PEMINDAHAN Ibu Kota Negara (IKN) ke Nusantara bukan sekadar perpindahan titik koordinat kekuasaan, melainkan sebuah ujian besar bagi peradaban di tanah Kalimantan. Di tengah ambisi membangun Smart City dan Forest City, Kota Banjarmasin muncul sebagai aktor determinan dalam konstelasi ini.
Sebagai gerbang logistik utama yang menghubungkan pusat industri Jawa dengan jantung Kalimantan, Banjarmasin kini berdiri di persimpangan jalan: menjadi penyangga yang tangguh atau tergerus oleh beban urbanisasi dan krisis ekologis yang datang bersamaan dengan momentum IKN.
Persoalannya, kesiapan Banjarmasin mendukung IKN kini berkejaran dengan ancaman nyata di bawah kaki kita. Data dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan fenomena land subsidence (penurunan muka tanah) yang kian mengkhawatirkan. Di Banjarmasin, fenomena ini tidak hanya dipicu oleh beban bangunan masif, tetapi juga oleh pengabaian terhadap watak dasar kebudayaan kita sendiri: Budaya Air.
Baca juga: Setahun Tempati Rumah Panggung, Warga: Nyaman Terbebas dari Banjir
"Urug Lahan" dan Bunuh Diri KebudayaanSelama beberapa dekade terakhir, paradigma pembangunan di "Kota Seribu Sungai" ini telah mengalami penyimpangan orientasi. Kita terjebak dalam metode "urug lahan" (land filling) yang bersifat destruktif terhadap ekosistem sungai dan rawa. Dari kacamata kebudayaan, urug lahan adalah bentuk pengkhianatan terhadap kearifan lokal rumah panggung yang telah berabad-abad menjadi solusi adaptif masyarakat Banjar dalam merespons dinamika air.
Dampaknya kini terlihat jelas. Statistik kerentanan banjir menunjukkan bahwa 41 dari 52 kelurahan (sekitar 78,8% wilayah kota) kini terdampak banjir rob. Kapasitas drainase alami kita lumpuh; 32,76% sungai di Banjarmasin kini berkategori buntu dan 16,21% lainnya tertutup oleh bangunan permanen.
Prediksi pada Januari 2026 menggambarkan skenario yang mencekam: potensi banjir rob setinggi 2,8 meter yang dapat melumpuhkan nadi ekonomi di Pelabuhan Trisakti dan merendam ribuan permukiman pesisir.
Secara sosiokultural, hilangnya sungai-sungai ini adalah hilangnya ruang publik dan identitas kolektif. Ketika sungai ditutup dan lahan diurug, kita tidak hanya kehilangan saluran air, tetapi juga kehilangan medium interaksi budaya yang telah membentuk karakter masyarakat Banjar yang inklusif dan dinamis.
Pembangunan yang mengabaikan ekosistem sungai hanya akan melahirkan kota yang rentan dan kehilangan jiwanya di tengah hiruk-pikuk dukungan terhadap IKN.
Baca juga: IKN Pasca-Kunjungan Prabowo: Dari Pembangunan Fisik ke Manajemen Kota
Kesenjangan Standar dan Tekanan ModernitasVisi IKN menetapkan standar peradaban perkotaan yang sangat tinggi, mulai dari target 100% akses air minum aman hingga penggunaan energi terbarukan sepenuhnya. Di sini, Banjarmasin menghadapi kesenjangan (gap) infrastruktur dasar yang lebar. Saat ini, akses air minum aman di tingkat nasional masih di angka sekitar 15%, jauh dari target ideal IKN yang menuntut kualitas air minum langsung dari keran.
Demikian pula di sektor sanitasi. Di tengah kondisi geologi rawa yang menyulitkan, akses sanitasi aman kita masih berada di bawah 10%. Ketiadaan pengelolaan air limbah yang terpadu bukan hanya masalah kesehatan, melainkan ancaman bagi ketahanan hunian jangka panjang.
Tanpa intervensi luar biasa melalui modernisasi instalasi pengolahan air dan perluasan jaringan sanitasi terintegrasi, Banjarmasin akan sulit menyelaraskan diri dengan standar kualitas hidup yang dibawa oleh IKN.
Menuju Restorasi "Sponge City" Berbasis Kearifan LokalKeberhasilan IKN sangat bergantung pada ketahanan kota-kota penyangganya. Oleh karena itu, Banjarmasin harus segera melakukan reposisi strategis melalui sinkronisasi Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) 2025-2045 dengan visi besar Nusantara.
Transformasi ini tidak boleh hanya bersifat teknokratis, tetapi harus menyentuh akar kebudayaan. Konsep Sponge City (Kota Spons) yang diusung IKN sebenarnya adalah manifestasi modern dari kearifan lokal rawa Kalimantan. Banjarmasin perlu kembali mengadopsi konstruksi adaptif yang menghormati ekosistem sungai. Revitalisasi sempadan sungai sebagai koridor hijau dan pembukaan kembali sungai-sungai yang buntu adalah langkah darurat yang tidak bisa ditunda lagi.
Pembangunan infrastruktur fisik pun harus memiliki dimensi kebudayaan dan keberlanjutan. Proyek strategis seperti Jembatan Barito 2 tidak hanya berfungsi memecah beban logistik, tetapi harus dirancang sebagai simbol konektivitas yang efisien dan ramah lingkungan.
Modernisasi transportasi melalui integrasi "bus air" dan moda darat berbasis transit (Transit Oriented Development) akan menghidupkan kembali ruh sungai sebagai urat nadi transportasi, sekaligus menekan emisi karbon sesuai visi IKN.
Baca juga: Kunjungan Prabowo ke IKN: Koreksi Desain dan Target Ibu Kota Politik 2028
Digitalisasi dan Keadilan SosialDi sisi lain, tantangan urbanisasi yang dibawa oleh IKN memerlukan tata kelola pemerintahan yang transparan dan digital. Implementasi Smart City melalui Integrated Operations Control Center (IOCC) akan memastikan bahwa Banjarmasin dapat mengelola krisis ekologis secara real-time. Namun, digitalisasi ini tidak boleh meninggalkan literasi masyarakat yang belum merata, agar tidak terjadi marjinalisasi penduduk asli di kawasan-kawasan kumuh.
Target 0% kemiskinan pada tahun 2035 di IKN harus menjadi cambuk bagi Banjarmasin untuk mempercepat penanganan permukiman kumuh melalui pendekatan yang memanusiakan warga. Hunian layak dan terjangkau bagi 100% penduduk adalah prasyarat agar pertumbuhan ekonomi dari multiplier effect IKN dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, dari buruh pelabuhan hingga pelaku UMKM kerajinan lokal.
Banjarmasin tidak boleh sekadar menjadi penonton atau sekadar "gudang logistik" bagi IKN. Kita harus bertransformasi menjadi model kota sungai modern yang tangguh dan inklusif. Perjalanan menuju Indonesia Emas 2045 memerlukan keberanian untuk mengubah paradigma: dari membangun di atas air (urug lahan) menjadi hidup berdampingan dengan air.
Kesejahteraan masyarakat di sekitar IKN hanya akan terwujud jika pembangunan dilakukan dengan nafas berwawasan lingkungan. Dengan menyelaraskan kearifan lokal "Budaya Air" dengan kecanggihan teknologi Smart City, Banjarmasin akan membuktikan bahwa kemajuan peradaban di tanah Kalimantan tidak harus mengorbankan identitas kultural dan kelestarian alamnya. Nusantara yang jaya hanya bisa berdiri kokoh di atas kota-kota penyangga yang memiliki ketahanan ekologis dan kemandirian budaya yang kuat.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang



