Bripda Rio Desersi Jadi Tentara Rusia, Alarm Pembinaan Personel Polri

kompas.id
7 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS — Baru-baru ini, Polda Aceh secara resmi menjatuhkan sanksi pemberhentian tidak dengan hormat atau PTDH kepada Brigadir Dua Muhammad Rio, anggota Satuan Brimob Polda Aceh. Pemberian sanksi itu dikarenakan Rio meninggalkan tugasnya dan bergabung dengan militer Rusia.

Kondisi ini dipandang sebagai indikasi adanya persoalan serius dalam pola pembinaan sumber daya manusia dan jenjang karier anggota keamanan dan pertahanan. Hal ini mengingat sebelumnya juga ada eks Marinir TNI yang desersi dan diketahui bergabung dengan militer Rusia.

Adapun sanksi PTDH terhadap Rio dijatuhkan melalui sidang Komisi Kode Etik Polri (KKEP) yang digelar pada 8-9 Januari 2026. Rio diketahui bergabung dengan pasukan Rusia dan kini berada di wilayah konflik Donbass, Ukraina.

Peneliti Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Bambang Rukminto, menyebutkan, kasus Rio bukan kejadian pertama yang melibatkan aparat keamanan dan pertahanan Indonesia. Pada 2025, hal serupa juga terjadi saat seorang desertir TNI bergabung dengan militer Rusia.

”Fenomena ini bukan hanya indikasi adanya problem disiplin personel, melainkan juga menyangkut marwah institusi negara, yakni Polri. Ini preseden buruk,” ujar Bambang saat dihubungi dari Jakarta, Sabtu (17/1/2026).

Baca JugaKasus ”Stateless” seperti Eks Marinir TNI AL Arta Kumbara, Ini Dampak Orang Tanpa Kewarganegaraan

Menurut dia, keputusan seorang anggota kepolisian untuk menjadi tentara bayaran di negara lain bisa jadi dipicu oleh ketidakpuasan terhadap sistem di dalam institusi asalnya. Karena itu, Bambang menilai ada hal lain yang lebih mendasar dari sekadar pelanggaran disiplin.

Ia berharap Polri dapat berbenah, khususnya mengenai pengelolaan sumber daya manusia. Evaluasi perlu dilakukan pada aspek pengawasan dan pembinaan karier personel. ”Ini juga menyangkut meritokrasi dan harapan personel pada pengembangan karier,” ujarnya menambahkan.

Fenomena ini bukan hanya indikasi adanya problem disiplin personel, melainkan juga menyangkut marwah institusi negara, yakni Polri. Ini preseden buruk.

Disebut miliki banyak masalah

Terkait dengan tindakan Rio yang meninggalkan tugas dan bergabung dengan tentara Rusia, Kepala Bidang Humas Polda Aceh Komisaris Besar Joko Krisdiyanto mengungkapkan bahwa Rio memiliki rekam jejak banyak masalah. Sebelum desersi, Rio pernah dijatuhi sanksi demosi atau penurunan jabatan selama dua tahun akibat kasus asusila. Sanksi demosi ini berpotensi menutup peluang pengembangan kariernya dalam jangka waktu tertentu.

”Secara akumulatif, yang bersangkutan telah satu kali disidang KKEP atas kasus perselingkuhan, kemudian dua kali disidang atas kasus disersi dan dugaan keterkaitan dengan tentara Rusia. Artinya, yang bersangkutan telah tiga kali menjalani sidang dengan putusan terakhir berupa PTDH,” kata Joko menegaskan.

Baca JugaSeorang Prajurit TNI di Papua Desersi dengan Membawa Senjata

Polda Aceh, lanjut dia, juga telah memetakan jalur pelarian Rio. Berdasarkan data perlintasan, Rio tercatat terbang dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta menuju Bandara Internasional Pudong, Shanghai, 18 Desember 2025. Sehari kemudian, ia melanjutkan penerbangan ke Haikou, China, hingga akhirnya jejaknya terlacak masuk ke wilayah Federasi Rusia.

Terkait keberadaan Rio, Divisi Hubungan Internasional (Divhubinter) Polri melalui NCB Interpol Indonesia dilaporkan telah berkoordinasi dengan Atase Kepolisian Rusia di Jakarta. Namun, upaya memulangkan Rio ke Tanah Air menghadapi kendala besar.

Adapun Rio terkonfirmasi bergabung dengan perusahaan militer swasta yang kerap ditempatkan di garis depan pertempuran. Salah satunya adalah wilayah Donbass, tempat Rio diduga berada. Statusnya sebagai kombatan aktif membuat ekstradisi atau pemulangannya sulit, baik secara diplomatik maupun keamanan.

Baca JugaKelompok Tentara Bayaran Wagner Bertempur demi Uang dan Putin
Iming-iming gaji

Berdasarkan informasi yang dihimpun Kompas, Rio sempat mengirimkan pesan kepada rekan sejawatnya di Provos Satbrimob Polda Aceh pada 7 Januari 2026, yang menyiratkan keberhasilan instannya di Rusia. Ada pula kiriman foto pria berseragam militer taktis lengkap dengan senjata serbu.

Kepada rekannya itu, Rio menyatakan tekadnya sudah bulat. Rio mengklaim telah lulus seleksi tentara Rusia dan langsung mendapatkan pangkat Letnan Dua (Letda). Menurut Rio, hal itu dimungkinkan karena kemampuan bahasa Inggris dan Rusia yang dimilikinya saat sesi wawancara.

Tak hanya pangkat, kepada rekannya di Polda Aceh, Rio juga memamerkan pendapatan finansial yang fantastis.

Tak hanya pangkat, kepada rekannya di Polda Aceh, Rio juga memamerkan pendapatan finansial yang fantastis. Ia menyebut menerima bonus awal (signing bonus) sebesar 2 juta rubel atau setara Rp 420 juta, serta gaji bulanan sebesar 210.000 rubel (sekitar Rp 42 juta). Angka ini jauh melampaui pendapatannya sebagai bintara Polri.

Selain itu, Rusia ternyata bukan satu-satunya opsi pelarian Rio. Kepada rekannya, ia mengaku sempat berupaya mendaftar secara daring ke berbagai kesatuan militer asing lain. Ia menyebut pernah mencoba mendaftar ke Angkatan Darat Amerika Serikat (US Army) sebanyak satu kali dan militer Jerman sebanyak dua kali, tetapi gagal sebelum akhirnya diterima di Rusia.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Venezuela: Serangan AS tewaskan 83 orang, termasuk 32 warga Kuba
• 13 jam laluantaranews.com
thumb
Disebut Tak Masuk Logika, Pemda Sedot Rp 1 Miliar Per Hari Cuma Buat Makan Minum
• 17 jam lalukompas.com
thumb
Mengapa Iran Tak Mudah Tumbang?
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
Ketua KY soroti dualisme pengawasan hakim, usul bawas terpadu
• 14 jam laluantaranews.com
thumb
4 Astronaut ISS Kembali ke Bumi Lebih Awal karena Masalah Medis
• 3 jam laluidntimes.com
Berhasil disimpan.