Menikmati Kealamian dalam Hidup

erabaru.net
3 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Suatu hari, seekor katak filsuf melihat seekor kelabang sedang berjalan.

Dia berpikir dalam hati :  “Berjalan dengan empat kaki saja sudah cukup merepotkan. Lalu bagaimana kelabang bisa berjalan dengan seratus kaki?”

“Bagaimana dia tahu kaki mana yang harus melangkah lebih dulu? Kaki mana yang mengikuti? Lalu setelah itu kaki yang mana lagi?”

Akhirnya, dia menghentikan kelabang dan menyampaikan pertanyaannya.

Kelabang menjawab : “Seumur hidupku aku berjalan, tetapi aku belum pernah memikirkan hal itu. Sekarang aku harus benar-benar memikirkannya dulu sebelum menjawabmu.”

Kelabang pun berdiri di sana selama beberapa menit… dan mendapati dirinya tidak bisa bergerak. Dia terhuyung-huyung sejenak, lalu jatuh terkapar.

Kelabang berkata kepada katak : “Tolong jangan pernah menanyakan pertanyaan seperti itu kepada kelabang lain. Sekarang aku bahkan tidak bisa mengendalikan kakiku sendiri!”

Bintang-bintang tidak memerlukan peta untuk bergerak mengikuti orbitnya yang melingkar. Jika justru diberi jangka dan penggaris, bisa jadi mereka malah tidak tahu harus ke mana, bahkan tersesat.

Manusia pun demikian. Ketika seseorang tidak percaya pada kehidupannya sendiri dan merasa harus selalu bergantung pada kitab, pepatah, atau aturan—terlalu banyak prinsip dan ajaran yang harus diikuti—maka ketika pikiran mulai membeda-bedakan dan menganalisis secara berlebihan, hasilnya akan sama seperti yang dialami kelabang akibat pertanyaan katak: kebingungan dan kehilangan arah.

Cobalah untuk menikmati kealamian hidup.

Berjalanlah dengan sepenuh perhatian. Makanlah dengan sepenuh kesadaran. Mencintailah dengan sepenuh hati.

Maka ketenangan dan kebahagiaan akan muncul dengan sendirinya.

Renungan Redaksi

Banyak hal dalam hidup terjadi secara alami—tanpa perlu dipaksa untuk diperhatikan, dipikirkan, atau dijalankan dengan sengaja.
Ketika kita terlalu memaksakan diri untuk memperhatikan, menganalisis, dan mengendalikan, justru kita kehilangan makna aslinya. Hasil yang muncul pun bukan lagi hakikat yang sejati.

Ambil contoh senyum. Senyum yang muncul dari kebahagiaan tulus tampak begitu cerah dan memikat. Namun ketika seseorang mulai berpikir bagaimana caranya tersenyum, senyum itu kehilangan sinarnya dan terlihat kaku.

Demikian juga dalam hidup— biarkan dia mengalir secara alami. (jhn/yn)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Seorang Pria berusia 48 Tahun dengan Golongan Darah Rh-Negatif Meninggal Dunia, Mendonorkan Tiga organnya yang Menarik Perhatian
• 8 jam laluerabaru.net
thumb
Ini 5 Zodiak yang Pandai Menyembunyikan Kesedihan
• 12 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Daftar Transportasi Umum yang Terintegrasi dengan Stasiun Whoosh
• 7 jam laludetik.com
thumb
Pedasnya Sindiran Artis Bunga Zainal ke Inara Rusli Soal Kasus dengan Wardatina Mawa: Masih Punya Muka Dia
• 10 jam lalutvonenews.com
thumb
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Puji Dukungan Rusia di PBB
• 8 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.