Amerika Serikat (AS) dan Iran terlibat cekcok dalam forum Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) saat membahas situasi unjuk rasa di negara Syiah tersebut. Washington menepis tuduhan Teheran soal unjuk rasa yang melanda Iran sebagai "konspirasi asing" yang melibatkan AS.
Iran pun menuding AS telah menggunakan "kebohongan" dan "distorsi fakta" untuk menyembunyikan keterlibatan dalam unjuk rasa yang diwarnai kerusuhan di wilayahnya.
Duta Besar AS untuk PBB, Mike Waltz, seperti dilansir Reuters, Sabtu (17/1/2026), menyampaikan bantahan atas tuduhan Iran bahwa unjuk rasa di negara tersebut merupakan "konspirasi asing untuk memberikan pendahuluan bagi aksi militer".
"Semua orang di dunia perlu mengetahui bahwa rezim tersebut lebih lemah dari sebelumnya, dan oleh karena itu, menyebarkan kebohongan ini karena kekuatan rakyat Iran di jalanan. Mereka takut. Mereka takut pada rakyat mereka sendiri," kata Waltz dalam rapat Dewan Keamanan PBB pada Kamis (15/1).
Lebih lanjut, Waltz menegaskan kembali bahwa AS mendukung "rakyat Iran yang berani", dan Presiden Donald Trump "telah memperjelas bahwa semua opsi tersedia untuk menghentikan pembantaian".
Trump telah berulang kali mengancam akan melakukan intervensi untuk mendukung para demonstran di Iran, di mana ribuan orang dilaporkan tewas akibat penindakan terhadap protes menentang pemerintah.
Namun pada Kamis (15/1), Trump mengambil sikap menunggu dan melihat, dengan mengatakan bahwa dirinya telah diberitahu jika tindak kekerasan mulai mereda. Dikatakan juga oleh Trump bahwa dirinya meyakini tidak ada rencana untuk eksekusi skala besar di Iran pada saat ini.
"Presiden Trump adalah seseorang yang bertindak, bukan hanya banyak bicara seperti yang kita lihat di PBB. Dia telah memperjelas bahwa semua opsi tersedia untuk menghentikan pembantaian," ucap Waltz.
(nvc/idh)


:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475809/original/032406400_1768655848-IMG_20260117_083259.jpg)


