Pandji dan Seni: Imajinasi Itu Provokatif

kompas.com
18 jam lalu
Cover Berita

PANDJI Pragiwaksono hebat. Ia sukses membawa seni humor model stand-up comedy menjadi tontonan mewah. Sekaligus wah sebagai tuntunan. Sumber rezeki yang wah pula.

Biasanya hanya grup band yang berani bikin pertunjukan keliling. Namun, Pandji mengubah sejarah.

Ia keliling dunia sejak 2014. Pandji menghibur sekaligus memprovokasi pemirsa warga negara Indonesia di sejumlah kota dunia.

Pada 2025, Pandji pentas di 11 kota besar Indonesia. Puncak tur digelar di Arena, Jakarta Pusat, pada 30 Agustus 2025, dengan disaksikan 10.000 penonton.

Spesial “Mens Rea” yang dibawakan di Arena lalu resmi tayang di platform streaming Netflix sejak 27 Desember 2025. Luar biasa, langsung menyita perhatian publik, bertengger di puncak kategori TV Shows di Netflix Indonesia. Maklum, “Mens Rea” sarat teks politik.

Pandji tidak hanya mengocok isi perut penonton, tapi juga menjungkirbalikkan isi kepalanya. Walhasil, “Mens Rea” Pandji Pragiwaksono mengundang tepuk tangan penonton di satu sisi, tapi di sisi lain dikecam, bahkan dilaporkan ke polisi.

Baca juga: Berkah Tuhan Jadi Kutukan Venezuela: Pelajaran Mahal bagi Indonesia

Saya tidak heran. Begitulah karya cipta yang didominasi kerja imajinasi, bukan logika saja.

Bukan komunikasi biasa

Karya seni bukan komunikasi biasa. Pandji di “Mens Rea” memang membawakan materi politik, kental isu-isu politik, tapi ia tidak sedang berpidato politik.

Pandji memainkan kata dan bahasa tubuh secara imajinatif untuk melukiskan sesuatu, serupa dengan pelukis yang memainkan kuas dan cat.

Tugas penonton menemukan makna di balik teks-teks yang diproduksi seniman. Menemukannya secara imajinatif pula. Maka, buat saya, penikmat seni sejatinya adalah penyambung imajinasi seniman.

Di sanalah ruang imajinasi penonton dibuka. Ia akan menghubungkan teks yang satu dengan teks lainnya, dengan melibatkan pengetahuan, pengalaman, bahkan kepentingan dirinya. Karena itu, bisa saja imajinasi penonton lebih dahsyat daripada pencipta karya seni itu sendiri.

Di sanalah imajinasi bisa memprovokasi. Daya provokasinya bisa sangat kuat, yang memungkinkan orang membayangkan kemungkinan-kemungkinan (harapan) baru, menantang status quo, membangkitkan emosi, membangun solidaritas, dan memicu perubahan.

Dengan imajinasi, seseorang memungkinkan untuk memvisualisasikan realitas alternatif di luar yang ada. Daya provokasinya berpotensi mengguncang keyakinan dan struktur yang sudah mapan.

Coba bayangkan, bagaimana mungkin pisang yang harganya tak sampai Rp 5.000, memiliki nilai tambah yang fantastis mencapai milyaran rupiah? Di tangan Maurizio Cattelan, seniman asal Italia, pisang itu laku miliaran rupiah.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Ia memanfaatkannya menjadi instalasi seni. Sederhana sekali. Pisang ditempelkan ke dinding dengan lakban, lalu diberi judul “Comedian”. Sang seniman melengkapinya dengan buku berisi instruksi tertulis cara memajang pisang dan cara menggantinya jika mulai membusuk.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pangdam XIV: Jenazah Korban Pesawat ATR 42-500 Dibawa ke RS Bhayangkara untuk Identifikasi
• 9 jam lalukompas.tv
thumb
Saatnya Beradaptasi untuk Mengurangi Kerugian akibat Banjir di Jakarta
• 6 jam lalukompas.id
thumb
Prakiraan Cuaca BMKG Minggu 18 Januari, Sebagian Besar Wilayah Indonesia Hujan
• 17 jam lalukompas.tv
thumb
Pemerintah Targetkan Hunian Sementara di Aceh-Tapsel Rampung Sebelum Ramadan
• 14 jam lalukumparan.com
thumb
Sepuluh Ruas Jalan di Jakarta Banjir, Layanan Transjakarta Terdampak
• 15 jam lalukompas.id
Berhasil disimpan.