Buku memoar berjudul Broken Strings membuka mata banyak orang mengenai child grooming atau upaya manipulatif mendekati dan mengeksploitasi anak, terutama remaja perempuan. Sejak buku itu viral, banyak orang yang menyadari bahwa child grooming menjadi ancaman nyata dan bisa menimpa siapa saja.
Beberapa hari terakhir, perbincangan tentang e-book berjudul Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth karya Aurelie Moeremans ramai di media sosial. Buku yang dirilis pada Oktober 2025 itu mengisahkan pengalaman Aurelie terjebak dalam relasi manipulatif dengan seorang pria berusia jauh lebih tua.
Child grooming adalah bentuk kekerasan seksual terhadap anak yang dilakukan secara bertahap melalui pendekatan emosional, bukan ancaman atau kekerasan fisik. Grooming sering luput disadari karena prosesnya halus dan menyerupai hubungan pertemanan atau kasih sayang.
- Apa itu child grooming dan mengapa sering luput dikenali?
- Bagaimana ciri-ciri umum pelaku child grooming terhadap anak?
- Apa dampak child grooming bagi korban?
- Bagaimana cara mengenali kejahatan child grooming?
- Apa yang bisa dilakukan orangtua untuk mencegah child grooming?
Child grooming adalah kejahatan seksual terhadap anak yang dilakukan melalui pendekatan bertahap dengan membangun kepercayaan dan kedekatan emosional. Kejahatan ini sering luput dikenali karena pelaku tidak menggunakan kekerasan, tetapi perhatian, empati, dan sikap seolah melindungi korban.
Sementara menurut laman South Eastern Centre Against Sexual Assault and Family Violence (SECASA), grooming adalah aktivitas kriminal yang dilakukan orang dewasa dengan berteman atau menjalin hubungan emosional yang erat dengan seorang anak. Tujuannya, membujuk korban agar mau menjalin hubungan seksual.
Banyak remaja perempuan yang tidak menyadari dirinya menjadi korban grooming. Remaja perempuan yang menjalin hubungan asmara dengan orang dewasa sering kali menjadi korban kekerasan seksual. Orangtua yang mengetahui hal itu lantas melaporkannya kepada aparat kepolisian.
Namun, anak yang menjadi korban pelecehan atau pemerkosaan justru sering kali merasa kasihan pada pelaku. Beberapa anak yang menjadi korban melakukan hubungan seksual karena alasan cinta.
Sikap korban yang membela pelaku menunjukkan masih banyak remaja perempuan yang tidak menyadari bahwa dirinya menjadi korban child grooming. Hal ini terjadi karena pelaku datang kepada korban sebagai seseorang yang memberi perhatian.
Pelaku biasanya memberi perhatian berlebihan, hadiah, atau dukungan emosional khusus, serta berusaha menciptakan hubungan eksklusif dengan anak. Mereka sering memosisikan diri sebagai sosok yang paling memahami korban dan perlahan menjauhkan anak dari lingkungan terdekatnya.
Dari berbagai kasus, banyak pelaku yang menjerat korban dengan memberikan hadiah atau uang. Dari situ, pelaku kemudian merayu korban untuk mau melakukan hubungan seksual.
Pelaku awalnya bekerja lewat manipulasi dan bukan kekerasan langsung. Pelaku datang sebagai penyelamat yang membela dan memberi perhatian kepada korban yang merasa kesepian sehingga perlahan mengaburkan batas.
Jika anak mempunyai pengalaman menjadi korban perundungan, kondisi itu bisa semakin mudah membuat anak terjebak dalam hubungan manipulatif. Ketika ada orang lain datang dan terkesan memilih dia, korban akan menganggap dirinya diterima dan mendapat perhatian.
Kondisi itu sering kali membuat korban merasa tidak diserang, tetapi jusru merasa membutuhkan sosok pelaku. Hal itulah yang membuat remaja acap kali tidak menolak atau melawan saat menghadapi pelaku.
Child grooming dapat meninggalkan dampak psikologis jangka panjang, seperti rasa bersalah, trauma, kesulitan membangun relasi sehat, dan hilangnya kepercayaan terhadap orang dewasa. Karena tidak disertai kekerasan fisik, korban kerap tidak menyadari bahwa dirinya adalah korban kejahatan.
Selain kekerasan seksual dan memicu trauma secara psikis, child grooming juga bisa berujung pada petaka yang mengerikan. Catatan Kompas, kasus child grooming yang berujung pada pembunuhan pernah terjadi di Lampung pada September 2025.
Kasus itu terungkap dari penemuan mayat seorang remaja perempuan berusia 16 tahun di aliran sungai Kampung Gunung Batin Udik, Kecamatan Terusan Nunyai, Kabupaten Lampung Tengah, Rabu (17/9/2025).
Dari hasil penyelidikan, pelaku pembunuhan ternyata Suryadi, pria berusia 42 tahun, yang menjalin asmara dengan korban. Pelaku juga pernah melakukan kekerasan seksual pada korban.
Yayasan Polly Klaas membuat daftar untuk mempermudah orangtua mengenali tanda-tanda grooming pada anak-anak mereka. Pertama, anak memiliki teman yang hanya berhubungan di media sosial. ”Teman” itu sering kali memuji anak. Salah satu pola yang perlu diwaspadai ialah jika pujian berbunyi, ”kamu lebih dewasa daripada anak-anak lain”.
Kedua, anak sering mendapat kiriman hadiah. Kado ini tidak melulu bersifat benda fisik. Di zaman serba digital ini, kado bisa berupa kiriman pulsa dan bisa pula skincare atau akses eksklusif untuk bermain gim daring.
”Teman” itu sering meminta anak mengirimi dia foto-foto dan video. Pelaku ingin mengetahui alamat rumah, alamat sekolah, dan jadwal harian anak. Seiring berjalannya waktu, pelaku akan meminta anak mengiriminya foto-foto yang lebih ”berani”, misalnya meminta anak bersolek atau memakai pakaian tertentu.
Orangtua wajib curiga jika anak sering berpindah-pindah pelantar media sosial. Ini lazim diperintahkan oleh pelaku grooming supaya percakapan dia dengan incarannya tidak terdeteksi. Pelaku juga kerap meminta anak menghapus percakapan mereka.
Perhatikan pula jika anak tiba-tiba bersikap aneh. Misalnya, menutup diri dan terlihat merahasiakan kegiatannya dari orangtua, saudara, atau teman main. Pelaku grooming berusaha mengisolasi korban dengan membuat mereka tidak memercayai orang-orang di sekitarnya.
Pencegahan dapat dilakukan dengan membangun komunikasi terbuka antara anak dan orang dewasa, mengajarkan batasan relasi yang sehat, serta meningkatkan kesadaran bahwa perhatian berlebih dan relasi rahasia dengan orang dewasa bisa menjadi tanda bahaya. Lingkungan yang aman dan tidak menghakimi juga penting agar anak berani bercerita.
Berdasarkan studi Michigan State University, ada sejumlah hal yang bisa dilakukan orangtua untuk mencegah anaknya jatuh ke dalam kejahatan grooming.
Orangtua harus menjaga komunikasi yang akrab dengan anak. Berbicaralah dengan anak. Dengar pendapat mereka dan perlakukan mereka layaknya manusia yang berpikir. Terkadang, anak merasa tidak bisa menceritakan masalah mereka karena kadung diomeli orangtua. Sering pula orangtua menafikan masalah anak sebagai hal sepele.
Orangtua juga bisa menanyakan mengenai pertemanan anak. Minta anak mengenalkan teman-temannya, termasuk yang ada di media sosial. Ciri pelaku grooming yang menyamar menjadi anak di media sosial ialah dia tidak mau ditelepon atau melakukan panggilan video.
Penting bagi orangtua mengajar anak agar asertif dan tegas. Anak harus berani mengekspresikan pendapat dan menyatakan secara lisan ketidaknyamanan terhadap suatu perilaku ataupun situasi. Ajar anak berani mengatakan tidak, berani menolak. Begitu mereka merasa tak nyaman, tinggalkan tempat itu dan segera pulang untuk mengutarakan masalah kepada orangtua.
Anak juga harus diajari untuk mawas diri. Berterima kasih ketika dipuji, tetapi tetap menjaga jarak. Sedari kecil, anak dididik memahami tubuh mereka tidak boleh dipegang sembarangan oleh orang lain. Orang lain juga tidak boleh meminta anak menunjukkan bagian-bagian tubuh kepada mereka.


:strip_icc()/kly-media-production/medias/4781409/original/067008100_1711104260-IMG-20240322-WA0035.jpg)
