Jakarta, VIVA – Aktris Aurelie Moeremans kembali angkat suara di tengah derasnya spekulasi publik soal memoar yang ia tulis, Broken Strings. Di tengah keviralan buku tersebut, Aurelie secara terbuka meminta warganet untuk menghentikan praktik perundungan dan penyerangan terhadap pihak-pihak yang dikaitkan dengan karakter di dalam bukunya.
Melalui unggahan di akun Threads miliknya, Aurelie menekankan bahwa cerita yang ia bagikan bukanlah pintu untuk memburu sosok nyata di balik karakter fiktif yang ia tuliskan. Ia mengaku merasa tidak nyaman melihat asumsi liar yang berkembang dan berujung pada komentar negatif terhadap individu tertentu. Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!
"Please.. Aku mau minta satu hal notes penting soal Broken Strings. Tolong jangan membully atau menyerang karakter-karakter yang ada di dalam buku, apalagi kalau itu masih sebatas tebakan-tebakan. Banyak asumsi di luar sana yang belum tentu benar dan jujur aku gak enak bacanya," tulis Aurelie Moeremans, dikutip Sabtu 17 Januari 2026.
Aurelie kembali menegaskan bahwa inti dari memoar tersebut bukan untuk membuka identitas orang-orang di dunia nyata, melainkan untuk berbagi pengalaman personal yang sarat luka dan proses pemulihan diri.
"Fokus dari cerita ini bukan untuk mencari siapa siapa di dunia nyata, bukan untuk menghakimi, apalagi mengeroyok. Fokusnya adalah pengalaman, luka, dan proses penyembuhan yang aku bagikan dengan sangat jujur," lanjutnya.
Meski demikian, Aurelie juga menyampaikan batasan tegas. Ia menegaskan tidak bertanggung jawab jika ada pihak yang merasa mengidentifikasi dirinya sendiri sebagai salah satu karakter dalam Broken Strings. Menurutnya, klaim sepihak tersebut merupakan urusan masing-masing individu.
"Kalau ada orang yang mengaku sendiri sebagai karakter tertentu, itu urusan masing-masing ya, kalian bebas berpendapat soal itu. Tapi kalau hanya menebak-nebak dan lalu menyerang, plis jangan," tulisnya.
Sebagai istri Tyler Bigenho, Aurelie menegaskan bahwa memoar ini ditulis dengan tujuan meningkatkan kesadaran publik, khususnya bagi mereka yang pernah mengalami relasi toxic, manipulasi emosional, hingga situasi serupa dengan yang ia alami di masa lalu.


