Lanzhou (ANTARA) - Sevira Putri Purnama Lumarso (22), seorang dokter muda asal Semarang, Provinsi Jawa Tengah, mulai mengejar impiannya untuk menjadi dokter pengobatan tradisional China (traditional Chinese medicine/TCM) yang unggul dengan menempuh pendidikan di China sejak 2023.
Sevira, yang memiliki nama Mandarin He Yinyin, kini telah menguasai keterampilan akupunktur serta teknik penggunaan jarum dalam TCM berkat pendidikannya di Universitas Pengobatan China Gansu (Gansu University of Chinese Medicine) di Provinsi Gansu, China barat laut.
Sejak masa anak-anak, Sevira sudah jatuh cinta kepada TCM yang menurutnya ajaib dan berharga. Setibanya di China, Sevira menemukan bahwa terminologi profesional dalam TCM, seperti diferensiasi sindrom, cukup menantang dan sulit untuk dipahami.
Untuk mengatasi hambatan tersebut, dia dengan tekun mencatat materi-materi perkuliahan, mempelajari kembali buku teks setelah kelas usai, serta aktif mencari bantuan dari dosen dan rekan sekelasnya saat menghadapi kesulitan. Studi teoretisnya memberikan fondasi yang kokoh, dan praktik klinis memperdalam pemahamannya tentang TCM.
"Dia memiliki sikap belajar yang sangat serius dan kemampuan pemahaman yang kuat. Mulai dari komunikasi bahasa hingga pengoperasian sistem diagnostik komputer dan penggunaan peralatan, dia menguasai semuanya dengan cepat," ujar Zhu Jin, sang mentor.
Sevira menemukan bahwa integrasi antara pengobatan tradisional China dan Barat dalam mengobati diabetes sangat efektif, terutama metode moksibusi (moxibustion), yang secara efektif merawat komplikasi diabetes. Dia juga mengatakan bahwa akupunktur, sebuah terapi TCM yang unik, tidak hanya bebas efek samping, tetapi juga menakjubkan dengan khasiatnya dalam mengobati penyakit seperti cerebral infarction.
Sekarang, dalam masa pelatihan klinisnya, Sevira menjalani rotasi tugas di berbagai departemen, termasuk departemen penyakit dalam, akupunktur, dan endokrinologi.
Dia mengembangkan kemampuan untuk membedakan sindrom dingin dan panas melalui diagnosis lidah, menafsirkan denyut nadi untuk mengidentifikasi penyakit, dan secara terampil melakukan pijat terapi serta akupunktur. Selain itu, Sevira juga memiliki pemahaman menyeluruh mengenai sifat dan kegunaan berbagai formula herbal China.
"Pada 2026, saya akan merayakan Tahun Baru Imlek ketiga saya di China. Saya akan makan pangsit, melihat-lihat lampion, dan merasakan tradisi Tahun Baru seperti warga China," ujar Sevira.
Mulai dari suasana reuni keluarga saat Festival Musim Semi hingga tradisi menikmati keindahan rembulan pada Festival Tengah Musim Gugur, dan bahkan ritme gerakan Tai Chi yang menenangkan, simbol-simbol budaya unik ini telah sangat memikat hatinya. Pemahaman yang menyeluruh tentang budaya tradisional China merupakan prasyarat utama untuk menguasai TCM.
Universitas Pengobatan China Gansu secara aktif sedang memperluas program TCM bagi mahasiswa internasional dengan menawarkan program sarjana lima tahun di bidang tersebut. Saat ini, selain Sevira, lebih dari 180 mahasiswa internasional dari 31 negara, termasuk Laos, Uzbekistan, Nigeria, Timor-Leste, Yaman, Vietnam, Rusia, Kirgizstan, Turkmenistan, dan Thailand, menuntut ilmu di universitas tersebut.
Menempuh pendidikan dan tinggal di China membuat Sevira dapat sepenuhnya merasakan vitalitas dan kehangatan negara ini.
"Dengan memanfaatkan kereta cepat yang nyaman, saya telah bepergian ke banyak tempat di China. Saya menyukai makanan China, dan saya sangat mengagumi pemandangan indah di sepanjang Sungai Kuning. Segala sesuatu di sini membuat saya merasa hangat dan nyaman," ujarnya.
Ketika berbicara tentang masa depan, Sevira berencana menjadi dokter setelah kembali ke Indonesia, mempromosikan pengobatan TCM yang telah dipelajarinya kepada warga Indonesia. Dia juga berencana bekerja sama dengan dokter lokal dalam penerapan teknik observasi, auskultasi, anamnesis, dan palpasi, serta berbagi pengetahuan tentang ramuan herbal China.
"TCM merupakan sistem diagnosis dan pengobatan ilmiah, dan yang lebih penting lagi, jembatan budaya yang menghubungkan China dengan dunia," katanya.
Dia juga mengucapkan terima kasih kepada para dosen dan temannya di China atas bantuan mereka selama masa pendidikannya. Dia berharap dapat menjadi penyebar budaya TCM yang membantu makin banyak warga Indonesia untuk memahami dan merasakan manfaat TCM.
Sevira, yang memiliki nama Mandarin He Yinyin, kini telah menguasai keterampilan akupunktur serta teknik penggunaan jarum dalam TCM berkat pendidikannya di Universitas Pengobatan China Gansu (Gansu University of Chinese Medicine) di Provinsi Gansu, China barat laut.
Sejak masa anak-anak, Sevira sudah jatuh cinta kepada TCM yang menurutnya ajaib dan berharga. Setibanya di China, Sevira menemukan bahwa terminologi profesional dalam TCM, seperti diferensiasi sindrom, cukup menantang dan sulit untuk dipahami.
Untuk mengatasi hambatan tersebut, dia dengan tekun mencatat materi-materi perkuliahan, mempelajari kembali buku teks setelah kelas usai, serta aktif mencari bantuan dari dosen dan rekan sekelasnya saat menghadapi kesulitan. Studi teoretisnya memberikan fondasi yang kokoh, dan praktik klinis memperdalam pemahamannya tentang TCM.
"Dia memiliki sikap belajar yang sangat serius dan kemampuan pemahaman yang kuat. Mulai dari komunikasi bahasa hingga pengoperasian sistem diagnostik komputer dan penggunaan peralatan, dia menguasai semuanya dengan cepat," ujar Zhu Jin, sang mentor.
Sevira menemukan bahwa integrasi antara pengobatan tradisional China dan Barat dalam mengobati diabetes sangat efektif, terutama metode moksibusi (moxibustion), yang secara efektif merawat komplikasi diabetes. Dia juga mengatakan bahwa akupunktur, sebuah terapi TCM yang unik, tidak hanya bebas efek samping, tetapi juga menakjubkan dengan khasiatnya dalam mengobati penyakit seperti cerebral infarction.
Sekarang, dalam masa pelatihan klinisnya, Sevira menjalani rotasi tugas di berbagai departemen, termasuk departemen penyakit dalam, akupunktur, dan endokrinologi.
Dia mengembangkan kemampuan untuk membedakan sindrom dingin dan panas melalui diagnosis lidah, menafsirkan denyut nadi untuk mengidentifikasi penyakit, dan secara terampil melakukan pijat terapi serta akupunktur. Selain itu, Sevira juga memiliki pemahaman menyeluruh mengenai sifat dan kegunaan berbagai formula herbal China.
"Pada 2026, saya akan merayakan Tahun Baru Imlek ketiga saya di China. Saya akan makan pangsit, melihat-lihat lampion, dan merasakan tradisi Tahun Baru seperti warga China," ujar Sevira.
Mulai dari suasana reuni keluarga saat Festival Musim Semi hingga tradisi menikmati keindahan rembulan pada Festival Tengah Musim Gugur, dan bahkan ritme gerakan Tai Chi yang menenangkan, simbol-simbol budaya unik ini telah sangat memikat hatinya. Pemahaman yang menyeluruh tentang budaya tradisional China merupakan prasyarat utama untuk menguasai TCM.
Universitas Pengobatan China Gansu secara aktif sedang memperluas program TCM bagi mahasiswa internasional dengan menawarkan program sarjana lima tahun di bidang tersebut. Saat ini, selain Sevira, lebih dari 180 mahasiswa internasional dari 31 negara, termasuk Laos, Uzbekistan, Nigeria, Timor-Leste, Yaman, Vietnam, Rusia, Kirgizstan, Turkmenistan, dan Thailand, menuntut ilmu di universitas tersebut.
Menempuh pendidikan dan tinggal di China membuat Sevira dapat sepenuhnya merasakan vitalitas dan kehangatan negara ini.
"Dengan memanfaatkan kereta cepat yang nyaman, saya telah bepergian ke banyak tempat di China. Saya menyukai makanan China, dan saya sangat mengagumi pemandangan indah di sepanjang Sungai Kuning. Segala sesuatu di sini membuat saya merasa hangat dan nyaman," ujarnya.
Ketika berbicara tentang masa depan, Sevira berencana menjadi dokter setelah kembali ke Indonesia, mempromosikan pengobatan TCM yang telah dipelajarinya kepada warga Indonesia. Dia juga berencana bekerja sama dengan dokter lokal dalam penerapan teknik observasi, auskultasi, anamnesis, dan palpasi, serta berbagi pengetahuan tentang ramuan herbal China.
"TCM merupakan sistem diagnosis dan pengobatan ilmiah, dan yang lebih penting lagi, jembatan budaya yang menghubungkan China dengan dunia," katanya.
Dia juga mengucapkan terima kasih kepada para dosen dan temannya di China atas bantuan mereka selama masa pendidikannya. Dia berharap dapat menjadi penyebar budaya TCM yang membantu makin banyak warga Indonesia untuk memahami dan merasakan manfaat TCM.




