Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah gunung di Iran muncul kembali setelah setelah sempat diperkirakan punah selama 710.000 tahun. Hal itu seperti yang tertulis dalam penelitian Jurnal Geophysical Research Letters.
Dalam penelitian yang diterbitkan Oktober 2025 lalu, ditemukan bahwa area tanah di dekat puncak Gunung Taftan mengalami kenaikan sekitar 3,5 inci dalam kurun 10 bulan, sejak Juli 2023 hingga Mei 2024. Kenaikan tersebut diindikasikan sebagai dampak meningkatnya tekanan gas di bawah permukaan gunung berapi.
Temuan ini menegaskan perlunya pemantauan yang lebih ketat terhadap gunung berapi tersebut. Sebelumnya, Taftan tidak dianggap berisiko bagi manusia, namun penulis senior studi sekaligus ahli vulkanologi di Institut Produk Alami dan Agrobiologi, Dewan Riset Nasional Spanyol (IPNA-CSIC), Pablo González, menilai kondisi tersebut perlu mendapat perhatian lebih lanjut.
Gunung berapi dianggap punah jika belum meletus pada era Holokon, yang dimulai 11.700 tahun yang lalu. Mengingat aktivitasnya baru-baru ini, kata González, Taftan mungkin lebih tepat disebut sebagai gunung berapi dorman.
"Entah bagaimana ia akan meletus di masa mendatang, entah dengan dahsyat atau lebih pelan," kata González, dilansir dari Live Science, dikutip Minggu (17/1/2026).
Menurutnya, tidak ada alasan untuk khawatir akan letusan yang akan segera terjadi, tetapi gunung berapi tersebut perlu dipantau lebih ketat.
Gunung berapi Taftan adalah gunung berapi stratovolkano setinggi 12.927 kaki (3.940 meter) di tenggara Iran, terletak di antara pegunungan dan gunung berapi yang terbentuk oleh subduksi kerak samudra Arab di bawah benua Eurasia.
Saat ini, gunung berapi ini memiliki sistem hidrotermal aktif dan lubang-lubang penghasil sulfur berbau yang disebut fumarol, tetapi letusannya belum diketahui dalam sejarah manusia.
Menurutnya, tidak ada alasan untuk khawatir akan letusan yang akan segera terjadi, tetapi gunung berapi tersebut perlu dipantau lebih ketat.
Gunung berapi Taftan adalah gunung berapi stratovolkano setinggi 12.927 kaki (3.940 meter) di tenggara Iran, terletak di antara pegunungan dan gunung berapi yang terbentuk oleh subduksi kerak samudra Arab di bawah benua Eurasia.
Saat ini, gunung berapi ini memiliki sistem hidrotermal aktif dan lubang-lubang penghasil sulfur berbau yang disebut fumarol, tetapi letusannya belum diketahui dalam sejarah manusia.
(fsd/fsd)


