Diabetes merupakan penyakit seumur hidup yang memengaruhi 1 dari 9 orang dewasa di dunia. Banyak dari penderita ini sering kali tidak terdiagnosis sehingga berisiko mengalami komplikasi.
Prevalensi diabetes ini telah meningkat secara signifikan dalam tiga dekade terakhir. Sebuah studi global menunjukkan prevalensi diabetes pada orang dewasa meningkat dari sekitar 7 persen pada 1990 menjadi hampir 14 persen dalam beberapa tahun terakhir.
Data International Diabetes Federation (IDF), terdapat 589 juta orang di dunia menderita diabetes pada 2024. Indonesia menempati peringkat ke-5 dunia dengan jumlah penderita diabetes terbanyak setelah China, India, Amerika Serikat, dan Pakistan.
Sebanyak 11,3 persen penduduk dewasa di Indonesia menderita diabetes, atau 20,4 juta penduduk dewasa dari 185 juta penduduk. Angka ini meningkat dibandingkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 yang berada di angka 8,5 persen.
Mayoritas penderita di dunia, termasuk juga Indonesia, mengalami diabetes tipe 2, yang terutama disebabkan oleh gaya hidup, seperti pola konsumsi tinggi gula. Data juga menunjukkan, terjadi pergeseran di mana diabetes mulai banyak ditemukan pada kelompok usia produktif dan remaja akibat perubahan gaya hidup.
Diabetes tipe 2 onset (pertama kali gejala muncul) dini atau usia remaja dikaitkan dengan resistensi insulin yang lebih besar, penurunan fungsi sel β yang lebih cepat, dan komplikasi yang lebih dini dan lebih parah. Hal ini menyebabkan peningkatan morbiditas dan mortalitas dibandingkan dengan diabetes tipe 2 onset lanjut.
Artikel yang ditulis S Kaptoge dan tim di The Lancet Diabetes & Endocrinology pada 2024 menunjukkan bahwa di Amerika Serikat, individu dengan diabetes tipe 2 yang didiagnosis pada usia 30 tahun meninggal di usia 50 tahun, rata-rata, 14 tahun lebih awal daripada mereka yang tidak menderita diabetes.
Selain pola konsumsi ini, tren peningkatan diabetes di kalangan remaja juga dipicu kurangnya aktivitas fisik pada anak-anak karena mereka lebih banyak menghabiskan waktu di depan layar. Selain itu, banyak kasus pada anak baru terdeteksi saat sudah dalam kondisi gawat darurat (ketoasidosis diabetikum) karena gejalanya sering dianggap sakit biasa atau kelelahan.
Diabetes stadium awal sering kali tanpa gejala.
Sejauh ini diperkirakan 45-70 persen penderita diabetes di Indonesia tidak menyadari bahwa mereka mengidap penyakit tersebut hingga terjadi komplikasi. Padahal, deteksi dini diabetes sangat penting.
Selain untuk mencegah komplikasi yang tidak bisa dipulihkan, terutama pada diabetes tipe 2, jika terdeteksi pada tahap prediabetes kondisinya masih bisa dibalikkan (reversible). Prediabetes dimaknai sebagai kadar gula darah di atas normal, tetapi belum masuk kategori diabetes. Dengan perubahan pola makan dan olahraga intensif, kadar gula darah bisa kembali normal tanpa bantuan obat-obatan.
Mengingat tingginya tren diabetes di kalangan usia muda dan produktif, Asosiasi Diabetes Amerika kini menyarankan setiap orang dewasa muda menjalani pemeriksaan dini diabates. ”Pada tahap awal diabetes, penderita sering kali tidak menunjukkan gejala sehingga Asosiasi Diabetes Amerika merekomendasikan agar setiap orang dewasa menjalani skrining diabetes pada usia 35 tahun,” kata Alyssa Dominguez, ahli endokrinologi di Keck Medicine of University of Souther California, dalam keterangan yang dirilis kampusnya, Sabtu (17/1/2026).
Sangat penting bagi penderita dengan faktor risiko, seperti riwayat keluarga diabetes, prediabetes, sindrom ovarium polikistik, dan diabetes gestasional, atau jika indeks massa tubuh (BMI) mereka berada dalam kisaran kelebihan berat badan atau obesitas, untuk menjalani skrining diabetes secara dini dan teratur.
Meskipun skrining oleh dokter melalui tes darah adalah cara paling pasti untuk menentukan apakah seseorang menderita diabetes, ada beberapa gejala yang perlu diwaspadai yang merupakan tanda-tanda awal bagi penderita diabetes. Jika Anda mengalami gejala-gejala berikut, periksakan diri ke dokter untuk menjalani skrining diabetes.
Pertama, sering buang air kecil. ”Frekuensi buang air kecil cukup subyektif. Saya akan mengatakan, jika seseorang menyadari bahwa mereka buang air kecil lebih sering dari biasanya, itu bisa menjadi tanda diabetes,” katanya.
Namun, perlu diingat, ada banyak kondisi lain yang dapat menyebabkan peningkatan frekuensi buang air kecil. Misalnya, pria dengan masalah prostat atau wanita setelah menopause dapat mengalami peningkatan frekuensi buang air kecil.
Kedua, merasa sangat haus. ”Rasa haus yang meningkat dan sering adalah salah satu gejala pertama diabetes yang paling umum yang diperhatikan orang,” lanjut Dominguez. Ini terjadi karena kadar gula darah tinggi dapat menyebabkan buang air kecil berlebihan, yang dapat menyebabkan dehidrasi.
Ketiga, penurunan berat badan yang cepat atau tidak normal juga merupakan salah satu tanda paling umum yang diperhatikan orang ketika pertama kali menderita diabetes. Menurut Dominguez, ini dapat terjadi karena dengan insulin yang tidak terkontrol, tubuh dapat mulai membakar lemak atau otot sebagai bahan bakar, yang menyebabkan penurunan berat badan yang tidak disengaja yang dapat menjadi masalah.
Keempat, mengalami perubahan kulit. ”Kutil kulit bisa menjadi tanda resistensi insulin,” kata Dominguez. ”Selain itu, temuan kulit lain yang dapat kita lihat adalah fenomena yang disebut akantosis nigrikans, yaitu kulit yang menghitam dan bertekstur beludru yang dapat terlihat di bagian belakang leher atau di area ketiak. Itu bisa menjadi tanda fisik resistensi insulin atau diabetes.”
Kelima, penyembuhan luka yang lambat. ”Kita tahu bahwa gula darah tinggi memperlambat penyembuhan luka,” kata Dominguez. ”Namun, itu adalah sesuatu yang biasanya lebih sering saya lihat pada orang yang memiliki bentuk diabetes yang lebih lanjut dan yang telah memiliki gula darah tinggi untuk beberapa waktu. Namun, jika seseorang belum menemui dokter untuk waktu yang lama, mereka mungkin memiliki gula darah tinggi yang tidak terdeteksi, dan itu dapat menyebabkan mereka mengalami penyembuhan luka yang lebih lambat.”
Meskipun ini adalah tanda-tanda awal diabetes, Dominguez menekankan pentingnya melakukan skrining diabetes sebelum gejala muncul, biasanya dengan tes hemoglobin A1C (HbA1c) atau tes glukosa darah puasa. Semua ini merupakan bagian dari sebagian besar pemeriksaan laboratorium rutin yang dilakukan oleh dokter.
”Diabetes stadium awal sering kali tanpa gejala,” ucap Dominguez. ”Penting untuk melakukan tes sebelum gejala muncul agar Anda bisa mendapatkan pengobatan yang tepat dan tidak mengalami masalah besar akibat diabetes Anda.”


:strip_icc()/kly-media-production/medias/5401360/original/036528900_1762165227-Gunung_Kerinci.jpg)


