BMKG Waspadai Intensifikasi Hujan Lebat di Jabodetabek, 16–23 Januari 2026

tvrinews.com
19 jam lalu
Cover Berita

Penulis: Lidya Thalia.S

TVRINews, Jakarta

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi peningkatan curah hujan di wilayah Jabodetabek pada periode 16 hingga 23 Januari 2026. Peringatan ini disampaikan berdasarkan informasi resmi BMKG pada Minggu, 18 Januari 2026.

BMKG menyebutkan bahwa selama periode tersebut cuaca berpotensi berubah dengan cepat dan hujan dapat turun dengan intensitas sedang hingga lebat, bahkan disertai petir dan angin kencang di sejumlah wilayah.

Peningkatan curah hujan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor atmosfer yang terjadi secara bersamaan, antara lain:
* Keberadaan Bibit Siklon Tropis 96S dan 97S
* Seruakan udara dingin (cold surge)
* Aktifnya gelombang atmosfer Rossby dan Kelvin
* Kondisi udara yang sangat lembap di berbagai lapisan atmosfer
* Atmosfer yang bersifat labil
Kombinasi faktor tersebut berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan jenis cumulonimbus di sebagian besar wilayah Jabodetabek.

Wilayah Berpotensi Hujan Lebat 17–19 Januari 2026

BMKG mengimbau kewaspadaan terhadap hujan lebat yang dapat disertai petir/kilat dan angin kencang pada 17–19 Januari 2026 di wilayah:
* Jakarta Utara
* Jakarta Timur
* Jakarta Barat
* Jakarta Pusat
* Kabupaten Tangerang
* Kota Tangerang Selatan
* Kabupaten dan Kota Bogor

Wilayah Berpotensi Hujan Lebat 20–23 Januari 2026

Sementara itu, potensi hujan lebat juga diperkirakan terjadi pada 20–23 Januari 2026 di:
* Kepulauan Seribu
* Kabupaten Bogor

BMKG mengimbau masyarakat untuk:
* Meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca yang cepat
* Menyesuaikan rencana perjalanan dan aktivitas luar ruangan
* Mengantisipasi potensi dampak bencana seperti banjir dan tanah longsor

Perkembangan Siklon Tropis dan Dampaknya

Selain kondisi di Jabodetabek, BMKG juga memantau beberapa sistem siklon tropis di sekitar wilayah Indonesia.

Siklon Tropis NOKAEN terpantau berada di Laut Filipina sebelah timur Manila. Dalam 24 jam ke depan, kecepatan angin maksimum diperkirakan bertahan pada kategori 1 dan bergerak ke arah barat laut, menjauhi wilayah Indonesia.

Dampak tidak langsung yang ditimbulkan berupa gelombang setinggi 1,25–2,5 meter di Perairan Sangihe–Talaud dan Samudra Pasifik utara Maluku.
Bibit Siklon Tropis 96S terpantau di Samudra Hindia selatan Jawa Timur. Bibit siklon ini memiliki peluang rendah berkembang menjadi siklon tropis dan bergerak ke arah barat daya, menjauhi Indonesia dalam 24 jam ke depan.

Dampak tidak langsungnya meliputi gelombang 1,25–2,5 meter di Selat Bali, Selat Lombok, Selat Sumba, serta Samudra Hindia selatan Jawa hingga NTB.

Sementara itu, Bibit Siklon Tropis 97S terpantau di pesisir utara Australia dan juga memiliki peluang rendah menjadi siklon tropis. Sistem ini bergerak ke arah barat laut dan berdampak tidak langsung pada:
* Hujan sedang hingga lebat di Nusa Tenggara Timur (NTT)
* Gelombang 1,25–2,5 meter di Perairan Kupang, Laut Sawu, Laut Banda, Perairan Kepulauan Kei dan Aru, Perairan Kepulauan Babar, serta Laut Arafura bagian tengah dan timur
* Gelombang tinggi 2,5–4,0 meter di Samudra Hindia selatan NTT dan Laut Arafura bagian barat

BMKG mengimbau masyarakat pesisir serta pelaku pelayaran di wilayah terdampak untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi.

Editor: Redaksi TVRINews

Komentar
1000 Karakter tersisa
Kirim
Komentar

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pesawat ATR yang Hilang Kontak Ditemukan di Puncak Bukit Bulusaraung
• 17 jam laluviva.co.id
thumb
Iran Memanas, Khamenei Tuduh Trump Dalang Kerusuhan Berdarah
• 10 jam lalugenpi.co
thumb
Perkuat Lini Belakang, Persis Rekrut Pemain Serbia Dusan Mijic
• 3 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Banjir Meluas di Jateng, BNPB Catat Ribuan Warga Terdampak
• 11 jam laluokezone.com
thumb
Lahan Sawah di Ciranjang Cianjur Diserang Penyakit dan Burung
• 7 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.