Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan hingga pekan depan dan berpotensi menembus level Rp17.000 per dolar AS. Pelemahan tersebut dipicu kombinasi sentimen global yang mulai mereda serta faktor domestik, termasuk penguatan pasar saham yang justru memberi tekanan pada mata uang.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup melemah 0,18% atau 30,50 poin ke level ke Rp16.895,5 per dolar AS pada Kamis (15/1/2026). Adapun pada saat bersamaan, indeks dolar AS melemah tipis 0,15% ke level 99,20.
Direktur Utama PT Forexindo Laba Berjangka Ibrahim Assuaibi memproyeksikan pergerakan rupiah masih akan dipengaruhi oleh beragam sentimen eksternal dan internal. Dari sisi global, perhatian pasar tertuju pada dinamika geopolitik, konflik perpolitikan di Amerika Serikat, serta rilis data ekonomi Negeri Paman Sam.
Di dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga terjadi seiring dengan kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencatatkan all time high, yang mendorong pergeseran arus dana.
"Nilai tukar rupiah diperkirakan minggu depan bergerak dalam rentang Rp16.840 hingga tembus Rp17.000 per dolar AS. Semakin, tinggi IHSG semakin lemah rupiah," ujarnya, Kamis (15/1/2026).
Ibrahim memaparkan, tensi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran relatif mereda setelah Presiden AS Donald Trump mengindikasikan tidak adanya rencana eksekusi skala besar karena otoritas Iran disebut akan menghentikan pembunuhan terhadap para demonstran.
Baca Juga
- Pizza Hut (PZZA) Beberkan Strategi Hadapi Pelemahan Nilai Tukar Rupiah
- Nilai Tukar Rupiah Pekan Ini Melemah Beruntun, Menteri Rosan Bicara Dampaknya ke Investasi
- Purbaya Klaim Fundamental Ekonomi RI Kuat, Pelemahan Rupiah Tak Akan Lama
Kondisi tersebut turut meredakan kekhawatiran pasar bahwa Washington tengah mempersiapkan respons militer dalam waktu dekat.
Selain itu, sentimen positif juga datang dari sinyal hubungan AS dan Venezuela. Pemerintah AS mengisyaratkan pembicaraan yang konstruktif setelah Presiden Trump menyebut telah berbicara dengan pemimpin sementara Venezuela, Delcy Rodríguez, pada Kamis sebelumnya.
Trump menggambarkan komunikasi tersebut sebagai sangat positif, dengan diskusi mencakup sektor minyak, mineral, perdagangan, hingga keamanan nasional, yang dinilai membawa kemajuan signifikan dalam upaya AS membantu stabilisasi Venezuela.
Sentimen global lainnya datang dari pernyataan Trump yang menegaskan tidak berencana memecat Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, meskipun tengah berlangsung penyelidikan tertentu. Pernyataan tersebut meredakan kekhawatiran investor terkait independensi kebijakan moneter AS.
Sementara itu, laporan Indeks Harga Produsen (PPI) AS untuk Oktober menunjukkan harga produsen masih jauh dari target inflasi 2% The Fed. Meski demikian, pelaku pasar tetap meyakini bank sentral AS akan memangkas suku bunga pada 2026, yang turut membentuk ekspektasi pergerakan pasar keuangan global, termasuk nilai tukar rupiah.




