Penulis: Fityan
TVRInews - Pidie Jaya
Sepuluh barak siap huni diserahkan ke pemerintah daerah untuk ringankan beban penyintas bencana menjelang Ramadan.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengonfirmasi penyelesaian pembangunan hunian sementara (huntara) bagi puluhan keluarga yang kehilangan tempat tinggal akibat bencana di Desa Manyang Cut, Meureudu, Pidie Jaya.
Langkah ini merupakan bagian dari percepatan pemulihan infrastruktur dasar agar warga terdampak dapat memiliki tempat tinggal yang layak sebelum memasuki bulan suci Ramadan.
Tenaga Ahli BNPB, Kolonel (Purn) Agus Marsanto, menjelaskan bahwa fasilitas yang telah rampung terdiri dari 10 unit barak atau kopel yang mampu menampung 50 Kepala Keluarga (KK). Proyek yang dimulai sejak awal Januari ini kini dalam proses transisi administratif untuk segera dihuni.
"Sebanyak 10 kopel huntara telah selesai dan akan segera kami serahkan kepada pemerintah daerah agar masyarakat bisa secepatnya menempati fasilitas tersebut," ujar Agus dalam keteranganya yang dikutip laman resmi BNPB Sabtu 17 Januari 2026.
Fasilitas Dasar dan Spesifikasi Teknis
Pembangunan di atas lahan seluas 2.000 meter persegi ini tidak hanya mengedepankan aspek hunian, tetapi juga aksesibilitas kebutuhan primer.
Setiap unit huntara yang berukuran $3,6 \times 4,8$ meter telah dilengkapi dengan kamar mandi pribadi, teras, serta dukungan instalasi listrik dari PLN dan akses air bersih melalui sumur bor.
Bagi penduduk yang rumahnya masuk dalam kategori rusak berat namun tidak menempati huntara, pemerintah telah menyiapkan skema bantuan alternatif berupa Dana Tunggu Hunian (DTH).
Ekspansi Pembangunan di Lokasi Lain
Selain di Manyang Cut, BNPB mencatat beberapa titik pembangunan lain di Kabupaten Pidie Jaya yang terus dipacu, di antaranya:
• Desa Blang Awe : 10 kopel untuk 50 KK.
• Desa Geunteng : 9 kopel untuk 45 KK.
• Desa Meunasah Bie : 34 kopel untuk 170 KK (masih dalam tahap konstruksi).
Agus Marsanto menambahkan bahwa saat ini pihaknya tengah mengupayakan penambahan 13 barak tambahan di Manyang Cut yang progresnya telah mencapai 20 persen.
"Harapan kami, hunian ini menjadi tempat transit yang aman dan mendukung pemulihan psikososial serta ekonomi masyarakat pascabencana," pungkasnya.
Pengerjaan ini melibatkan perusahaan lokal sebagai bentuk sinergi untuk mempercepat pemulihan ekonomi di tingkat daerah, sekaligus memastikan standar kelayakan huni tetap terjaga sesuai prosedur penanggulangan bencana nasional.
Editor: Redaksi TVRINews




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5368253/original/080065000_1759368915-persib-bandung.jpg)
