PADANG, KOMPAS — Sedikitnya dua kecamatan di Kota Padang, Sumatera Barat, dilanda kekeringan akibat rusaknya Bendungan Batang Kuranji saat banjir bandang menejang akhir November tahun lalu. Masyarakat kini mengalami krisis air bersih dan harus bergantung pada bantuan suplai yang didistribusikan lewat kendaraan tangki.
Wilayah yang dilanda kekeringan tersebar di Kecamatan Kuranji dan Pauh. Sumur-sumur warga mengering akibat rusaknya bendungan. Jaringan irigasi terganggu dan hujan tidak lagi turun beberapa waktu terakhir. Masyarakat pun menampung air bersih yang dipasok pemerintah kota, organisasi nirlaba, dan lembaga lainnya.
Reni Nur Aini (51), warga RT 002 RW 008 Kelurahan Pasar Ambacang, Kecamatan Kuranji, Sabtu (17/1/2026), mengatakan, air sumur di rumahnya mulai mengering setelah banjir bandang atau galodo pada 27 November 2025. Saluran irigasi di sekitar permukiman pun terdampak akibat rusaknya Bendungan Batang Kuranji.
”Karena irigasi tidak ada, sumur kami kering. Kami berinisiatif menambah kedalaman sumur satu meter lagi, namun tetap saja tidak berair. Kini kedalaman sumur sudah 6 meter,” kata Reni di sela-sela menampung air bersih yang disalurkan BPBD Kota Padang di depan rumahnya.
Menurut Reni, kekeringan bertambah parah dalam sebulan terakhir, apalagi hujan tak lagi turun. Ia dan masyarakat sekitar menggantungkan suplai air bersih dari mobil tangki BPBD Kota Padang dan lembaga lainnya.
Di tengah keterbatasan air, Reni, suami, dan tiga anaknya mesti berhemat. Keluarga mesti melapisi piring dengan kertas supaya piring tidak kotor. Kemudian, mandi yang biasanya dua kali sehari, kini hanya sekali sehari.
”Kami berharap Bendungan Batang Kuranji di kawasan Gunung Nago dan jaringan irigasinya segera diperbaiki sehingga kami tak lagi kekeringan, apalagi sebentar lagi akan masuk bulan Ramadhan,” ujar Reni, yang halaman rumah dan rumah tetangganya sempat terendam air bercampur lumpur saat banjir bandang.
Kekeringan dialami pula oleh warga RT 04 RW 04 Kelurahan Binuang Kampung Dalam, Kecamatan Pauh. Aris Budhiman (38), mengatakan, sumurnya mulai mengering pasca banjir bandang. “Seminggu pasca-galodo, air sumur kering total,” kata Aris.
Aris pun menunjukkan kondisi sumur di rumahnya yang kering kepada Kompas. Pada sumur sedalam 7 meter itu, tidak ada air, hanya tampak lumpur yang mulai mengering dan bebatuan.
Kini Aris bersama puluhan keluarga di RT 04 RW 04 menggantungkan kebutuhan air bersih dari mobil tangki BPBD Kota Padang, PMI, dan lembaga lainnya. Ia berharap bantuan itu berkelanjutan dan setiap hari serta ada solusi jangka panjang dari pemerintah.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Padang Al Banna mengatakan, pihaknya sejak sebulan terakhir mendistribusikan air bersih kepada masyarakat yang mengalami kekeringan. Ada 6-7 kelurahan di Kuranji dan Pauh yang terdampak kekeringan signifikan pasca galodo, terutama di sepanjang Jalan Dr M Hatta dan sekitarnya.
“Sumur masyarakat mengering. Air irigasi dari kawasan hulu sudah terputus,” kata Al Banna di sela-sela distribusi air bersih dari BPBD Kota Padang di Kelurahan Pasar Ambacang.
Menurut Al Banna, distribusi air bersih dilakukan setiap hari dengan dua mobil tangki BPBD Kota Padang dari pagi hingga malam. Setiap hari jumlah air yang disalurkan mencapai 14 tangki (1 tangki 5.000 liter) atau sekitar 70.000 liter.
“Masyarakat yang membutuhkan air bersih, silakan menghubungi nomor layanan Pusdalops BPBD Kota Padang ataupun petugas. Yang penting jelas alamat dan identitasnya,” ujarnya.
Al Banna mengakui belum semua kebutuhan masyarakat terpenuhi, tetapi BPBD Kota Padang sudah berupaya maksimal. Sejumlah kendala dihadapi petugas, antara lain jumlah mobil tangki hanya dua unit, jauhnya titik penjemputan air dari lokasi distribusi.
Selanjutnya, kata Al Banna, biaya BBM yang dikeluarkan juga besar. Petugas mesti menggunakan BBM nonsubsidi (Dexlite) karena tidak bisa membeli BBM bersubsidi (Biosolar) pascaberakhirnya masa tanggap darurat bencana.
Al Banna menambahkan, terjadinya kekeringan di bagian hilir juga dipicu tersumbatnya air di bagian hulu. “Kemarin kami cek di Cek Dam (Universitas) Andalas (Cek Dam Limau Manis), dari empat pintu, hanya satu yang mengalir karena tertutup kayu. Kami segera gotong-royong untuk membersihkannya,” katanya.



