Jakarta: Temuan ilmiah terbaru membuka cara pandang baru mengenai asal-usul oksigen yang menopang kehidupan di planet Bumi. Berdasarkan kajian yang dipublikasikan Smithsonian National Museum of Natural History, lautan memegang peran utama sebagai penghasil oksigen terbesar di planet ini. Lebih dari separuh oksigen yang dihirup manusia setiap hari ternyata berasal dari aktivitas organisme mikroskopis yang hidup di perairan dunia.
Selama ini, hutan hujan tropis kerap dijuluki sebagai paru-paru dunia. Namun, riset menunjukkan bahwa peran laut justru jauh lebih dominan dalam menjaga keseimbangan oksigen global. Organisme laut yang dikenal sebagai fitoplankton menjadi aktor utama dalam proses tersebut.
Melalui fotosintesis, fitoplankton mengubah karbon dioksida dan air menjadi energi, sekaligus melepaskan oksigen ke atmosfer dalam skala masif di permukaan samudra.
Fitoplankton mencakup beragam organisme, mulai dari ganggang laut hingga bakteri fotosintetik. Salah satu yang paling berpengaruh adalah Prochlorococcus, bakteri laut mikroskopis yang jumlahnya sangat melimpah di perairan hangat dunia. Meski tak kasatmata, kontribusinya luar biasa. Para ilmuwan memperkirakan sekitar satu dari lima tarikan napas manusia berasal dari oksigen yang dihasilkan organisme ini.
Produksi oksigen laut terutama terjadi di zona fotik, yakni lapisan atas laut yang masih dapat ditembus cahaya matahari dan umumnya mencapai kedalaman sekitar 200 meter. Di wilayah inilah fotosintesis berlangsung paling aktif. Bahkan pada kedalaman yang lebih rendah, beberapa jenis ganggang masih mampu berfotosintesis berkat pigmen khusus yang dapat menyerap cahaya berintensitas rendah.
Peran laut sebagai penghasil oksigen juga berkaitan erat dengan kemampuannya menyerap karbon dioksida. Dengan menyerap gas rumah kaca, lautan membantu menstabilkan iklim global. Namun, keseimbangan ini kini menghadapi ancaman serius. Peningkatan suhu laut, polusi plastik, dan pengasaman laut berpotensi mengganggu populasi fitoplankton serta organisme fotosintetik lainnya.
Gangguan terhadap ekosistem laut tidak hanya berdampak pada kehidupan bawah laut, tetapi juga pada kualitas udara yang dihirup manusia. Penurunan produksi oksigen laut berisiko memicu ketidakseimbangan ekologi dalam skala global.
Karena itu, upaya konservasi laut menjadi semakin mendesak -- bukan hanya untuk melindungi keanekaragaman hayati, tetapi juga untuk menjaga sistem pendukung kehidupan manusia.
Pemahaman mengenai peran laut sebagai penghasil oksigen terbesar di Bumi diharapkan dapat mengubah cara pandang terhadap lingkungan global. Laut bukan sekadar ruang biru yang memisahkan benua, melainkan fondasi kehidupan yang bekerja senyap namun vital. Menjaga kesehatan laut berarti menjaga ketersediaan oksigen bagi generasi mendatang. (Keysa Qanita)
Baca juga: Rahasia Napas Bumi: Mengapa Samudra adalah Paru-Paru Dunia yang Sesungguhnya


