FSI Bahas Gaya Hidup Rebahan sebagai Bagian Dinamika Sosial Tiongkok

viva.co.id
2 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Fenomena gaya hidup santai yang dikenal dengan istilah tangping atau “rebahan” semakin banyak dibicarakan dalam dinamika sosial masyarakat Tiongkok. Istilah ini merujuk pada pilihan sebagian warga, terutama generasi muda dan kelas menengah, untuk menarik diri dari tekanan kerja dan kompetisi yang ketat.

Fenomena tersebut disoroti oleh sinolog Prof. Dr. Pal Nyiri dalam seminar bertajuk From Taojin To Tangping: Southeast Asia, Chinese Migration, and the Waves of China’s Re-globalisation. Seminar ini diselenggarakan oleh Forum Sinologi Indonesia (FSI) bekerja sama dengan Program Pascasarjana Ilmu Sosial Politik Universitas Pelita Harapan (UPH) di Jakarta.

Baca Juga :
Agenda Lain Changan di Tengah Gempuran Mobil Listrik
Uni Eropa Bakal Larang Barang Buatan China di Infrastruktur Penting, Ini Penyebabnya!

Menurut Nyiri, tangping tidak dapat dilepaskan dari perubahan sosial dan ekonomi yang terjadi di China dalam beberapa dekade terakhir. Gaya hidup ini muncul sebagai respons terhadap tekanan hidup di kota-kota besar yang ditandai oleh persaingan kerja tinggi, biaya hidup mahal, dan tuntutan produktivitas yang berkelanjutan.

Dalam pemaparannya, Nyiri menjelaskan bahwa sebagian masyarakat memilih meninggalkan kota besar dan berpindah ke kota-kota kecil dengan tekanan hidup yang lebih rendah. Namun, ada pula kelompok yang memilih opsi migrasi ke luar negeri untuk mendapatkan kualitas hidup yang dianggap lebih nyaman.

Fenomena tangping juga berkaitan dengan dinamika migrasi baru asal China yang dikenal dengan istilah xinyimin. Migrasi ini tidak semata-mata didorong oleh motif ekonomi, tetapi juga oleh keinginan membangun kehidupan sosial dan keluarga yang lebih seimbang.

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UPH, Prof. Edwin M. B. Tambunan, menilai bahwa gaya hidup rebahan mencerminkan perubahan sikap terhadap definisi kesuksesan. “Kaum rebahan ini menolak untuk bekerja sangat keras demi meningkatkan taraf hidup dan kelas sosial mereka, tetapi justru melakukan resistensi diam-diam terhadap narasi dominan mengenai produktivitas dan progres,” ujarnya.

Prof. Nyiri menambahkan bahwa sejak era reformasi ekonomi yang dimulai pada 1978, hubungan antara negara dan masyarakat di Tiongkok terus mengalami dinamika. Dalam konteks tersebut, tangping dipandang sebagai salah satu bentuk penyesuaian sosial terhadap realitas ekonomi dan politik yang dihadapi masyarakat.

Baca Juga :
Bos BYD Ungkap Posisi Indonesia di Peta Investasi Global
Trump: Denmark Tak Bisa Diandalkan Lindungi Greenland dari Ancaman China dan Rusia
Mobil Listrik Murah Ini Siap Tantang Harga Mobil China

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Anies Baswedan: 97 Persen Kerusakan Hutan di Indonesia Ternyata Legal
• 6 jam lalukompas.tv
thumb
Takluk dari Everton, Aston Villa gagal pangkas jarak dengan Arsenal
• 20 menit laluantaranews.com
thumb
Pengembalian Dana TKD Aceh, Sumut, dan Sumbar Tak Cukup Pulihkan Daerah Pascabencana
• 9 jam lalukompas.id
thumb
Banjir Genangi Jakarta Utara, Pemkot Optimalkan Mesin Pompa Penyedotan Air
• 10 jam lalukompas.tv
thumb
Dulu Tentara Sekarang Jadi Bos Startup Bernilai Ratusan Miliar
• 5 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.