VIVA – Pergantian pelatih kembali membuka fase krusial di Real Madrid. Setelah berpisah dengan Xabi Alonso, klub bergerak cepat menunjuk Alvaro Arbeloa sebagai pelatih sementara. Di tengah situasi transisi itu, sosok yang pernah merasakan tekanan tertinggi di Santiago Bernabeu, Zinedine Zidane.
Kursi pelatih Real Madrid resmi ditinggalkan Xabi Alonso setelah kedua pihak sepakat berpisah pada awal pekan ini. Alonso mengakhiri masa jabatannya yang hanya berlangsung sekitar tujuh bulan, periode yang dinilai terlalu singkat untuk membangun stabilitas di ruang ganti bertabur bintang.
Sebagai pengganti sementara, manajemen menunjuk Alvaro Arbeloa. Mantan bek Real Madrid yang sebelumnya menangani Real Castilla itu hanya akan mengisi posisi pelatih kepala hingga musim 2025–2026 berakhir. Penunjukan ini menegaskan bahwa Madrid masih membuka opsi lain untuk jangka panjang.
- Real Madrid
Kepergian Alonso menjadi sorotan tersendiri. Ia datang dengan reputasi menjanjikan setelah sukses bersama Bayer Leverkusen, namun ekspektasi tinggi di Bernabeu terbukti sulit dipenuhi. Tekanan, reputasi klub, serta tuntutan hasil instan kembali menjadi tantangan yang memakan korban.
Situasi tersebut mendorong Real Madrid untuk kembali mencari figur yang dinilai paling tepat sebagai suksesor Alonso. Di tengah pencarian itu, Zidane menyampaikan pandangannya mengenai apa yang dibutuhkan seorang pelatih untuk bertahan dan sukses di Madrid.
Zidane bukan sosok sembarangan. Ia dua kali menukangi Real Madrid dan mempersembahkan tiga gelar Liga Champions serta dua trofi Liga Spanyol. Dalam pandangannya, kunci utama bukan semata taktik, melainkan hubungan pelatih dengan pemain.
“Di Real Madrid, kami sepenuhnya siap membantu para pemain,” ujar Zidane, dikutip dari Tuttomercatoweb. Menurutnya, keberadaan pelatih harus benar-benar terasa di ruang ganti, bukan hanya sebagai pengambil keputusan teknis.
“Bagi saya, inilah yang menciptakan tim yang kuat: selalu ada untuk para pemain,” lanjutnya. Zidane menegaskan, tanpa pemahaman tersebut, seorang pelatih tidak akan bertahan lama di profesinya, terlebih di klub dengan tekanan setinggi Real Madrid.
Ia juga menyoroti pentingnya rasa saling menghormati. Zidane menilai, penerimaan pemain terhadap ide-ide pelatih sangat bergantung pada hubungan personal dan kepercayaan di ruang ganti.





