PEMIMPIN Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menyerukan tindakan keras “tanpa kompromi” terhadap pihak-pihak yang ia sebut sebagai penghasut, menyusul gelombang unjuk rasa yang mengguncang Iran dalam beberapa pekan terakhir. Dalam pidato yang disiarkan televisi pada Sabtu, Khamenei menuding adanya “konspirasi Amerika” di balik kerusuhan, narasi yang kembali digunakan Teheran saat laporan jumlah korban tewas dan penangkapan masih simpang siur di tengah pembatasan internet.
Aksi protes yang dipicu kemarahan publik terhadap tekanan ekonomi itu sempat berkembang menjadi demonstrasi terbesar terhadap Republik Islam Iran dalam lebih dari tiga tahun. Namun, unjuk rasa dilaporkan mereda setelah penindakan keras yang menurut kelompok hak asasi manusia menewaskan ribuan orang.
“Dengan rahmat Tuhan, bangsa Iran harus mematahkan punggung para penghasut, sebagaimana mereka telah mematahkan fitnah itu sendiri,” ujar Khamenei.
Baca juga : Khamenei Tantang Ancaman Trump di Tengah Gelombang Protes dan Krisis Ekonomi Iran
Ia menegaskan Iran tidak berniat memperluas konflik menjadi perang, tetapi menolak memberi toleransi kepada pihak yang dianggap bertanggung jawab atas kerusuhan. Khamenei menyebut ribuan korban jiwa jatuh selama rangkaian protes.
“Kami tidak berniat menyeret negara ini ke perang, tetapi kami tidak akan mengampuni penjahat di dalam negeri,” katanya.
“Para agen itu membunuh beberapa ribu orang. Sebagian dibunuh dengan cara yang sangat tidak manusiawi… kebiadaban murni,” ucapnya.
Baca juga : Mata Uang Iran Ambruk, Gelombang Protes tak Terbendung
Pemerintah Iran kembali menuding Amerika Serikat dan Israel sebagai dalang di balik gelombang protes. Teheran menilai kedua negara memanfaatkan kemarahan publik terkait ekonomi untuk menjalankan operasi yang “membajak” demonstrasi. Khamenei juga melontarkan kecaman langsung kepada Presiden AS Donald Trump.
“Dia (Trump) bersalah atas korban jiwa, kerusakan, dan tuduhan yang dilontarkannya terhadap bangsa Iran,” kata Khamenei.
“Ini adalah konspirasi Amerika. Tujuan Amerika adalah menelan Iran, mengembalikannya ke dalam dominasi militer, politik, dan ekonomi,” tambahnya.
Meski Washington disebut terlihat menurunkan tensi, Trump menyatakan tidak menutup opsi militer dan mengaku terus memantau situasi, terutama terkait laporan eksekusi terhadap pengunjuk rasa.
Di lapangan, angka penangkapan juga diperdebatkan. Kelompok hak asasi manusia memperkirakan jumlah penahanan mencapai puluhan ribu orang, sebagian laporan menyebut sekitar 20.000. Sementara itu, pejabat keamanan yang dikutip kantor berita Tasnim menyatakan sekitar 3.000 orang telah ditangkap.
Pada Sabtu, otoritas Iran juga mengumumkan pembongkaran jaringan yang mereka sebut sebagai 32 anggota “sekte spionase” Bahai. Sebanyak 12 orang ditahan dan 13 lainnya dipanggil untuk dimintai keterangan.
Kekhawatiran internasional terus meningkat, terutama karena jumlah korban tewas sulit diverifikasi akibat pembatasan internet. Saksi mata yang meninggalkan Iran menggambarkan situasi mencekam. Seorang warga bernama Kiarash, hanya menyebut nama depan demi alasan keamanan, mengaku ditembaki saat aksi protes pada 10 Januari.
“Saya melihat darah, ribuan orang dan ribuan jenazah,” kata Kiarash, yang berhasil keluar ke Jerman.
Kelompok Iran Human Rights (IHR) yang berbasis di Norwegia mencatat setidaknya 3.428 pengunjuk rasa tewas akibat tindakan aparat. Perkiraan lain menyebut korban jiwa melampaui 5.000 orang, bahkan berpotensi mencapai 20.000.
Sementara itu, lembaga pemantau Netblocks melaporkan konektivitas internet Iran masih terputus meski sempat terjadi pemulihan singkat. Pesan singkat di dalam negeri mulai dapat dikirim, tetapi komunikasi dari luar negeri masih kerap terhambat. (AFP/Z-10)





