Bisnis.com, JAKARTA - Ada cara paling simpel yang bisa dilakukan untuk menghitung berapa besar dana darurat untuk pasangan yang baru menikah.
Memasuki kehidupan pernikahan, pasangan baru kerap kali dihadapkan pada berbagai penyesuaian, termasuk dalam mengelola keuangan rumah tangga. Salah satu fondasi penting yang kerap terlewat di awal pernikahan adalah dana darurat
Perencana Keuangan Mike Rini Sutikno mengatakan dana darurat merupakan salah satu pos yang punya peran besar dalam menjaga stabilitas keuangan keluarga, terutama ketika menghadapi kondisi tak terduga.
Namun, keberadaannya kerap kali masih disepelekan atau disusun sambil lalu di tengah jalan.
Padahal, dana darurat sangat penting bagi keluarga baru. Hal ini karena risiko keuangan tidak memilih siapa pun, bisa terjadi pada keluarga baru maupun lama.
"Dana darurat berfungsi sebagai penopang hidup ketika terjadi kehilangan pekerjaan, sakit, kecelakaan, PHK, atau bisnis bangkrut. Proses pemulihan keuangan membutuhkan waktu, sementara biaya hidup tetap harus berjalan. Jika memiliki dana darurat, risiko ini bisa diminimalisir," katanya.
Baca Juga
- Jabar Siapkan Dana Darurat Bencana Rp20 Miliar
- Dana Darurat atau Asuransi, Mana yang Lebih Penting?
- Seberapa Penting Menabung untuk Dana Darurat?
Secara umum, besaran dana darurat idealnya mencapai enam kali pengeluaran bulanan keluarga. Sebagai gambaran, apabila kebutuhan minimum rumah tangga sebesar Rp5 juta per bulan, maka dana darurat yang perlu disiapkan berada di kisaran Rp30 juta.
Namun, jika ada kondisi khusus, seperti penghasilan belum stabil, hanya satu pencari nafkah, atau memiliki anak, target bisa ditingkatkan hingga 9–12 bulan. Hal ini bisa disesuaikan dengan kebutuhan tiap keluarga.
Adapun proses pengumpulannya sebaiknya dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan kemampuan. Jika pendapatan masih terbatas, pasangan dianjurkan untuk langsung menyisihkan dana darurat setiap kali menerima penghasilan, dengan porsi minimal sekitar 30 persen dari pendapatan.
"Dana darurat sebaiknya disusun terlebih dahulu sebelum masuk ke instrumen investasi jangka panjang atau konsumsi non-prioritas," imbuhnya.
Dalam proses penyusunannya, Mike juga menyarankan pasangan untuk membuat rekening khusus dana darurat. Pemisahan ini penting agar dana tersebut tidak tercampur dengan kebutuhan harian dan terpakai untuk keperluan konsumtif. Rekening yang dipilih sebaiknya bersifat likuid dan memiliki risiko rendah.
Selain disimpan di rekening terpisah, dana darurat juga dapat ditempatkan pada instrumen keuangan yang aman, mudah dicairkan, dan tetap memberikan pertumbuhan, seperti reksa dana pasar uang, deposito, atau emas.
Dengan begitu, dana dapat diakses kapan saja ketika kondisi darurat terjadi.
Tak kalah penting, jumlah dana darurat perlu dievaluasi secara berkala. Peninjauan ulang diperlukan ketika terjadi perubahan kondisi keuangan keluarga, mulai dari meningkatnya pengeluaran, perubahan pekerjaan, hingga bertambahnya anggota keluarga.




