REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --Kementerian Haji dan Umrah menyampaikan bahwa sebanyak 33,2 persen dari total petugas haji tahun ini adalah perempuan yang diharapkan akan meningkatkan kenyamanan bagi jamaah haji, khususnya jamaah haji perempuan.
Wakil Menteri Haji Dahnil Anzar Simanjuntak usai memimpin apel pagi dan lari bersama peserta diklat di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Sabtu pagi, mengatakan, angka persentase petugas haji perempuan tersebut melampaui target awal kementerian yang mematok kuota sebesar 30 persen.
- Pradi Supriatna Sebut Nilai Isra Miraj Relevan untuk Menjaga Harmoni Sosial
- Banjir di Barat Selatan Aceh dan Ujian Kepemimpinan Hulu–Hilir
- Fintech di 2026, Era Transformasi Keuangan yang Menjanjikan dan Tantangan Krusial
Ia menjelaskan bahwa peningkatan rasio petugas perempuan tersebut bukan tanpa alasan.
Berdasarkan data demografi, sebagian besar jamaah haji Indonesia adalah perempuan. Oleh karena itu, kehadiran petugas perempuan menjadi krusial untuk memberikan pelayanan yang lebih humanis, nyaman, dan sesuai dengan syariat, terutama dalam hal-hal yang bersifat privat dan konsultasi ibadah.
.rec-desc {padding: 7px !important;}"Ini memang kebijakan Pak Menteri, kita ingin afirmasi terhadap perempuan karena jamaah haji kita sebagian besar itu perempuan," ujar Dahnil.
Ia menyoroti banyaknya keluhan dan masukan dari tahun-tahun sebelumnya, di mana jamaah perempuan seringkali merasa canggung atau sungkan jika harus berkonsultasi masalah ibadah atau kesehatan kewanitaan dengan petugas laki-laki. Dengan adanya petugas perempuan yang proporsional, pendekatan personal dapat dilakukan dengan lebih efektif.
"Mereka akan lebih nyaman ketika berkomunikasi dengan sesama perempuan. Misalnya konsultasi ibadah, idealnya bicara dengan petugas perempuan. Sehingga pendekatannya bisa lebih personal dan emosional," katanya.
Selain aspek kenyamanan komunikasi, Dahnil juga menekankan pentingnya aspek empati. Para petugas, baik laki-laki maupun perempuan, dididik untuk menganggap jamaah haji, khususnya yang lansia, sebagai orang tua mereka sendiri. Namun, kehadiran petugas perempuan memberikan nuansa keibuan dan kepedulian yang spesifik, yang sangat dibutuhkan oleh jamaah wanita yang jauh dari keluarga.
Terkait proyeksi ke depan, ia menyatakan bahwa rasio petugas perempuan akan terus dievaluasi agar tetap proporsional dengan jumlah jamaah laki-laki dan perempuan.
"Yang jelas proporsionalitasnya akan kita lihat nanti," ujar Dahnil.
Kebijakan tersebut diharapkan dapat memberikan rasa tenang bagi keluarga jamaah di Tanah Air. Dengan mengetahui bahwa ibu atau nenek mereka dilayani oleh petugas perempuan yang memiliki watak empati dan simpati tinggi, keluarga yang ditinggalkan akan merasa lebih aman dan nyaman melepaskan kerabatnya menunaikan rukun Islam kelima.



