PTBA dinilai masih memiliki fundamental bisnis yang solid dan berkelanjutan di tengah normalisasi harga batu bara global.
IDXChannel - PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dinilai masih memiliki fundamental bisnis yang solid dan berkelanjutan di tengah normalisasi harga batu bara global.
Phintraco Sekuritas pada Kamis (15/1/2026) menyebutkan, proyek infrastruktur logistik yang tengah dijalankan perseroan berpotensi menjadi katalis utama peningkatan efisiensi biaya dan penguatan kinerja jangka menengah hingga panjang.
Sebagai salah satu produsen batu bara terbesar di Indonesia, PTBA mengelola wilayah Izin Usaha Pertambangan (IUP) seluas 65.632 hektare di Sumatera Selatan.
Perseroan memproduksi batu bara termal peringkat rendah hingga menengah, mulai dari lignit hingga sub-bituminous, dengan nilai kalor 2.800-6.100 kcal/kg GAR serta kandungan abu dan sulfur yang relatif rendah. Produk tersebut terutama dipasok untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dan pelanggan industri.
Selain bisnis pertambangan, PTBA juga memiliki lini usaha terintegrasi di sektor logistik berbasis kereta api dan truk, pengelolaan pelabuhan bongkar muat, fasilitas penanganan batu bara, hingga bisnis energi melalui pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Phintraco Sekuritas menyoroti proyek jalur kereta api Tanjung Enim-Keramasan sebagai salah satu pengungkit utama efisiensi operasional PTBA. Proyek sepanjang 158 kilometer ini ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal II-2026, dengan progres konstruksi telah mencapai 58 persen per September 2025.
Jalur ini dirancang memiliki kapasitas angkut hingga 20 juta ton per tahun. Seiring dengan pengoperasian jalur baru tersebut, PTBA juga melakukan peningkatan dan optimalisasi kapasitas pelabuhan.
Kapasitas Pelabuhan Tarahan ditingkatkan dari 27,5 juta ton menjadi 28,0 juta ton per tahun, sementara Pelabuhan Kertapati naik dari 8,0 juta ton menjadi 8,5 juta ton per tahun. Proyek ini dijalankan melalui kerja sama dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan PT Kereta Api Logistik (KALOG).
Adapun integrasi jalur kereta api baru dan peningkatan kapasitas pelabuhan akan memberikan efisiensi biaya transportasi yang signifikan melalui jarak angkut yang lebih pendek serta optimalisasi waktu pengiriman. Dampaknya, biaya logistik per ton berpotensi menurun dan struktur biaya PTBA menjadi lebih kompetitif dalam jangka menengah hingga panjang.
Dari sisi kinerja keuangan, PTBA membukukan pendapatan sebesar Rp31,33 triliun pada sembilan bulan pertama 2025, tumbuh 2 persen secara tahunan. Kinerja tersebut ditopang kenaikan volume penjualan sebesar 8 persen menjadi 33,70 juta ton, meskipun harga jual rata-rata (ASP) turun 6 persen menjadi Rp0,91 juta per ton akibat pelemahan harga batu bara global.
Produksi batu bara meningkat 9 persen secara tahunan, sejalan dengan pertumbuhan volume angkutan sebesar 8 persen menjadi 30,02 juta ton. Phintraco mencatat adanya lonjakan signifikan pada volume transportasi non-KAI, yang turut mendukung fleksibilitas distribusi perseroan.
Namun demikian, laba bersih PTBA tertekan 57 persen secara tahunan menjadi Rp1,4 triliun pada periode yang sama. Penurunan ini dipengaruhi oleh kombinasi pelemahan harga batu bara dan kenaikan biaya bahan bakar.
Phintraco Sekuritas memproyeksikan pendapatan PTBA relatif stabil di level Rp42,9 triliun pada 2025, sedikit turun menjadi Rp42,0 triliun pada 2026, sebelum kembali tumbuh 4 persen secara tahunan menjadi Rp43,6 triliun pada 2027. Proyeksi ini mencerminkan ketahanan fundamental PTBA di tengah siklus harga batu bara yang lebih normal.
Berdasarkan pendekatan valuasi discounted cash flow (DCF), Phintraco Sekuritas kembali menegaskan rekomendasi BUY untuk saham PTBA dengan target harga Rp2.800 per saham. Valuasi tersebut didukung oleh nilai enterprise value sebesar Rp32,3 triliun, yang dinilai menarik seiring prospek efisiensi biaya dan keberlanjutan kinerja perseroan.
“Dengan proyek logistik baru yang segera beroperasi, PTBA berpotensi menikmati penurunan biaya transportasi yang signifikan dan peningkatan efisiensi operasional, sehingga memperkuat daya saing di tengah dinamika industri batu bara global,” tulis Phintraco Sekuritas.
(DESI ANGRIANI)


/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2026%2F01%2F14%2F70b6284d2b91950d2e6343b591d8230f-cropped_image.jpg)

