Dokter Tifa Soal Terbitnya SP3 Eggy Sudjana dan Damai Hari Lubis: Polisi Seperti Kerbau Dicocok Hidung oleh Uang

fajar.co.id
8 jam lalu
Cover Berita

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Dokter Tifauzia Tyassuma, merespons keputusan Polda Metro Jaya yang menerbitkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) terhadap Eggy Sudjana dan Damai Hari Lubis.

Hal tersebut disampaikan Tifauzia menyusul pertemuan Eggy Sudjana dan Damai Hari Lubis dengan Presiden ke-7 RI, Jokowi, di Solo sebelum terbitnya SP3 tersebut.

Dikatakan Tifa, rangkaian peristiwa itu menunjukkan dugaan penyalahgunaan kekuasaan dalam proses penegakan hukum.

Ia menyebut, sowan dua tersangka kepada pihak yang memiliki pengaruh atas proses hukum, lalu diikuti permintaan restorative justice hingga berujung SP3, merupakan pertunjukan “abuse of power”.

“SP3 itu terbit bukan karena kasusnya tidak layak dilanjutkan, tetapi karena sowan,” ujar Tifa di X @DokterTifa (17/1/2026).

Ia bahkan menyindir kondisi penegakan hukum Indonesia yang dinilainya telah terdegradasi, dengan menyebut aparat penegak hukum seperti bertekuk lutut akibat kekuatan uang dan pengaruh.

“Betapa perkasanya uang milik bapak yang saat ini sedang sakit sangat berat ini. Uang yang entah darimana didapatkan, yang membuat Institusi Penegakan Hukum seperti Kepolisian RI bertekuk lutut seperti kerbau dicocok hidung,” ucapnya.

Selain itu, Tifa juga menyinggung polemik lama terkait status akademik Presiden Jokowi semasa kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM).

Ia mengungkapkan keprihatinannya terhadap sosok Kasmudjo, dosen yang sebelumnya disebut-sebut sebagai pembimbing akademik Jokowi.

Tifa menyatakan bahwa Kasmudjo telah mengakui dirinya bukan dosen pembimbing akademik maupun pembimbing skripsi Jokowi, karena pada kurun waktu 1980-1985 masih berstatus asisten dosen dan belum memiliki kewenangan tersebut.

“Kasihan Pak Kasmudjo, di masa tuanya dipaksa ikut-ikutan menjadi pembohong,” Tifa menuturkan.

Ia bahkan mempertanyakan keberadaan jurusan Teknologi Kayu Fakultas Kehutanan UGM yang disebut-sebut menjadi latar akademik Jokowi.

“Jawabannya, dhemit. Karena jurusan Teknologi Kayu Kehutanan UGM adanya hanya di gorong-gorong, maka yang jadi Dosen di jurusan yang tidak ada itu pastilah dhemit,” kuncinya.

(Muhsin/fajar)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Sumber Sebenarnya dari Kekacauan di Iran: Ideologi Radikal + Marxisme
• 56 menit laluerabaru.net
thumb
Ketika Dunia Menjadi Tuhan: Ambisi, Jabatan, & Kerusakan Nurani di Ruang Publik
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Women Account for 33.2% of Indonesia’s Hajj Officers in 2026
• 36 menit lalumetrotvnews.com
thumb
Kemenhaj Optimalkan Kanal Kawal Haji Sebagai Pusat Pengaduan Jamaah 2026
• 10 jam laluliputan6.com
thumb
Pesawat ATR 400 Hilang Kontak, Basarnas Kerahkan Personel ke Titik Koordinat Hilang
• 3 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.