Bisnis.com, JAKARTA — Tekanan di segmen UMKM diperkirakan masih akan berlanjut pada tahun ini, imbas ketidakpastian geopolitik global dan permintaan pembiayaan yang belum sepenuhnya pulih.
Direktur Utama Permata Bank Meliza M. Rusli menyampaikan, kendati tekanan di segmen ini masih akan berlanjut pada 2026, Permata Bank tetap optimistis terhadap potensi pertumbuhan UMKM, didukung oleh regulasi baru dan digitalisasi proses kredit.
“Bank tetap optimistis terhadap potensi pertumbuhan UMKM,” kata Meliza kepada Bisnis, dikutip pada Minggu (18/1/2026).
Di tengah kondisi ini, Permata Bank telah menyiapkan strategi dalam menyeleksi debitur. Meliza menuturkan, bank akan menerapkan strategi prudent growth dengan fokus pada segmen mikro dan UMKM yang memiliki rekam jejak digital.
Selain itu, perseroan juga akan memanfaatkan Innovative Credit Scoring (ICS), serta kolaborasi ekosistem untuk memperkuat rantai pasok UMKM.
Dia menambahkan, Permata Bank telah mempersiapkan sejumlah strategi untuk dapat berkontribusi menghidupkan kembali pertumbuhan domestik dan memperkuat ketahanan ekonomi.
“Permata Bank dan Bangkok Bank berkomitmen untuk mendukung nasabah menghadapi tantangan dan menangkap peluang, melalui wawasan, solusi, dan konektivitas di seluruh Asean,” tuturnya.
Senada, Direktur Risiko, Kepatuhan, dan Hukum Allo Bank Ganda Raharja Rusli memperkirakan tekanan di segmen ini masih akan berlanjut pada 2026.
Menurut dia, risiko segmen UMKM cukup merata di seluruh sektor industri, baik sektor UMKM konsumsi seperti makanan maupun sektor UMKM produksi yang menjadi bagian ekosistem pelaku usaha yang lebih besar.
Kendati demikian, Ganda menilai peluang usaha cukup terbuka lebar terutama UMKM yang mendukung industri besar yang tengah berkembang.
“LJK wajib memiliki strategi filtering yang baik dan monitoring usaha sangat diperlukan untuk menghadapi dan keseimbangan peluang dan risiko tersebut,” jelas Ganda kepada Bisnis.
Sebaliknya, Direktur Retail Banking BSI Kemas Erwan Husainy melihat peluang besar bagi UMKM untuk rebound, didorong oleh stabilitas ekonomi yang membaik.
“Strategi utama BSI adalah masuk ke dalam ekosistem [ecosystem based financing],” ungkap Kemas kepada Bisnis.
Dia mengungkapkan, BSI tidak lagi menyasar debitur satu per satu secara acak, melainkan masuk melalui rantai pasok (value chain) industri halal, pesantren, hingga komunitas.
“Faktor risiko tetap ada, namun kami memitigasinya dengan digitalisasi proses bisnis dan scoring yang lebih akurat,” katanya.
Sebagai gambaran, kredit UMKM pada November 2025 turun makin dalam, didorong oleh kredit skala mikro dan menengah yang mengalami kontraksi.
Berdasarkan laporan Perkembangan Uang Beredar yang dirilis Bank Indonesia (BI), penyaluran kredit kepada UMKM mencapai Rp1.493,8 triliun pada November 2025, atau terkontraksi sebesar 0,7% secara tahunan (year-on-year/YoY), setelah mengalami kontraksi sebesar 0,1% YoY pada Oktober 2025.
“Penyaluran kredit kepada UMKM pada November 2025 terkontraksi sebesar 0,7% YoY,” tulis BI dalam laporannya.
Otoritas moneter itu mengungkapkan bahwa penurunan kredit UMKM ini didorong oleh kredit skala mikro dan menengah yang masing-masing mengalami kontraksi sebesar 5,5% YoY dan 0,6% YoY.
Pada Oktober 2025, kredit skala mikro dan menengah juga tercatat menurun, masing-masing turun sebesar 4,3% YoY dan 1,4% YoY. Sementara itu, kredit UMKM pada skala kecil mencatatkan pertumbuhan.
Di sisi lain, pada November 2025 kredit UMKM pada skala kecil mencapai Rp526,9 triliun tumbuh 5,9% YoY. Kendati begitu dibandingkan dengan bulan sebelumnya, kredit UMKM pada skala kecil tumbuh melambat dari Oktober 2025 yang tumbuh 6,4% YoY.
Menurut jenis penggunaan, BI mencatat bahwa kontraksi kredit UMKM pada November 2025 dipengaruhi oleh Kredit Modal Kerja, yang terkontraksi sebesar 4,1% YoY.




