Caracas: Hampir 50 tentara Venezuela dilaporkan tewas dalam operasi militer Amerika Serikat yang menargetkan ibu kota Caracas dan berujung pada penculikan Presiden Nicolas Maduro, kata Menteri Pertahanan Venezuela Vladimir Padrino Lopez.
Dilansir dari Al Jazeera, Sabtu, 17 Januari 2026, Padrino mengatakan sembilan dari 47 prajurit Venezuela yang tewas merupakan perempuan. Angka tersebut direvisi naik dari laporan awal yang menyebutkan 23 korban jiwa. Secara keseluruhan, menurut Padrino, sedikitnya 83 orang tewas dalam serangan militer AS yang terjadi pada 3 Januari.
Korban tewas juga mencakup 32 tentara Kuba, sebagian di antaranya bertugas dalam tim pengamanan pribadi Presiden Maduro.
“Apa yang telah dilakukan para prajurit Angkatan Bersenjata Nasional Bolivarian kami dalam menghadapi agresi militer? Mereka telah mengorbankan nyawa, mereka telah menghormati sejarah dan tanah air,” ujar Padrino dalam upacara penghormatan bagi para korban.
Ia menambahkan pemerintah Venezuela akan menentukan lokasi pembangunan monumen untuk mengenang para korban tewas. Pada Kamis, Kuba menerima jenazah 32 tentaranya yang disebut tewas dalam pertempuran pada dini hari 3 Januari.
Lebih dari 112 orang juga dilaporkan terluka dalam operasi militer AS tersebut, yang diawali dengan pemboman sasaran-sasaran militer dan berakhir dengan pendaratan pasukan AS menggunakan helikopter serta penculikan Maduro dan istrinya, Cilia Flores, dari kediaman mereka di Caracas.
Hingga kini, jumlah pasti korban sipil akibat serangan tersebut masih belum dapat dipastikan. Menteri Dalam Negeri Venezuela Diosdado Cabello mengatakan para ahli perlu melakukan uji DNA untuk mengidentifikasi sejumlah korban, karena beberapa di antaranya “terhancur menjadi potongan kecil” akibat serangan AS.
Presiden sementara Venezuela Delcy Rodriguez, yang menetapkan masa berkabung nasional selama tujuh hari, pada Kamis bertemu di Caracas dengan Direktur CIA John Ratcliffe. Menurut kantor berita The Associated Press, badan intelijen tersebut memainkan peran kunci dalam penculikan Maduro.
Seorang pejabat AS kepada AP mengatakan Ratcliffe membahas potensi kerja sama ekonomi dengan Venezuela serta memperingatkan bahwa negara itu tidak boleh lagi membiarkan kehadiran pihak-pihak yang dianggap musuh AS, termasuk jaringan perdagangan narkoba, di wilayahnya. Protes di Kuba Puluhan ribu warga Kuba pada Jumat menggelar demonstrasi di luar Kedutaan Besar AS di Havana untuk mengecam tewasnya 32 tentara Kuba dalam serangan di Venezuela. Massa berkumpul di Lapangan Anti-Imperialis Jose Marti, tepat di seberang kompleks diplomatik AS, dalam aksi yang diselenggarakan pemerintah Kuba.
Amerika Serikat “dipimpin oleh seorang presiden yang menganggap dirinya sebagai kaisar,” kata Rene Gonzalez, salah satu peserta aksi. “Kita harus menunjukkan bahwa gagasan lebih bernilai daripada senjata.”
Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel turut berjabat tangan dengan para demonstran sebelum menyampaikan pidato. Ia menuduh Washington telah “membuka pintu menuju era barbarisme, penjarahan, dan neo-fasisme."
“Tidak ada seorang pun di sini yang menyerah,” kata Diaz-Canel. Ia juga menyebut “kaisar Gedung Putih saat ini” dan menteri luar negerinya terus melontarkan ancaman terhadap Kuba.
Menurut Diaz-Canel, Kuba tidak akan membuat konsesi politik apa pun sebagai syarat perundingan dengan Amerika Serikat. “Kami selalu terbuka untuk dialog dan perbaikan hubungan, tetapi hanya berdasarkan kesetaraan dan saling menghormati,” ujarnya.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menuntut Kuba segera mencapai kesepakatan dengannya sebelum “terlambat," tanpa menjelaskan bentuk kesepakatan tersebut. Trump juga menyatakan Kuba tidak lagi akan hidup dari pasokan minyak Venezuela, yang menurutnya kini “menjadi milik Amerika Serikat”.
Kuba sangat bergantung pada minyak Venezuela. Para pakar memperingatkan, jika pasokan tersebut terhenti, dampaknya bisa sangat serius bagi Kuba yang tengah menghadapi krisis ekonomi, pemadaman listrik berkepanjangan, serta tekanan akibat sanksi AS yang telah berlangsung bertahun-tahun.
Demonstrasi Jumat di Havana berlangsung sehari setelah puluhan ribu warga Kuba berkumpul di markas Kementerian Angkatan Bersenjata untuk memberikan penghormatan terakhir kepada 32 tentara yang tewas, saat jenazah mereka tiba dari Venezuela.
Baca juga: Ribuan Warga Venezuela Berunjuk Rasa Tuntut Pembebasan Nicolas Maduro




