Kiai Zuhri: Pesantren Harus Hadir dalam Dakwah yang Menyentuh Kehidupan Nyata

republika.co.id
14 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, PROBOLINGGO -- Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur KH Moh Zuhri Zaini menyebut misi utama pesantren adalah dakwah yang mencakup berbagai aspek kehidupan, mulai dari ritual, spiritual, sosial, ekonomi, hingga politik.

Kiai Zuhri mencontohkan Nabi Muhammad SAW sebagai pebisnis sukses yang menggunakan hartanya untuk perjuangan dakwah. Hal serupa, menurut dia, juga dilakukan oleh pendiri Pondok Pesantren Nurul Jadid KH Zaini Mun’im.

Baca Juga
  • Dirut IAT Rinci Jumlah Kru Pesawat yang Hilang Kontak, Pencarian Terus Berlanjut
  • Dewan Perdamaian Gaza Resmi Diumumkan, Apa Itu? 9 Tanya Jawab Ini Menjawabnya
  • Netanyahu Kebakaran Jenggot, Turki dan Qatar Masuk Dewan Perdamaian Gaza

“Kiai Zaini Mun’im adalah seorang pebisnis tembakau, dan beliau membudidayakan tembakau hingga mampu membangun masjid pertama di pesantren ini dari hasil penjualannya. Beliau mengajarkan ekonomi adalah sarana ibadah dan perjuangan,” ujarnya dalam acara halaqah alumni rangkaian Haul Masyayikh dan peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-77 di Aula Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo, Sabtu (17/1/2026).

Ia juga menekankan pentingnya penguasaan ekonomi dengan mengutip semboyan, “Laisa indal fulus fahuwa manfus,” yang dimaknai sebagai orang yang tidak memiliki uang akan sulit bergerak.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Selain aspek ekonomi, Kiai Zuhri menceritakan bagaimana KH Zaini Mun’im melakukan dakwah kultural secara bijak. Salah satunya dengan mengubah tradisi sesajen di sawah menjadi tradisi tumpengan yang disertai pembacaan doa Surat Yasin dan Tahlil.

“Cara mengubah tradisi yang tidak sesuai syariat dilakukan dengan bijak, tidak dengan marah-marah apalagi memakai pentungan. Ini perlu kita tiru,” katanya.

Dalam bidang pendidikan, lanjut Kiai Zuhri, Pesantren Nurul Jadid telah menerapkan kurikulum yang menggabungkan ilmu agama, seperti kitab kuning, dengan ilmu umum, di antaranya matematika dan sosiologi, jauh sebelum kurikulum nasional diterapkan secara luas. 

 

Loading...
.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;}
sumber : Antara
Advertisement

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Banjir Kembali Rendam Gunung Sahari, Akses Mangga Dua Terputus
• 10 jam laludetik.com
thumb
Bursa Transfer AC Milan: Temukan Jelmaan Mirko Vucinic, Igli Tare Siap Bakar Uang demi Gaet Wonderkid Klub Serbia
• 2 jam lalutvonenews.com
thumb
Banjir Rendam Permukiman Cakung Barat, Ratusan Warga Mengungsi
• 5 jam lalujpnn.com
thumb
Sudinhub Jakut sebar petugas atur lalu lintas di lokasi banjir 
• 7 jam laluantaranews.com
thumb
Ratusan Tim SAR Dikerahkan ke Bulusaraung Lokasi Penemuan Serpihan Pesawat
• 12 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.