Ketua Bidang Komersial Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), Sigit Kumala, mengungkap bahwa sebanyak 65 persen konsumen sepeda motor di Indonesia melakukan pembelian secara kredit pada 2025.
Menurutnya, dukungan industri pembiayaan memiliki peran penting untuk menciptakan serta menjaga pasar kendaraan roda dua. Sehingga, berbagai lapisan masyarakat bisa merasakan kemudahan dalam memiliki sepeda motor.
”Kontribusi pembelian secara kredit yang mencapai sekitar 65 persen menempatkan industri pembiayaan sebagai support system yang berperan penting dalam menjaga laju pertumbuhan pasar di tahun lalu,” ucap Sigit dalam keterangan resmi AISI.
Pembelian secara kredit rupanya bukan sekadar membuka kesempatan bagi siapa pun untuk membeli sepeda motor. Melainkan turut membantu penyerapan di segmen kelas menengah yang mengalami pelemahan daya beli.
"Tahun lalu diwarnai penurunan daya beli terutama di masyarakat ekonomi menengah dan mereka memilih membeli sepeda motor untuk menopang kegiatan ekonomi produktif mereka. Ini juga membuat market tahun lalu tetap tumbuh meski tidak besar,” sambungnya.
Secara total, AISI membukukan total penjualan sepeda motor berjumlah 6.412.769 unit hingga tutup tahun 2025. Capaian tersebut naik 1,3 persen dibandingkan periode 2024 lalu.
Adapun raihan bulanan berada di angka 535 ribu unit per bulan. Menurut Sigit, ini menunjukkan kebutuhan masyarakat terhadap kendaraan yang punya nilai efisiensi guna menunjang kebutuhan mobilitas harian.
”Rata-rata per bulan penjualan sepeda motor domestik di angka 535 ribu unit. Ini menggambarkan sepeda motor memang sangat dibutuhkan karena efisien dan efektif dipakai untuk memenuhi kebutuhan ekonomi maupun untuk leisure dan gaya hidup masyarakat kita,” jelasnya.
Adapun porsi skuter matik masih mendominasi. Tercatat kontribusinya mencapai 91,7 persen dari total penjualan. Sisanya, motor underbone di angka 4,46 persen, 3,51 persen untuk motor sport, dan motor listrik masih di bawah 1 persen.
Pada 2025, pasar di area Pulau Jawa sejatinya mengalami penurunan penjualan. Namun, pertumbuhan permintaan secara signifikan di luar Pulau Jawa mampu mengkompensasi penurunan itu. Alhasil, pasar tetap stabil dan cenderung naik.




