Alasan dan Ketentuan Siapa Saja yang Boleh Memberikan Angpau Saat Imlek

grid.id
4 jam lalu
Cover Berita

Grid.ID - Perayaan Imlek identik dengan berbagai tradisi yang sarat makna, salah satunya adalah pemberian angpau. Angpau atau hongbao merupakan amplop merah berisi uang yang dibagikan sebagai simbol keberuntungan, kebahagiaan, dan doa baik di tahun yang baru. Tradisi ini telah berlangsung turun-temurun dan masih dijaga hingga kini oleh masyarakat Tionghoa di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Namun, tidak semua orang dapat atau dianjurkan untuk memberikan angpau. Ada aturan tidak tertulis yang didasari nilai budaya, filosofi, serta penghormatan terhadap tradisi leluhur. Berikut penjelasan lengkap mengenai siapa saja yang boleh memberikan angpau saat Imlek dan alasan di baliknya.

1. Orang yang Sudah Menikah

Dalam tradisi Tionghoa, status pernikahan menjadi penentu utama seseorang boleh memberikan angpau. Orang yang sudah menikah dianggap telah “lengkap” dan stabil secara emosional maupun finansial. Oleh karena itu, mereka dipercaya memiliki cukup keberuntungan untuk dibagikan kepada orang lain.

Memberikan angpau oleh orang yang sudah menikah melambangkan berbagi rezeki, keberkahan, dan harapan baik kepada generasi yang lebih muda atau mereka yang belum menikah. Tradisi ini juga mencerminkan rasa tanggung jawab sosial dalam keluarga besar.

2. Orang yang Lebih Tua kepada yang Lebih Muda

Angpau umumnya diberikan oleh orang yang lebih tua kepada yang lebih muda, baik dari segi usia maupun posisi dalam keluarga. Orang tua memberikan angpau kepada anak-anak, paman dan bibi kepada keponakan, serta kakek dan nenek kepada cucu.

Hal ini melambangkan doa, perlindungan, dan harapan agar generasi muda tumbuh sehat, bahagia, dan sukses. Angpau bukan semata-mata soal nominal uang, melainkan bentuk kasih sayang dan restu dari yang lebih tua.

3. Atasan kepada Bawahan atau Pemberi Kerja kepada Karyawan

Dalam konteks modern, pemberian angpau juga sering dilakukan oleh atasan atau pemilik usaha kepada karyawan. Hal ini merupakan simbol apresiasi atas kerja keras selama setahun terakhir serta harapan akan kerja sama yang lebih baik di tahun mendatang.

Angpau dalam dunia kerja juga mencerminkan kemurahan hati, kepemimpinan yang bijaksana, serta keinginan untuk berbagi keberuntungan dengan orang-orang yang turut berkontribusi pada kesuksesan usaha.

 

4. Orang yang Sudah Mandiri Secara Finansial

Selain status pernikahan, kemapanan finansial juga menjadi pertimbangan. Seseorang yang sudah memiliki penghasilan tetap dan dianggap mapan boleh memberikan angpau meskipun belum menikah, terutama dalam konteks modern yang lebih fleksibel.

Pemberian angpau oleh individu yang mandiri secara ekonomi mencerminkan kesiapan untuk berbagi rezeki dan membawa energi positif bagi lingkungan sekitarnya.

5. Keluarga Inti dan Kerabat Dekat

Angpau umumnya diberikan dalam lingkup keluarga, terutama kepada anak-anak, remaja, atau anggota keluarga yang belum menikah. Hal ini mempererat hubungan kekeluargaan dan menjaga keharmonisan antaranggota keluarga besar.

Tradisi ini juga menjadi sarana untuk mengajarkan nilai berbagi, rasa hormat kepada yang lebih tua, serta pentingnya menjaga hubungan keluarga.

6. Tuan Rumah kepada Tamu

Saat Imlek, keluarga yang menjadi tuan rumah sering memberikan angpau kepada tamu tertentu, terutama anak-anak. Hal ini dianggap sebagai bentuk sambutan hangat dan doa baik bagi tamu yang datang.

Pemberian angpau oleh tuan rumah melambangkan keramahan, keberuntungan, dan harapan agar tamu yang berkunjung turut membawa dan menerima energi positif.

7. Makna Filosofis di Balik Pemberian Angpau

Penting untuk dipahami bahwa angpau bukan sekadar tradisi memberi uang. Amplop merah melambangkan perlindungan dari energi negatif dan warna merah dipercaya membawa keberuntungan. Sementara uang di dalamnya melambangkan rezeki dan kemakmuran.

 

Karena itu, orang yang memberikan angpau diharapkan berada dalam kondisi “memberi”, baik secara batin maupun materi. Memberikan angpau berarti membagikan keberuntungan, bukan memindahkan kesialan.

8. Fleksibilitas Tradisi di Era Modern

Seiring perkembangan zaman, aturan pemberian angpau menjadi lebih fleksibel. Banyak keluarga yang tidak lagi terlalu kaku terhadap status pernikahan, melainkan lebih menekankan pada niat baik dan kemampuan masing-masing.

Meski demikian, nilai utama dari tradisi angpau tetap sama, yaitu berbagi kebahagiaan, menjaga keharmonisan, dan mempererat hubungan antarindividu.

Tradisi pemberian angpau saat Imlek merupakan simbol berbagi rezeki, doa, dan harapan baik di tahun yang baru. Secara tradisional, angpau diberikan oleh mereka yang sudah menikah, lebih tua, atau mapan secara finansial kepada yang lebih muda atau belum menikah. Namun, di era modern, tradisi ini berkembang menjadi lebih inklusif dan menyesuaikan dengan kondisi sosial masing-masing keluarga. (*)

 

Artikel Asli


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
SP3 Kasus Ijazah Jokowi Terbit, Eggi Sudjana Berangkat ke Malaysia untuk Berobat
• 21 jam lalukompas.com
thumb
Protes Nasional di Iran Mereda, Warga Kembali Beraktivitas | BERITA UTAMA
• 18 jam lalukompas.tv
thumb
Venezuela: Serangan AS tewaskan 83 orang, termasuk 32 warga Kuba
• 2 jam laluantaranews.com
thumb
Pukulan Telak Tottenham Hotspur! Richarlison Absen Panjang Gegera Cedera Ini
• 16 jam lalutvonenews.com
thumb
Libur Panjang Isra Mikraj 2026, Jalur Wisata Lembang Bandung Macet Parah
• 20 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.