FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polda Sulsel menyiagakan Pos Ante Mortem menyusul hilang kontaknya pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) rute Yogyakarta-Makassar, Sabtu (17/1/2026).
Pos pengumpulan data antemortem tersebut dipusatkan di lobi Dokkes Polda Sulsel, Jalan Kumala, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar.
Pos ini disiapkan sebagai langkah antisipatif apabila terjadi kondisi terburuk dalam peristiwa tersebut.
Penyiagaan pos dipimpin langsung oleh Kabid Dokkes Polda Sulsel, Kombes Pol dr Muhammad Haris, Mars, QHIA.
Sedikitnya 12 personel Tim Disaster Victim Identification (DVI) dikerahkan dan dibagi ke dalam tiga tim yang siap diberangkatkan ke lokasi pencarian.
Muhammad Haris mengatakan, pembentukan pos ini merupakan bagian dari kesiapsiagaan medis dan forensik, meski pihaknya tetap berharap seluruh kru dan penumpang pesawat ditemukan dalam keadaan selamat.
“Semoga semua kru dan penumpang pesawat ini masih selamat, kami doakan,” ujar Haris kepada awak media, Sabtu malam.
Meski demikian, langkah mitigasi tetap disiapkan untuk menghadapi berbagai kemungkinan.
“Namun seandainya jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, kami membawa dan sudah menyiapkan posko di Biddokkes,” lanjutnya.
Ia menerangkan, keberadaan pos ante mortem dan pos mortem memiliki fungsi penting dalam proses identifikasi korban apabila dibutuhkan.
“Ante Mortem itu berguna untuk mendata seandainya memang kru atau penumpang pesawat ini meninggal dan pos mortem disiapkan untuk pemeriksaan jenazah,” jelasnya.
Haris menambahkan, pihaknya terus berkoordinasi secara intensif dengan Tim SAR gabungan guna memperoleh perkembangan terbaru dari lapangan.
Selain itu, tiga tim DVI dengan total 12 personel telah disiapkan untuk bergerak ke area pencarian.
“Untuk ambulans kita siapkan empat unit,” imbuhnya.
Sementara itu, upaya pencarian pesawat ATR 42-500 IAT terus diperluas.
Pesawat yang sebelumnya dilaporkan terakhir kali melakukan kontak di wilayah Kelurahan Leang-leang, Kabupaten Maros, kini dicari hingga kawasan Puncak Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep.
Perluasan area pencarian dilakukan setelah adanya laporan masyarakat terkait dugaan temuan serpihan pesawat di kawasan tersebut.
Sekitar 400-500 personel gabungan telah diturunkan untuk melakukan penyisiran darat di wilayah Bulusaraung dan Leang-leang.
Selain pencarian darat, tim SAR juga memanfaatkan teknologi udara dengan mengerahkan drone.
“Kami sudah melakukan pencarian menggunakan drone. Selain itu, ada keterangan dari warga yang mengaku mendengar suara dengungan di sekitar lokasi,” ungkap Kasi Ops Basarnas Makassar, Andi Sultan, secara terpisah.
Namun, kondisi cuaca menjadi tantangan tersendiri bagi tim pencari. Kabut tebal disertai hujan menghambat jarak pandang saat drone diterbangkan.
“Saat drone diterbangkan, kabut cukup tebal dan disertai hujan sehingga menghalangi jarak pandang. Kami menunggu cuaca membaik untuk kembali mendekat ke titik koordinat terakhir,” sebutnya.
Andi Sultan menyebutkan, jarak dari posko menuju titik terakhir pesawat hilang kontak diperkirakan sekitar 16 kilometer dengan medan pegunungan yang cukup berat.
“Medannya cukup berat, kawasan pegunungan, estimasi waktu tempuh sekitar dua hingga tiga jam dari posko,” ujarnya.
Tak hanya itu, pencarian dari udara juga melibatkan TNI Angkatan Udara.
“Dari TNI AU melakukan pencarian udara menggunakan helikopter,” tambahnya.
Sebelumnya diketahui, data manifest penerbangan pesawat ATR milik Indonesia Air Transport rute Yogyakarta-Makassar telah dirilis.
Total terdapat 11 orang di dalam pesawat, terdiri dari delapan kru dan tiga penumpang.
Delapan kru penerbangan tersebut meliputi Kapten Andy Dahananto selaku pilot, First Officer Yudha Mahardika, serta enam awak lainnya, yakni Sukardi, Hariadi, Franky D. Tanamal, Junaidi, Florencia Lolita, dan Esther Aprilita S.
Sementara tiga penumpang yang tercatat dalam manifest masing-masing bernama Deden, Ferry, dan Yoga.
Hingga berita ini diturunkan, proses pencarian masih terus berlangsung dengan melibatkan berbagai unsur dan mengedepankan kehati-hatian mengingat kondisi medan serta cuaca di lokasi.
(Muhsin/Fajar)




