Beberapa minggu lalu, saya dan keluarga mendapat kesempatan istimewa merasakan perayaan Thanksgiving yang merupakan salah satu tradisi besar Amerika Serikat.
Dalam hal ini, saya dan keluarga berkesempatan menghadiri tiga undangan yang berbeda: yang pertama dari kolega kami, keluarga Amerika-Indonesia yang berdomisili di Dublin-Ohio, undangan yang kedua berasal dari komunitas Bridge International di kota Columbus; dan yang ketiga, melalui acara makan bersama tahunan yang diselenggarakan oleh Ohio State University untuk sivitas akademikanya.
Ini merupakan pengalaman pertama saya dan keluarga yang berasal dari Indonesia dan baru beberapa bulan tinggal di Amerika Serikat untuk ikut merayakan Thanksgiving ini. Perasaan akrab, keramahan, dan penghormatan terhadap latar belakang kami sebagai keluarga Muslim juga turut kami rasakan, termasuk penyediaan makanan halal oleh semua pihak yang mengundang kami, sehingga membuat pengalaman ini begitu bermakna.
Ditarik dari sejarah panjangnya, Thanksgiving pada dasarnya adalah sebuah hari untuk “mengucap syukur”. Ide ini tidak terkhusus dan tertuju pada satu budaya maupun agama tertentu, tetapi memiliki paralel global dalam berbagai festival panen pada saat pertengahan musim gugur di banyak masyarakat di seluruh dunia.
Misalnya seperti di benua Eropa yang merayakan tradisi harvest festival (festival panen), masyarakat memberi penghormatan atas hasil bumi setelah musim tanam yang panjang dan penuh tantangan (detiknews, 2025).
Tradisi serupa juga ditemukan di budaya lain, misalnya pada suku Bugis di Indonesia yang dikenal dengan nama Mappadendang yang telah dilaksanakan sejak lama secara turun temurun (Khairul Dkk, 2024) yang juga menandai rasa syukur atas hasil bumi.
Dalam konteks Amerika, dikutip dari history.com (2025), salah satu catatan tertua tentang praktik Thanksgiving terjadi pada 4 Desember 1619 di koloni Berkeley Hundred, Virginia, ketika para pemukim Inggris menetapkan hari khusus untuk bersyukur setelah tiba di tanah yang baru (Benua Amerika).
Namun, beberapa sumber lain yang lebih dikenal dalam sejarah populer adalah peristiwa tahun 1621 di Plymouth, Massachusetts, ketika para kolonis Inggris awal yang kemudian dikenal sebagai Pilgrims mengadakan pesta untuk merayakan panen pertama mereka di daratan baru (Benua Amerika).
Dalam catatan awal, suku Wampanoag yang merupakan salah satu suku asli penduduk Benua Amerika turut hadir dalam peristiwa ini, membawa makanan hasil buruannya sendiri dan turut bergabung merayakan pesta tersebut (history.com, 2025).
Namun, narasi ini sering disederhanakan dalam cerita rakyat Amerika yang kami juga dapatkan dari beberapa kolega masyarakat lokal yang mengundang kami pada Thanksgiving dinner, sehingga terkesan lebih banyak elemen penting lainnya yang sebenarnya lebih kompleks dari yang sering dinarasikan secara umum.
Perayaan Thanksgiving semacam ini tersebar secara masif di berbagai koloni selama abad ke-17 dan ke-18, sering kali dalam konteks keagamaan atau terkait panen hasil pertanian, tetapi belum ditetapkan menjadi hari libur resmi secara nasional.
Presiden George Washington mengeluarkan proklamasi pertama tentang Thanksgiving pada tahun 1789 sebagai hari nasional untuk mengucap syukur atas berakhirnya Perang Kemerdekaan dan lahirnya konstitusi Amerika (history.com, 2025).
Namun, Thanksgiving seperti yang dikenal sekarang, yaitu hari libur nasional yang dirayakan setiap tanggal 26 di bulan November, setiap tahunnya yang baru disahkan oleh Kongres Amerika Serikat pada tahun 1941 setelah beberapa dekade praktik yang berkembang dan kerap kali dipromosikan kepada publik oleh penulis, seperti Sarah Josepha Hale serta keputusan Presiden Abraham Lincoln pada tahun 1863 untuk menetapkan hari syukur nasional di tengah Perang Saudara sebagai cara untuk memperkuat rasa persatuan (Smithsonian Institution, 1998).
Hal yang juga menjadi inti dari cerita populer tentang perayaan Thanksgiving lebih cenderung memusatkan narasi pada persahabatan antara Pilgrims dan suku asli Amerika, tetapi banyak sejarawan dan komunitas pribumi menyoroti bahwa kisah ini telah disederhanakan atau bahkan dipoles menjadi legenda yang kurang mencerminkan kenyataan sejarahnya.
Beberapa poin yang dapat penulis rangkum terkait perayaan Thankgiving bagi masyarakat Amerika Serikat: Pertama, tentang narasi tradisional sering menggambarkan perjamuan tersebut, sebagai simbol hubungan damai tanpa konflik, tetapi konteks sejarahnya jauh lebih kompleks, termasuk perjanjian politik, konflik tanah, dan dampak kolonialisasi yang kemudian mengakibatkan penderitaan panjang bagi banyak suku asli Amerika.
Sedangkan narasi kedua adalah tentang beberapa kelompok masyarakat adat mengamati Thanksgiving sebagai National Day of Mourning (Hari Berkabung Nasional), yaitu sebuah peringatan yang digelar setiap tahun pada hari yang sama dengan Thanksgiving untuk mengingat penderitaan komunitas pribumi, memperingati leluhur mereka, dan menantang narasi yang memuliakan kolonialisasi (Rambe, 2021).
Pemahaman yang sudah dijelaskan di atas ditujukan tidak untuk menghapus tradisi, tetapi untuk membantu kita melihat sejarah secara lebih utuh dan menghormati pengalaman semua pihak dalam perjalanan sejarah panjang tersebut.
Hal unik selanjutnya dalam perayaan Thanksgiving modern di Amerika Serikat yaitu makan, tentang hidangan seperti kalkun panggang, kentang tumbuk (Mashed Potato), saus cranberry, pai labu, dan roti jagung telah menjadi ikon yang melekat dalam budaya perayaan ini.
Hidangan tersebut menjadi populer dalam tradisi Thanksgiving seiring berkembangnya budaya kuliner di Amerika Serikat pada abad ke-19 dan ke-20.
Namun, beberapa hidangan lain juga disinyalir berasal dari tanaman dan teknik pertanian yang telah dipraktikkan oleh komunitas adat jauh sebelum kedatangan kolonialis Eropa, seperti misalnya makanan yang berbahan dasar jagung, labu, dan berbagai tanaman lain yang kemudian diadaptasi dalam hidangan Thanksgiving (The Washington Post, 2018).
Selain makanan, perayaan Thanksgiving modern juga sering kali dilakukan dengan malukan parade, seperti Macy’s Thanksgiving Day parade yang dilaksanakan secara besar-besaran di kota New York setiap tahun, pertandingan olahraga, dan kegiatan sosial seperti pemberian makanan kepada yang membutuhkan atau relawan komunitas (CNN, 2025).
Namun sekali lagi, lebih dari sekadar sejarah Amerika, pengalaman yang kami rasakan dan penjelasan yang kami dapatkan tentang perayaan Thanksgiving yaitu menjadikan momen untuk merenungkan rasa syukur atas segala yang telah diterima sepanjang tahun, baik dari sisi kesehatan, keluarga, persahabatan, maupun tantangan yang berhasil diatasi.
Bagi banyak keluarga, termasuk kami, keberagaman tentang cara merayakan Thanksgiving justru menunjukkan bagaimana nilai-nilai universal seperti kehangatan, kebersamaan, dan rasa hormat dapat menyatukan orang-orang dari latar belakang budaya dan keyakinan yang berbeda.
Dalam pengalaman yang kami rasakan saat perayaan Thanksgiving bahwa undangan dari kolega kami yang merupakan keluarga Amerika menunjukkan arti keterbukaan dan meja yang ramah sebagai simbol persaudaraan.
Selanjutnya, undangan yang kami dapatkan dari komunitas Bridge International di Columbus memberi ruang bagi masyarakat yang berasal dari lintas budaya dan keyakinan untuk berkumpul dalam suasana saling menghormati.
Terakhir kegiatan makan bersama yang kami laksanakan bersama sivitas akademika Ohio State University dalam rangka perayaan tahunan Thanksgiving mencerminkan bagaimana institusi pendidikan dapat menjadikan tradisi budaya sebagai jembatan merayakan pluralisme.
Pengalaman ini mengajarkan bahwa syukur dan kebersamaan bukan monopoli satu budaya atau agama tertentu, melainkan sebagai nilai manusia universal yang bisa diwariskan dalam berbagai konteks sosial, sehingga dari apa yang kami rasakan dan merujuk pada sejarah dari perayaan Thanksgiving di Amerika Serikat, bahwa Thanksgiving merupakan sebuah tradisi perayaan yang telah berkembang selama berabad-abad, dengan diawali dari budaya perayaan panen hasil pertanian lalu menjadi hari yang dilaksanakan serta diresmikan secara nasional, dari kisah sejarah yang disederhanakan menjadi ruang refleksi budaya yang lebih luas.
Perayaan ini mengajak kita untuk merenungkan berkah dalam hidup, menghargai hubungan antarmanusia, dan menghormati keberagaman pengalaman sejarah.
Dengan memahami sejarahnya secara lebih utuh, kita tidak hanya merayakan makan besar dan libur panjang, tetapi juga menghayati pesan universal tentang syukur, empati, dan penghormatan terhadap perbedaan.





