Menurut Indro, kegagalan Tim Nasional lolos ke Piala Dunia setelah keputusan mengganti Shin Tae-yong dengan Patrick Kluivert telah memicu kekecewaan luas di kalangan publik sepak bola nasional. Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan hasil di lapangan, tetapi juga menyangkut kepercayaan terhadap kepemimpinan dan arah kebijakan federasi.
“Minimnya narasi dan komunikasi publik dalam penunjukan John Herdman bisa dibaca sebagai upaya PSSI untuk menghindari eskalasi tuntutan dan kemarahan publik yang hingga kini belum sepenuhnya reda. Terlebih, tekanan terhadap Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, semakin kuat pasca kegagalan tersebut,” ujar Indro.
Ia menilai sikap Erick Thohir yang memilih tidak banyak memberikan pernyataan dalam momen penting ini menunjukkan pendekatan defensif. “Biasanya Pak Erick sangat aktif membangun narasi. Kali ini beliau justru memilih diam. Ini bisa dimaknai sebagai langkah untuk meredam kritik dan desakan mundur yang memang semakin menguat,” lanjutnya. Baca juga: John Herdman Dihadapkan dengan Tekanan Besar di Indonesia Indro menambahkan, penunjukan pelatih tanpa seremoni besar seolah ingin menghindari beban ekspektasi baru sekaligus menjauh dari sorotan publik atas keputusan-keputusan sebelumnya. Namun, pendekatan tersebut menurutnya menyimpan risiko tersendiri.
“Ketenangan komunikasi tidak boleh dimaknai sebagai upaya menghindar dari evaluasi dan tanggung jawab. Publik sepak bola berhak mengetahui arah besar Tim Nasional, proses pengambilan keputusan strategis, serta jaminan bahwa kesalahan yang sama tidak kembali terulang,” tegasnya.
PSTI, kata Indro, akan tetap memberikan dukungan kepada Tim Nasional dan pelatih baru secara kritis dan konstruktif. Namun ia menekankan bahwa transparansi dan keberanian PSSI untuk berkomunikasi secara terbuka dengan publik merupakan kunci untuk memulihkan kepercayaan suporter.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(KAH)



