TEKANAN eksternal yang kuat diperkirakan masih akan membebani pergerakan nilai tukar rupiah dalam waktu dekat. Pengamat pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah berpotensi melemah hingga level Rp17.100 per dolar Amerika Serikat (AS) pada pekan depan
Menurutnya, berbagai intervensi yang dilakukan Bank Indonesia (BI), serta kebijakan pemerintah sejauh ini belum mampu mendorong penguatan rupiah secara signifikan. Tekanan eksternal yang kuat, kata dia, masih menjadi faktor utama yang menyebabkan pelemahan nilai tukar.
“Mata uang rupiah kemungkinan besar pekan depan berada di kisaran Rp17.100 per dolar AS,” ujar Ibrahim dalam keterangan resmi, Minggu (18/1).
Baca juga : Rupiah Menguat Tipis ke Rp16.851 per Dolar AS pada Kamis 15 Januari 2026
Ia mengingatkan adanya potensi tekanan lanjutan sepanjang tahun ini akibat kondisi geopolitik global, dinamika politik di Amerika Serikat, serta arah kebijakan bank sentral dunia. Faktor-faktor tersebut berpotensi mendorong rupiah melemah hingga Rp17.500 per dolar AS.
“Jika level Rp17.500 terjadi pada kuartal II, maka kemungkinan besar tekanan terhadap rupiah akan berlanjut,” ramalnya.
Ia menilai, meskipun sejumlah indikator ekonomi domestik menunjukkan kinerja yang cukup baik, hal tersebut belum cukup untuk menopang penguatan rupiah. Di sisi lain, pemerintah dinilai perlu kembali menggulirkan berbagai stimulus, khususnya untuk mendorong daya beli masyarakat, agar dapat mendukung stabilitas nilai tukar.
Baca juga : Bank Indonesia: Rupiah Melemah karena Tekanan di Pasar Keuangan Dunia
Dalam kondisi tersebut, Ibrahim juga mendorong pemerintah untuk mulai serius mempertimbangkan kebijakan redenominasi rupiah. Ia menyebutkan, Rancangan Undang-Undang (RUU) redenominasi rupiah berpeluang masuk dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) DPR pada 2026.
Ia menilai, redenominasi menjadi salah satu opsi kebijakan untuk merespons pelemahan rupiah. Dengan kebijakan tersebut, nilai nominal rupiah yang saat ini berada di atas Rp17.000 per dolar AS nantinya akan disederhanakan, sehingga tidak lagi menggunakan angka belasan ribu dalam transaksi.
"Salah satu cara untuk menahan rupiah melemah itu adalah redenominasi rupiah," pungkasnya.
Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa optimistis nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) akan segera menguat dalam waktu dekat. Keyakinan tersebut didasarkan pada membaiknya fundamental ekonomi nasional serta mulai masuknya kembali aliran modal asing ke pasar keuangan domestik.
Pada penutupan perdagangan Jumat (16/1), rupiah tercatat melemah 0,05% ke level Rp16.887 per dolar AS.
“Saya melihat fondasi ekonomi kita akan terus membaik. Ini akan menguat dua minggu ke depan,” ucap Purbaya di Jakarta, Rabu (14/1).
Ia menegaskan stabilitas nilai tukar merupakan tanggung jawab utama Bank Indonesia sebagai otoritas moneter.
Pemerintah, katanya, terus berkoordinasi dengan bank sentral agar kebijakan yang ditempuh tetap sejalan dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan kepercayaan pasar terhadap rupiah.
"Rupiah itu memang urusan bank sentral, tugas utama Bank Indonesia adalah menjaga stabilitas nilai tukar," kata Bendahara Negara.
Purbaya menegaskan penguatan nilai tukar rupiah seharusnya terjadi secara alami seiring membaiknya fundamental ekonomi nasional. Dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diperkirakan mengarah ke kisaran 6% pada tahun ini, Indonesia dinilai semakin menarik di mata investor global.
Ia juga optimistis aliran dana asing mulai kembali masuk ke pasar modal Indonesia, yang menjadi sinyal positif bagi stabilitas nilai tukar rupiah. Menurutnya, modal asing cenderung mengalir ke negara yang menawarkan prospek pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.
“Kalau investor sudah yakin, rupiah akan menguat karena arus modal masuk. Uang orang Indonesia yang selama ini disimpan di luar negeri juga akan kembali karena mereka melihat peluang bisnis di dalam negeri,” ujarnya.
Purbaya menambahkan, dengan pengelolaan yang tepat, penguatan rupiah tidak sulit untuk diwujudkan. Karena itu, ia meminta masyarakat tidak perlu panik.
“Kalau dikendalikan dengan benar, tidak terlalu sulit untuk mengembalikan rupiah. Jadi masyarakat tidak perlu panik, rupiah akan segera menguat dalam waktu dua minggu ke depan,” tegasnya. (H-4)




