sebesar yang diharapkan, lantaran sebagian klien menunda atau menarik kembali proyek mereka dalam beberapa waktu terakhir.




