Bisnis.com, JAKARTA — Di tengah ambisi pertumbuhan ekonomi yang agresif, Indonesia justru dihadapkan persoalan kerentanan pasar tenaga kerja dan jaring pengaman sosial.
Laporan terbaru World Economic Forum (WEF) menempatkan ketiadaan peluang ekonomi atau pengangguran sebagai risiko terbesar ekonomi Indonesia dalam dua tahun ke depan (2026—2028).
Dalam dokumen bertajuk Global Risks Report 2026 yang dirilis pekan ini, kurangnya peluang ekonomi atau pengangguran (lack of economic opportunity or unemployment) bertengger di posisi puncak dalam daftar risiko ancaman perekonomian Indonesia. Temuan ini didasarkan pada Executive Opinion Survey 2025 yang menjaring persepsi para pimpinan bisnis di dalam negeri maupun luar negeri.
Indonesia menjadi satu dari 27 negara yang mana kurangnya peluang ekonomi atau pengangguran menempati peringkat pertama ancaman perekonomian pada dua tahun ke depan menurut para pemimpin bisnis. WEF memperingatkan bahwa masalah kesempatan kerja ini berpotensi merambat ke persoalan lain.
"Kurangnya peluang ekonomi atau pengangguran dapat mendorong ekstremism, ketidakpercayaan terhadap institusi yang berkaitan dengan misinformasi dan disinformasi, dan pengawasan berlebihan," jelas laporan tersebut, dikutip Sabtu (17/1/2026).
Adapun, WEF menjelaskan kurangnya peluang ekonomi atau pengangguran merupakan kondisi merosotnya prospek pekerjaan secara struktural atau standar kerja.
Baca Juga
- Peringkat Ketahanan Siber RI Anjlok di Global, Adigsi: Ekonomi Digital Terancam
- Purbaya Klaim Fundamental Ekonomi RI Kuat, Pelemahan Rupiah Tak Akan Lama
- Ramalan Terbaru Pertumbuhan Ekonomi RI dari World Bank Cs
Kemerosotan tersebut tampak dari terkikisnya hak-hak pekerja, stagnasi upah, meningkatnya pengangguran dan setengah menganggur, perpindahan tenaga kerja akibat otomatisasi atau transisi hijau, mobilitas sosial yang mandek, serta akses yang tidak setara terhadap peluang pendidikan, teknologi, dan ekonomi.
Risiko ini berkelindan erat dengan ancaman di peringkat kedua, yakni layanan publik dan perlindungan sosial yang tidak memadai (insufficient public services and social protections). Lemahnya bantalan sosial bagi masyarakat rentan dinilai dapat memicu ketimpangan yang kian melebar, terutama saat guncangan ekonomi terjadi.
Di peringkat ketiga, para pemimpin bisnis menilai ancaman dampak buruk teknologi akal imitasi (adverse outcomes of AI technologies) juga akan mempengaruhi perekonomian Indonesia. Menurut WEF, ancaman mengindikasikan bahwa kalangan pelaku usaha mengkhawatirkan adopsi teknologi tinggi tanpa kesiapan sumber daya manusia justru akan memperparah krisis pengangguran struktural.
Sementara di peringkat keempat dan kelima, ada risiko makroekonomi klasik yaitu penurunan perekonomian (economic downturn) dan inflasi (inflation) yang menandakan kerentanan daya beli dan pertumbuhan ekonomi.
Adapun, Executive Opinion Survey 2025 dari WEF ini bertujuan mengidentifikasi risiko-risiko yang menjadi ancaman paling serius bagi setiap negara dalam dua tahun ke depan, sebagaimana diidentifikasi oleh lebih dari 11.000 pemimpin bisnis di 116 perekonomian.
Menurut WEF, data hasil survei tersebut memberikan wawasan mengenai kekhawatiran dan prioritas di masing-masing negara serta menunjukkan potensi titik rawan (hot spot) secara regional dari risiko-risiko global.





/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2025%2F11%2F23%2F9d4aeb2174126d7627fb8780a9e465ec-20251121_Keamanan_Pangan_Keracunan_cover_mumed.png)