PRESDIEN Alliance of Independent Recognised Members of Sport (AIMS), Stephan Fox, mengingatkan bahwa pencak silat tidak boleh kehilangan momentum.
Menurutnya, tata kelola organisasi yang profesional dan pemenuhan standar global menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar jika ingin melangkah lebih jauh di level internasional.
“Pencak silat memiliki potensi luar biasa, tetapi juga banyak PR besar yang harus segera diselesaikan,” tegas Fox dalam keterangannya.
Baca juga : Pencak Silat Tampil di AYG dan ISG 2025 Berkat Diplomasi Indonesia
Ia menekankan pentingnya kehadiran pencak silat dalam ajang World Combat Games 2027 sebagai panggung strategis menuju pengakuan global. Selain itu, aspek kepatuhan terhadap Badan Anti-Doping Dunia (WADA) serta integrasi dengan organisasi bela diri internasional lainnya menjadi syarat mutlak yang harus dipenuhi.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (NOC Indonesia), Raja Sapta Oktohari, menyatakan bahwa atensi langsung dari Presiden Prabowo Subianto menjadi sinyal kuat agar pengelolaan pencak silat dilakukan secara lebih serius. “Pencak silat memiliki tanggung jawab besar untuk berbenah. Masih banyak PR yang harus diselesaikan bersama,” ujar Okto.
NOC Indonesia berkomitmen mengawal setiap tahapan diplomasi olahraga ini, mulai dari sisi compliance hingga pemenuhan standar tata kelola organisasi internasional.
Kehadiran pencak silat di Islamic Solidarity Games (ISG) dan Asian Youth Games (AYG) 2025 dinilai sebagai pijakan awal yang baik, namun konsistensi di level global tetap menjadi tantangan utama.
Melalui sinergi antara pemerintah, pemangku kepentingan, dan dukungan mitra internasional, pencak silat diharapkan tidak hanya bangga sebagai identitas budaya, tetapi juga mampu berdiri sejajar dengan cabang olahraga dunia lainnya di bawah payung IOC. (Ndf/P-3)



