Jalan Gunung Sahari, Jakarta Utara, yang digenangi banjir jadi tempat bermain dadakan anak-anak di sekitar, pada Minggu (18/1). Mereka berlari bahkan berenang di tengah banjir.
Tampak di lokasi tak ada satu pun kendaraan yang dapat melintas. Kondisi ini pun dimanfaatkan anak-anak tersebut. Mereka tertawa lepas sambil bermain air.
Banjir ini sudah terjadi sejak Minggu dini hari. Seorang warga setempat, Anwar (49), mengatakan air sempat lebih tinggi pada pagi hari.
“Tadi mah kalau subuh sampai pagi, sampai sedengkul lebih lah. Tapi setelah sudah jam segini ya reda, karena sudah disedot, dibuang airnya,” kata Anwar di lokasi.
Menurut Anwar, banjir kali ini merupakan yang tertinggi dibanding hari-hari sebelumnya.
“Ini yang tertinggi. Yang pertama kali enggak. Lumayan lah nggak begitu tinggi. Nah ini tertinggi tadi pagi, parah. Sampai saya juga masuk sedengkul,” katanya.
Meski kondisi ini dinilai cukup berbahaya, terutama bagi anak-anak, kebiasaan bermain di area banjir seolah sudah menjadi pemandangan lumrah.
Slamet (29), warga pendatang yang tinggal di kawasan tersebut, mengaku hal itu sering terjadi, terutama saat hari libur.
“Udah biasa. Kalau hari libur gini udah biasa. Kalau hari kerja biasanya cuma main di luar, itu biasa,” tutur Slamet.
Namun di balik keceriaan itu, kekhawatiran tetap hadir bagi para orang dewasa. Slamet mengaku was-was karena lokasi banjir berdekatan dengan aliran kali.
“Khawatir-khawatir, soalnya di sebelah ada kali,” ucapnya.
“Di sebelah ada kali,” tambahnya menegaskan.
“Kali iya,” lanjutnya.
“Tapi anak-anak begitu, itu ya takut air kotor juga kan, infeksi takutnya,” katanya.
Anwar menilai keselamatan tetap menjadi hal utama. Ia dan warga lain berusaha saling menjaga di tengah kondisi tersebut.
“Yang penting kita sama warga harus saling bantu. Contohnya kalau ada kendaraan yang mogok atau apa, kita bantu. Terus jangan lalui jalan yang banjir. Takutnya, ya segitulah nanti,” kata Anwar.
Menurut Anwar, upaya bersih-bersih belum bisa dilakukan karena air masih terus keluar dari sumber mata air.
“Karena percuma kita bersihin, karena dia kan ada namanya mata air. Kayak saya nih, contoh rumah saya. Dibersihin juga karena dari luapan air itu masuk ke dalam. Jadi nggak bisa dibersihin dulu, paling subuh kering-kering,” jelasnya.
Sementara itu, Slamet menilai hingga saat ini belum terlihat penanganan yang signifikan untuk membuat air benar-benar surut.
“Kalau dari surut enggaknya kan berarti belum. Iya kan? Masuk akal kan? Kalau sudah surut, agak surut 8 cm, 5 cm, berarti kan sudah ada penanganan. Soalnya ini kayak nggak ada penanganan,” ujarnya.
Di tengah genangan yang belum surut, anak-anak tetap bermain tanpa alas kaki, seolah bukan ancaman, melainkan hiburan.
Bagi warga sekitar, pemandangan seperti ini sudah menjadi ironi tahunan. Di satu sisi ada tawa anak-anak yang senang bermain air bersama, di sisi lain kekhawatiran akan keselamatan dan kesehatan terus membayangi.



/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2026%2F01%2F18%2Fbff8fa1a3759bdbcf80b68b36a93e627-IMG_20260118_WA0050.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5476063/original/035206600_1768709629-headerfoto-persbericht.jpg)