Ketika Pendidikan Tinggi Sibuk Mengejar Nilai, tapi Lupa Membentuk Manusia

kumparan.com
11 jam lalu
Cover Berita

Pendidikan tinggi hari ini sering kali tampak berjalan baik-baik saja. Angka-angka disajikan rapi: IPK tinggi, kelulusan tepat waktu, akreditasi meningkat, dan berbagai capaian administratif lainnya.

Namun dibalik itu semua, muncul kegelisahan yang patut direnungkan bersama: Apakah pendidikan kita masih setia pada maknanya, atau justru terjebak pada pengejaran angka semata?

Ketika Proses Dikalahkan oleh Hasil

Orientasi berlebihan pada nilai membuat proses belajar perlahan kehilangan kedalaman. Tidak sedikit mahasiswa yang akhirnya lebih fokus pada hasil akhir daripada proses memahami pengetahuan itu sendiri. Proses berpikir, berdialog, dan bertumbuh sering kali dikalahkan oleh keinginan meraih nilai instan.

IPK tinggi menjadi tujuan utama, sementara penguasaan makna dan daya nalar justru terpinggirkan. Ketika benar-benar diuji di luar ruang kelas, tidak jarang yang tersisa justru kehampaan.

Dalam situasi seperti ini, praktik-praktik tidak sehat pun muncul. Ada mahasiswa yang sekadar numpang nama dalam tugas kelompok, mengandalkan kerja orang lain, bahkan menempuh cara-cara curang demi menjaga nilai tetap aman.

Fenomena ini tentu memprihatinkan. Namun, menyederhanakan persoalan dengan menyalahkan mahasiswa sepenuhnya adalah kekeliruan. Apa yang terjadi lebih tepat dibaca sebagai buah dari sistem pendidikan yang terlalu sibuk mengejar capaian angka, sehingga tanpa disadari mengabaikan makna pendidikan itu sendiri.

Pendidikan yang Direduksi Menjadi Sekadar Jalan Menuju Kerja

Persoalan menjadi semakin kompleks ketika orientasi pendidikan tinggi disempitkan hanya pada tujuan mencari pekerjaan setelah lulus. Mendapatkan pekerjaan tentu penting dan menjadi salah satu tujuan pendidikan.

Namun, ketika orientasi tersebut dijadikan satu-satunya ukuran keberhasilan, pendidikan kehilangan ruhnya. Kampus berisiko berubah menjadi pabrik tenaga kerja, tempat mahasiswa diproses layaknya mesin produksi yang dinilai berdasarkan efisiensi dan output semata.

Belajar dari Sejarah: Pendidikan dan Pembentukan Peradaban

Padahal, makna pendidikan jauh lebih besar dari sekadar menyiapkan tenaga siap kerja. Jika menengok sejarah, kita akan menemukan bagaimana proses belajar yang bermakna mampu melahirkan tokoh-tokoh besar dan ilmuwan yang mengubah arah peradaban.

Banyak penemuan hari ini sejatinya bertumpu pada kerja intelektual generasi sebelumnya. Baik peradaban Barat maupun Timur sama-sama menunjukkan bahwa kemajuan mereka tidak lahir dari pendidikan yang dangkal, tetapi dari tradisi belajar yang menumbuhkan daya pikir, etika, dan tanggung jawab moral.

Sejarah mengajarkan bahwa pendidikan yang tepat tidak hanya menghasilkan individu cerdas, tetapi juga membentuk peradaban yang unggul. Pendidikan menjadi ruang pembentukan manusia seutuhnya: yang mampu berpikir kritis, memiliki kepekaan sosial, dan memahami konsekuensi moral dari pengetahuan yang dimilikinya.

Jika hari ini kita ingin membangun generasi dan peradaban yang unggul, pendidikan tidak bisa hanya berisi narasi siap kerja yang sempit. Mahasiswa tidak cukup dilatih untuk menjadi roda dalam mesin besar bernama industri. Pendidikan seharusnya membentuk manusia yang utuh—tidak kehilangan nilai moral, etika, empati, dan tanggung jawab sosial.

Tanpa itu, lulusan perguruan tinggi berisiko menjadi sekadar alat produksi: bekerja keras, tetapi hampa makna; bergerak cepat, tetapi kehilangan jiwa.

Kecenderungan ini tampak jelas, misalnya, dalam tuntutan agar mahasiswa mencapai luaran tertentu, seperti publikasi artikel di jurnal terakreditasi. Melatih mahasiswa menulis karya ilmiah tentu penting dan merupakan bagian dari proses pendidikan.

Namun, ketika tuntutan tersebut dibebankan secara seragam tanpa mempertimbangkan konteks, kesiapan, dan kondisi sistem jurnal itu sendiri, proses belajar berpotensi berubah menjadi beban administratif.

Realitas dunia jurnal akademik hari ini pun tidak selalu ramah bagi mahasiswa. Banyak jurnal terindeks mensyaratkan biaya publikasi yang tidak kecil, sementara opsi jurnal gratis sering kali memiliki antrean panjang dan tingkat seleksi yang sangat ketat.

Dalam kondisi seperti ini, tuntutan luaran publikasi justru dapat mendorong pendidikan kembali pada logika pencapaian target, bukan pendalaman makna dan proses belajar itu sendiri.

OBE, Deep Learning, dan Jebakan Baru Bernama Luaran

Refleksi ini bukan untuk menolak pentingnya nilai, capaian, dan kesiapan kerja. Berbagai upaya perbaikan sebenarnya telah dilakukan untuk mengatasi kecenderungan pendidikan yang terlalu berorientasi pada angka.

Pendekatan pembelajaran deep learning serta penerapan kurikulum berbasis luaran atau Outcome-Based Education (OBE), misalnya, lahir dari kesadaran bahwa pendidikan seharusnya menekankan pemahaman mendalam, relevansi, dan dampak nyata dari proses belajar.

Namun, pendidikan tinggi perlu kembali menyeimbangkan arah. Dalam praktiknya, pendekatan-pendekatan tersebut kerap kembali terjebak pada logika lama.

Fokus pada luaran sering kali diterjemahkan secara sempit sebagai pencapaian target yang terukur secara administratif. Alih-alih memperdalam proses belajar, pendidikan justru kembali sibuk mengejar angka-angka baru dalam bentuk capaian luaran.

Angka seharusnya menjadi alat evaluasi, bukan tujuan utama. Ketika pendidikan kembali memusatkan perhatian pada pembentukan manusia, barulah nilai, kompetensi, dan kontribusi sosial dapat berjalan seiring dan saling menguatkan.

Budaya Belajar yang Menjadi Transaksional

Selain itu, persoalan pendidikan yang terlalu berorientasi pada angka juga berdampak pada relasi belajar di ruang kelas. Mahasiswa cenderung mengambil posisi aman: mengikuti arahan dosen secara minimal, tidak banyak bertanya, dan menghindari risiko intelektual.

Bertanya atau berdebat dianggap tidak produktif jika tidak berkontribusi langsung pada nilai. Padahal, dalam tradisi akademik yang sehat, keberanian mempertanyakan dan menguji gagasan justru merupakan inti dari proses pendidikan.

Situasi ini secara tidak langsung membentuk budaya belajar yang transaksional. Pengetahuan diperlakukan seperti komoditas: dipelajari seperlunya, diuji, lalu dilupakan setelah nilai diperoleh.

Hubungan dosen dan mahasiswa pun berpotensi menyempit menjadi relasi penilai dan yang dinilai, bukan relasi pendidik dan pembelajar yang sama-sama tumbuh secara intelektual. Pendidikan kehilangan dimensinya sebagai proses pembentukan watak dan cara berpikir jangka panjang.

Dampak jangka panjang dari pola ini tidak bisa dianggap sepele. Lulusan perguruan tinggi mungkin terlihat adaptif secara teknis, tetapi sering kali gamang ketika dihadapkan pada persoalan kompleks yang menuntut penilaian etis, empati, dan kebijaksanaan. Dunia kerja dan kehidupan sosial tidak hanya menuntut keterampilan, tetapi juga kemampuan mengambil keputusan yang bertanggung jawab.

Di sinilah pentingnya kembali menempatkan pendidikan sebagai proses yang manusiawi. Proses belajar seharusnya memberi ruang bagi refleksi dan pertumbuhan. Mahasiswa perlu diperlakukan sebagai subjek pembelajaran yang sedang membentuk jati diri dan cara berpikirnya.

Perguruan tinggi memang tidak bisa mengabaikan tuntutan dunia kerja dan sistem penilaian modern. Namun, kampus juga memikul tanggung jawab untuk menjaga nilai-nilai keilmuan, kebebasan berpikir, dan integritas akademik. Menjaga keseimbangan antara tuntutan luaran dan makna pendidikan inilah menjadi tantangan utama pendidikan tinggi hari ini.

Mengembalikan Pendidikan pada Tugas Memanusiakan Manusia

Refleksi tentang pendidikan yang terlalu mengejar angka pada akhirnya mengajak kita melihat kembali tujuan awal pendidikan itu sendiri. Pendidikan bukan sekadar jalan menuju pekerjaan, melainkan juga proses memanusiakan manusia.

Ketika pendidikan mampu menjaga orientasi ini, nilai, luaran, dan kompetensi akan mengikuti secara alami. Sebaliknya, ketika makna diabaikan, sebanyak apa pun angka yang dicapai tidak akan pernah cukup untuk melahirkan generasi yang benar-benar unggul.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Tim SAR Belum Temukan Korban Pesawat ATR yang Jatuh, Terkendala Cuaca dan Medan
• 12 jam lalukumparan.com
thumb
Berduka Cita karena Kehilangan Hewan Peliharaan? Anda Tidak Sendiri
• 10 jam lalukompas.id
thumb
MTI Prediksi Mobilitas Mudik Lebaran 2026 Tetap Tinggi
• 5 jam lalurepublika.co.id
thumb
Menhub Tegaskan Pencarian Intensif Pesawat ATR 42-500, Serpihan Ditemukan di Maros
• 8 jam lalurepublika.co.id
thumb
Sepuluh Ruas Jalan Banjir di Jakarta, Layanan Transjakarta Terdampak
• 16 jam lalukompas.id
Berhasil disimpan.