Penulis: Fityan
TVRINews - Greenland
Menanggapi ancaman penguasaan wilayah, para pemimpin Eropa pertimbangkan penutupan pangkalan militer Amerika Serikat.
Ketegangan diplomatik antara Amerika Serikat dan sekutu Eropanya mencapai titik nadir baru. Di tengah ancaman Presiden Donald Trump untuk menggunakan kekuatan militer guna menguasai Greenland.
Para pejabat dan diplomat Uni Eropa kini mulai mendiskusikan opsi yang sebelumnya dianggap tabu: melawan balik secara strategis.
Laporan yang dihimpun dari sumber diplomatik di Brussels mengungkapkan bahwa aliansi yang telah terjalin selama puluhan tahun dianggap mulai rạncam.
Diskusi di balik layar kini berfokus pada kemungkinan pemutusan kerja sama militer sebagai upaya terakhir melindungi kedaulatan Denmark atas wilayah Greenland.
Tuas Keamanan dan Ekonomi
Meskipun konfrontasi militer langsung dianggap tidak proporsional, Eropa memiliki kartu truf yang signifikan.
Amerika Serikat sangat bergantung pada jaringan pangkalan militer di Eropa untuk memproyeksikan kekuatannya ke wilayah Afrika dan Timur Tengah.
(Sejumlah tentara eropa mengikuti latihan di Nuuk,Greenland Jumat 16 Januari 2026 (foto: Kememterian Pertahanan Denmark))
"Mengapa AS harus tetap memiliki akses ke pangkalan-pangkalan ini jika mereka mencoba merampas wilayah kedaulatan anggota NATO?" demikian pertanyaan yang kini bergulir di koridor kekuasaan Eropa, sebagaimana dilaporkan oleh POLITICO.
Selain akses pangkalan, leverage ekonomi juga menjadi pertimbangan. Pada tahun 2024, Eropa menyetujui kontrak pembelian senjata dari AS senilai 76 miliar dolar, atau lebih dari setengah total penjualan global Amerika.
Penghentian kerja sama pengadaan alutsista ini dipandang mampu memberikan tekanan politik yang serius di Washington.
Respons Tegas Prancis dan Denmark
Presiden Prancis, Emmanuel Macron, memberikan sinyal paling eksplisit mengenai solidaritas Eropa. Dalam pernyataan yang telah diperhitungkan dengan cermat, Macron menegaskan bahwa kedaulatan negara sekutu tidak dapat diganggu gugat.
(Tentara Eropa di Greenland (Foto: EPA/Sergey Kozlov))
"Kami tidak meremehkan pernyataan mengenai Greenland. Jika kedaulatan negara Eropa dan sekutu dipukul, dampak berantainya akan sangat luar biasa.
Prancis mengikuti situasi ini dengan perhatian penuh dan akan bertindak dalam solidaritas penuh dengan Denmark," tegas Macron di hadapan para menterinya.
Sementara itu, di Washington, Menteri Luar Negeri Denmark, Lars Løkke Rasmussen, mengakui adanya kebuntuan setelah bertemu dengan Wakil Presiden JD Vance dan Menlu Marco Rubio.
"Presiden memiliki keinginan untuk menaklukkan Greenland, dan oleh karena itu kami masih memiliki perbedaan pendapat yang mendasar," ujar Rasmussen.
Risiko Keamanan Global
Mantan komandan pasukan AS di Eropa, Ben Hodges, memperingatkan bahwa memaksa Amerika meninggalkan situs-situs strategis seperti Ramstein di Jerman akan berdampak "bencana" bagi kesiapan operasional AS secara global. Namun, ia juga memberikan catatan kritis bagi kemandirian Eropa.
"Eropa dapat membantu menyelamatkan NATO dan hubungan transatlantik ini dengan berdiri tegak menghadapi AS, bukan hanya menjadi pihak yang menyerah begitu saja," kata Hodges.
Meski demikian, banyak diplomat Eropa yang masih ragu untuk mengambil langkah agresif secara terbuka.
Hal ini disebabkan oleh ketergantungan Eropa terhadap dukungan keamanan AS dalam menghadapi konflik Rusia-Ukraina. Para pejabat menyadari bahwa tanpa jaminan keamanan Amerika, upaya mencegah agresi Vladimir Putin akan menjadi jauh lebih sulit.
Situasi ini mencerminkan pergeseran fundamental dalam geopolitik dunia. Sebagaimana dinyatakan oleh salah seorang pejabat Uni Eropa, "Hubungan transatlantik sedang berubah, dan tidak akan pernah kembali seperti semula."
Editor: Redaksi TVRINews





