PRESIDEN Iran, Masoud Pezeshkian, secara terbuka menuding Amerika Serikat dan Israel sebagai aktor utama di balik gelombang protes berdarah yang mengguncang negaranya. Pernyataan ini muncul di tengah laporan penangkapan 3.000 orang dan manuver intelijen Israel di Amerika Serikat.
Pemerintah Iran mengeklaim memiliki bukti kuat adanya keterlibatan kekuatan asing dalam menggerakkan aksi protes yang berujung ricuh di berbagai wilayah. Pezeshkian menegaskan eskalasi di lapangan merupakan hasil campur tangan Washington dan sekutu dekatnya di Timur Tengah.
"Peran dan keterlibatan langsung Amerika Serikat serta rezim Zionis dalam peristiwa terbaru di Iran sangat jelas," tegas Pezeshkian sebagaimana dirilis kantor kepresidenan Iran yang dikutip dari AFP.
Baca juga : Iran: 3.000 "Teroris" Ditangkap Pasca-Kerusuhan Massal
Tudingan ini mencuat setelah Dewan Keamanan PBB menggelar sesi khusus pada Kamis (15/1). Dalam forum tersebut, posisi Iran mendapat dukungan dari Rusia. Duta Besar Rusia untuk PBB bahkan menuduh balik Amerika Serikat telah mengeksploitasi isu domestik Iran untuk memicu ketegangan yang lebih luas di kawasan.
3.000 Orang Ditahan dan Status 'Teroris'Seiring dengan narasi keterlibatan asing, otoritas keamanan Iran mengumumkan telah menahan sedikitnya 3.000 orang yang dituduh sebagai "teroris". Laporan kantor berita Tasnim pada Jumat (16/1) menyebutkan bahwa para tahanan mencakup pemimpin kerusuhan, individu yang terafiliasi dengan Israel, serta kelompok bersenjata.
Meskipun situasi mengeklaim relatif tenang, Teheran tetap waspada terhadap upaya sabotase internasional. Narasi ini digunakan untuk mengonsolidasikan dukungan domestik guna menjelaskan akar kerusuhan yang semula dipicu oleh depresiasi tajam mata uang rial pada akhir Desember lalu.
Baca juga : Kondisi Iran Terkini: Sunyi Senyap Pasca-Tindakan Keras dan Bayang-bayang Ancaman AS
Di level internasional, ketegangan justru kian memanas. Kepala Mossad, David Barnea, dilaporkan tiba di Florida pada Jumat (16/1) untuk bertemu utusan khusus AS, Steve Witkoff. Pertemuan ini fokus membahas kemungkinan serangan militer AS terhadap Iran.
Namun, laporan The New York Times mengungkap adanya dinamika internal yang mengejutkan. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, justru dilaporkan meminta Presiden Donald Trump untuk menunda rencana serangan militer tersebut pada Rabu lalu.
Israel khawatir Iran akan memanfaatkan penundaan ini untuk memperkuat posisi pertahanan mereka.
Aksi protes yang bermula dari keluhan ekonomi ini berubah menjadi tragedi nasional, terutama pada puncaknya tanggal 8 dan 9 Januari. Kerusuhan mengakibatkan kerusakan masif pada fasilitas umum hingga tempat ibadah.
Data dari lembaga hak asasi manusia HRANA mencatat jumlah total korban jiwa mencapai 2.677 orang, yang terdiri dari:
- 2.478 demonstran (termasuk laporan insiden tragis seorang perawat perempuan yang tewas di Karaj).
- 163 aparat pemerintah.
Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan bahwa meski sekitar 800 rencana eksekusi mati telah dihentikan, Washington tidak akan tinggal diam.
"Semua opsinya tetap di atas meja," ujar Leavitt, menegaskan posisi siaga Presiden Donald Trump. (Ndf/Ant/I-1)




