REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Universitas Al Azhar di Kairo, Mesir, hingga kini tetap menjadi magnet utama bagi pelajar Indonesia yang ingin menempuh pendidikan Islam tingkat dunia. Fenomena ini tidak lepas dari sejumlah keunggulan strategis yang belum sepenuhnya dimiliki perguruan tinggi Islam di dalam negeri.
Sekretaris Jenderal Kementerian Agama (Kemenag), Kamaruddin Amin, mengungkapkan setidaknya ada dua alasan utama mengapa ribuan mahasiswa Indonesia setiap tahun memilih kuliah di Universitas Al Azhar.
Baca Juga
Jelang Derbi Manchester, Carrick: Amad Diallo dan Harry Maguire Siap Main Kembali
Pernah Jadi Raja OTT KPK, Pejabat Kemenhaj Ini Mulai Panggil Sejumlah KBIH dan PIHK
KAI: 316 Perlintasan Rawan Kecelakaan Ditutup Sepanjang 2025
Alasan pertama, Universitas Al Azhar menyediakan pendidikan tanpa biaya kuliah bagi mahasiswa asing, disertai berbagai skema beasiswa yang menopang kebutuhan dasar mahasiswa selama studi.
Kedua, dukungan biaya hidup yang relatif rendah. Dibandingkan negara tujuan studi lainnya, Mesir menawarkan biaya hidup yang lebih murah, sehingga mahasiswa dari keluarga menengah ke bawah tetap memiliki akses menempuh pendidikan tinggi Islam berkualitas dunia.“Kenapa banyak orang Indonesia kuliah di Universitas Al Azhar, karena di sana kuliahnya gratis dengan beasiswa dan biaya hidup murah,”ujar Kamaruddin dalam siaran pers yang diterima Republika, Sabtu (17/1/2026).
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Hal ini disampaikan Kamaruddin saat memberikan arahan dalam Koordinasi Program Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K) PTKN se-Indonesia, 13–15 Januari 2026 di Jakarta. Pengalaman Al Azhar ini seharusnya menjadi pelajaran penting bagi Indonesia. Dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia dan ratusan PTKN, Indonesia memiliki modal kuat untuk menjadi destinasi pendidikan Islam global, asalkan didukung kebijakan yang tepat.
Prof Din Syamsuddin diterima oleh Grand Syeikh al-Azhar di Kairo, Mesir, pada 15 Oktober 2025. - (ist)