JAKARTA, KOMPAS.com – Dua hari sebelum pesawat yang ditumpanginya hilang kontak di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, staf Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Deden Maulana sempat berpamitan kepada tetangganya.
Momen sederhana itu kini menjadi kenangan terakhir warga sekitar terhadap Deden, yang hingga Sabtu (17/1/2026) malam belum diketahui keberadaannya setelah pesawat ATR 42-500 yang ditumpanginya dinyatakan hilang kontak.
Baca juga: Menteri KP Sambangi Keluarga Penumpang Pesawat Hilang, Tangis Istri Pecah
Tetangga Deden, Suratno, mengatakan pamitan tersebut terjadi pada Jumat (15/1/2026), saat ia tengah duduk di ujung gang rumah.
“Saya lagi duduk di sini juga, dia pamit sama saya, ‘Pak No, berangkat dulu ya,’ kata saya, ‘Oh iya hati-hati,’ begitu,” ujar Suratno saat ditemui di rumah Deden, Sabtu malam.
Baca juga: Tiga Pegawai KKP dan Tujuh Kru Pesawat ATR 42-500 Hilang Kontak di Maros
Menurut Suratno, Deden dikenal sebagai pribadi yang pendiam dan jarang berbincang panjang dengan warga sekitar.
Namun, kabar hilangnya pesawat yang ditumpangi Deden membuat suasana rumah mendadak berubah menjadi penuh kepiluan.
Suratno mengaku menyaksikan langsung istri Deden, Vera, menangis histeris setelah menerima kabar tersebut.
“Saya awalnya enggak tahu. Saya lagi tiduran lagi kurang sehat juga. Begitu saya bangun, istri Pak Deden nangis depan rumah saya. Saya kaget ada apa gitu, katanya, ‘Pak Deden pesawatnya jatuh,’ katanya gitu,” ungkap Suratno.
Hingga Sabtu malam, keluarga dan tetangga belum menerima kabar lanjutan terkait kondisi Deden yang hilang bersama dua pegawai KKP lainnya dalam pesawat ATR 42-500 dengan registrasi PK-THT.
Suratno mengatakan, warga hanya bisa memberikan dukungan moral kepada keluarga.
Didatangi Menteri Trenggono
Sekitar pukul 22.26 WIB, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menyambangi rumah Deden di Jati Padang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Trenggono sempat berbincang dengan Vera selama beberapa saat.
Vera tampak tak kuasa menahan air mata saat duduk bersebelahan dengan anaknya yang masih kecil.
Tak lama kemudian, Trenggono meninggalkan rumah Deden dan melanjutkan kunjungan ke rumah pegawai KKP lainnya, Yoga Naufal, seorang operator kamera pengawas udara, di Duren Sawit, Jakarta Timur.