Jakarta, VIVA – Pesawat ATR 42-500 dikenal sebagai armada penerbangan regional yang efisien dengan nilai ekonomi tinggi di industri aviasi. Dari sisi harga hingga biaya operasional, pesawat yang diproduksi pada tahun 1994 hingga 2012 ini menjadi pilihan favorit bagi pelaku operator yang mengincar efisiensi dan fleksibilitas rute jarak menengah.
Dikutip Aero Corner, pesawat ATR 42-500 baru mencapai sekitar US$12 juta atau sekitar Rp 202,9 miliar (estimasi kurs Rp 16.910 per dolar AS). Namun di pasar sekunder, harga ATR 42-500 terbilang lebih kompetitif.
Rata-rata pesawat bekas jenis ini dibanderol di kisaran US$4,5 juta atau Rp 76 miliar, demikian data Aircraft Cost Calculator. Harga tergantung kondisi unit, jam terbang, serta konfigurasi kabin yang digunakan.
- Indonesia Air Transport
Dari sisi pembiayaan, pesawat turboprop yag diproduksi pada tahun 1994 hingga 2012 dinilai relatif terjangkau bagi maskapai regional maupun operator charter. Dengan skema pinjaman sebesar US$2,25 juta selama 120 bulan, cicilan yang harus dibayarkan berada di kisaran US$112.823 per periode, termasuk bunga bulanan sekitar US$9.375.
Efisiensi biaya menjadi salah satu daya tarik utama pesawat ini. Berdasarkan estimasi operasional 450 jam terbang per tahun dan harga bahan bakar US$6 per liter.
Dengan demikian, total biaya variabel ATR 42-500 mencapai US$1,58 juta per tahun. Sementara itu, biaya tetapnya berada di level US$605.996 per tahun.
Jadi, total anggaran operasional tahunan pesawat ini tercatat sekitar US$2,19 juta. Jika dirinci, biaya operasionalnya setara dengan US$4.874 per jam terbang maka pengeluaran yang dikeluarkan operator tergolong kompetitif di kelas pesawat turboprop regional.
Secara performa, ATR 42-500 mampu terbang hingga ketinggian maksimum 25.000 kaki dengan kecepatan jelajah sekitar 300 knot. Jarak tempuh maksimalnya mencapai 4.280 kilometer dalam kondisi kursi terisi penuh, menjadikannya ideal untuk rute domestik dan regional.
Pesawat ini mampu mengangkut hingga 46 penumpang di luar kru penerbangan. pesawat baling-baling ini menawarkan interior kelas atas dengan material pilihan yang dirancang menghadirkan suasana kabin berkelas
Kombinasi harga akuisisi yang relatif terjangkau dan biaya operasional yang efisien membuat ATR 42-500 tetap relevan secara bisnis, meski produksinya telah dihentikan. Tak heran, pesawat ini masih menjadi aset bernilai bagi pelaku industri penerbangan yang mengedepankan efisiensi dan keberlanjutan operasional.



