Ketika Kampus Tak Lagi Monopoli Kebenaran

detik.com
15 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

Dulu, kampus adalah "Vatikan" bagi ilmu pengetahuan. Gagasan brilian dianggap sah dan sahih jika lahir dari gedung universitas melalui riset bertahun-tahun.

Hari ini adagium itu tak lagi berlaku. Sebuah anomali telah menggugurkan anggapan bahwa kampus masih menjadi pusat gravitasi penemuan dan inovasi.

Lihat saja, ide-ide cemerlang yang mengubah dunia justru lahir dari garasi (Silicon Valley), dari komunitas open source, atau dari para praktisi yang bergelut langsung dengan tantangan dan realitas.

Harus jujur mengakui bahwa kurikulum kampus acapkali bergerak lambat, sementara realitas di luar berlari secepat cahaya. Seperti deret ukur dan deret hitung.

Gelar Profesor dan Doktor menghadapi tantangan berat. Jika kepakaran hanya dimaknai sebagai penguasaan teori konvensional tanpa kemampuan menjawab persoalan kontemporer, maka benarlah apa yang dikhawatirkan Nichols: kepakaran sedang menuju liang lahatnya sendiri.

Kematian akibat gagal beradaptasi dengan kecepatan zaman.

Gelar dan Matinya Kepakaran

Dalam buku The Death of Expertise, Nichols mengingatkan, matinya kepakaran bukan berarti para pakar hilang, melainkan otoritas mereka tidak lagi diakui.

Hal ini terjadi karena tidak adanya rasa percaya diri berlebihan (Dunning-Kruger effect), sementara setiap orang merasa setara dengan pakar hanya karena memiliki akses informasi dari internet.

Mereka yang terlalu asyik dengan teorinya sendiri, terjebak dalam birokrasi akademik (kum dan angka kredit), sehingga gagasannya kering tidak membumi.

Inovasi seringkali tidak lahir dari hirarki akademik. Seorang profesor mungkin tahu "apa yang sudah terjadi," namun seorang inovator di lapangan lebih tahu "apa yang akan terjadi."

Gelar profesor doktor tidak boleh lagi dipandang sebagai "stempel kebenaran mutlak," sebagai navigator intelektual. Sebab kepakaran tidak lagi bersifat eksklusif.

Konstruksi kepakaran baru harus bergeser, bukan dihitung dari berapa banyak sitasi di jurnal internasional, tapi seberapa jauh gagasannya mampu memecahkan kebuntuan rasionalitas.

Ide cemerlang bisa datang dari mana saja. Tugas profesor adalah melakukan validasi akademik terhadap inovasi liar di lapangan, bukan malah menghambat dengan argumentasi akademik, apalagi karena alasan formalitas gelar.

Pentingnya interdisciplinary

Matinya kepakaran adalah alarm akademik yang harus segera dimitigasi. Jika para Profesor dan Doktor terus bersandar pada "argumentum ad verecundiam" (argumen berdasarkan otoritas jabatan), maka kepunahannya semakin cepat.

Yuval Noah Harari, sejarawan dunia pernah mengatakan, kepakaran masa kini adalah kemampuan untuk menyatukan berbagai disiplin ilmu (interdisciplinary) menjadi narasi bermakna bagi publik luas. Membawa ilmu keluar dari kungkungan birokrasi akademik membosankan.

Profesor dan Doktor masa depan adalah mereka yang berani keluar dari zona nyaman, dari kebanggaan semu karena jurnal-jurnal yang dihasilkan, atau buku -buku yang diterbitkan.

Mereka harus berani bertarung gagasan di media sosial, dalam tema-tema kebijakan publik.

Tom Nichols berargumen bahwa salah satu penyebab "matinya kepakaran" adalah hilangnya garis demarkasi antara pendapat ahli dan opini publik. Internet memberikan ilusi bahwa akses ke informasi sama dengan pengetahuan.

Namun, jika kita melihat lebih dalam, justru "keangkuhan intelektual" para pakar sendirilah yang ikut menggali liang lahat bagi otoritas mereka.

Ketika para profesor hanya asyik dengan lingua franca mereka sendiri dan gagal menerjemahkan kompleksitas menjadi kemanfaatan, mereka sebenarnya sedang mengisolasi diri dari denyut peradaban.

Konstruksi Peran Cendekiawan

Jika kita ingin menyelamatkan kepakaran dari kematiannya, maka para penyandang gelar tertinggi harus turun gunung. Membangun ekosistem baru dimana kampus menjadi laboratorium sosial, bukan fabrikasi ijazah.

Profesor menjadi mentor bagi inovator non-akademik, menjembatani antara intuisi praktis dengan struktur keilmuan, dan berbasis pada metodologi yang benar.

Gelar Profesor dan Doktor adalah kehormatan intelektual, bukan jaminan atas inovasi. Ide-ide cemerlang kini tidak lagi mengenal kasta pendidikan. Melainkan membumi dalam ruang waktu yang setara.

Jika para cendekiawan tetap bersikeras pada eksklusivitasnya, mereka hanya akan menjadi artefak sejarah. Dihormati namun tidak dibutuhkan.

Masa depan bukan milik mereka yang paling tinggi gelarnya, melainkan milik yang mampu menyelaraskan kepakaran dengan kebutuhan zaman.

Ingat, gagasan brilian tidak lagi harus lahir dari laboratorium kampus yang steril. Inovasi kini bersifat organik, cair, dan sering kali lahir dari tangan-tangan "orang luar" yang tidak memiliki gelar akademik berderet.

Sekali lagi, sejarah mencatat revolusi industri hingga revolusi digital kerap dipicu oleh para pembangkang akademik atau mereka yang berada di luar sirkuit profesor-doktor.

Asas Kemanfaatan

Freeman Dyson, seorang fisikawan teoretis terkemuka, pernah menyatakan kekhawatirannya bahwa sistem akademik modern yang terlalu kaku justru menghambat kreativitas.

Ilmu pengetahuan seringkali maju melalui "lonjakan intuisi" yang tidak selalu bisa dijelaskan melalui metodologi formal. Sebab inovasi tidak hidup dalam kekangan birokrasi pendidikan.

Nassim Nicholas Taleb dalam bukunya Antifragile, menyerang habis-habisan apa yang ia sebut sebagai "akademisme". Bahwa banyak hal besar dalam sejarah lahir dari proses trial and error (uji coba) para praktisi, bukan muncul dari teori-teori

Lalu, dimana tempat para Profesor dan Doktor di masa depan jika ide cemerlang tak lagi harus lahir dari rahim mereka?

Konstruksi kepakaran baru harus diletakkan pada fungsi Navigasi, bukan lagi validasi mutlak.

Pakar tidak lagi bertugas untuk menentukan "apa yang boleh dipikirkan," tetapi membantu masyarakat untuk memahami "bagaimana cara memproses informasi."

Akhirnya, keberadaan para cendekiawan bergelar tinggi haruslah diukur dari asas kemanfaatan. Jika kepakaran tak mampu menjawab persoalan bangsa, apalah arti gelar dan jabatan akademik.

Ide cemerlang untuk mengubah dunia, tidak butuh izin dari universitas. Inovasi tidak butuh tanda tangan rektor untuk memberikan dampak. Tetapi dunia butuh kepakaran sebagai kompas moral dan metodologis.

Gelar Profesor dan Doktor harus menjadi jembatan, bukan benteng yang menghalangi.

Hanya dengan cara itulah, kepakaran bisa dibangkitkan dari kematiannya, dan kampus kembali menjadi relevan bukan karena otoritasnya, melainkan karena rendah hatinya.

Dr. Eko Wahyuanto
Pengamat Kebijakan Publik




(jbr/jbr)

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Prabowo Terbang ke Inggris & Swiss Hari Ini, Bertemu Raja Charles-Pidato di WEF
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Patroli dan Pengamanan di Kawasan Wisata Malang Ditingkatkan Selama Libur Isra Mikraj
• 11 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Bripda Muhammad Rio Bergabung dengan Tentara Rusia, Kapolda Aceh: Sudah Diberhentikan karena Desersi dan Kasus KDRT
• 20 jam lalupantau.com
thumb
Jelang Pencairan Januari 2026, Simak Kategori Siswa yang Berhak Terima Dana PIP
• 11 jam lalukompas.tv
thumb
Ahmad Dhani Bocor, Beberkan Rencana Pre-Wedding El Rumi dan Syifa Hadju
• 10 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.